Connect with us
Memahami Definisi, Genre dan Potensi Film Horor

Entertainment

Memahami Definisi, Genre dan Potensi Film Horor

Film horor sebagai genre yang luas, tak melulu tentang hantu.

Film horor merupakan salah satu genre film paling populer dengan cangkupan tema yang luas. Menonton film horor kerap dijadikan sebagai ‘wahana’ seram yang seru ketika ke bioskop. Menjadi kesempatan yang memberikan rasa aman bagi para penonton layaknya simulasi situasi yang mengerikan. Mulai dari skenario hantu dengan balas dendam yang gentayangan, hingga teror pembunuh berantai yang sadis. 

Selain media hiburan adrenalin, film horor juga berkembang sebagai medium karya visual dengan nilai seni tinggi. Dengan penulisan naskah berkualitas, produksi maksimal, dan ide yang original, film horor masa kini juga banyak yang bersaing di ajang perhargaan bergengsi.

Di Indonesia sendiri, film horor menjadi komoditi paling laris di industri hiburan komersial. Jika film horor cenderung ramai di Hollywood mendekati Oktober yang identik dengan Halloween, di Indonesia film horor selalu ada yang baru di bioskop sepanjang tahun. Lepas dari kualitasnya yang beneran bagus atau sekadar film horor dengan naskah bikin penonton bingung.

Jika di Indonesia, film horor identik dengan hantu dan tema-tema supranatural lainnya. Sebetulnya, apa definisi dan karakteristik film horor sesungguhnya?

Genre Film Horor

Definisi dan Kriteria Film Horror

Sebelum mengeksplorasi cangkupan genre horor yang sebetulnya sangat luas, mari cari tahu dulu apa definisi dari ‘horor’ itu sendiri. Menurut Annette Kuhn dan Guy Westwell dalam “A Dictionary of Film Studies” (2012), horor adalah genre film yang berusaha untuk menimbulkan perasaan takut dan jijik pada penontonnya dengan tujuan menghibur.

Film horor merupakan representasi dari tema yang membuat penontonnya merasa tidak nyaman, tema yang gelap, agar penontonya merasakan teror, kaget, dan ketegangan. Kata ‘horror’ berasal dari bahasa Prancis Kuno, ‘orror’, yang memiliki arti ‘untuk membuat gemetar’ atau ‘untuk membuat merinding’.

Dengan referensi definisi horor yang sesungguhnya tersebut, kita bisa menarik kesimpulan bahwa yang utama dari ‘horor’ adalah reaksi yang diterima oleh penonton ketika menonton suatu film. Apakah filmnya menimbulkan perasaan takut, ngeri, jijik, kaget, dan teror? Dengan begitu, film apa saja bisa dikategorikan sebagai horor asal berhasil membuat penontonnya ketakutan.

Jadi ‘horor’ bukan berarti hantu atau melulu tentang fenomena supranatural. Karena ada banyak sumber ketakutan yang bisa dikembangkan menjadi film horor dengan definisi tersebut.

Sub Genre Film Horor yang Luas dan Menarik untuk Dieksplorasi

Jika horor memiliki definisi yang sangat umum seperti demikian, maka cangkupan horor sangat luas dan tidak terbatas. Ada banyak sekali sub genre film horor yang sebetulnya bisa dieksplorasi oleh sineas maupun penikmat film. Mungkin ada dari kita yang tidak mudah merasa takut dengan horor supranatural dengan hantu dan jumpscare. Namun, merasa tidak nyaman dan mual ketika menonton film horor dengan konten yang sadis seperti torture horror atau cannibalism theme.

Horror on Screen menciptakan bagan yang menjelaskan berbagai sub genre horor dengan sempurna. Berikut bagan sub genre horor yang telah diperbarui juga oleh Simple Film Reviews. 

definisi dan genre film horror

Dari bagan tersebut, kita bisa melihat bahwa yang membedakan setiap sub genre dalam film horor adalah sumber ketakutan yang menjadi tema utama film.

  • Paranormal: Horror paranormal merupakan tema yang paling familiar dalam skena ini. Segala film yang mengandalkan hantu, iblis dan malaikat, fenomena supranatural, latar rumah berhantu, dan seputar sekte dengan elemen magis. Inilah sub-genre yang paling sering diangkat jadi film oleh sineas lokal. Mulai dari film yang terbaru seperti “Ivanna”, “Pengabdi Setan”, “KKN di Desa Penari”, dan masih banyak lagi.  
  • Gore & Disturbing: Film horor dengan tema ini memiliki tujuan untuk menimbulkan rasa ketakutan dan jijik pada penonton melalui visual yang ekstrem dan sadis. Identik dengan penyerangan yang brutal dan cipratan darah serta organ tubuh. Bisa dari kisah yang plotnya diisi dengan sekuen metode penyiksaan yang sadis seperti ‘Saw’ franchise. Hingga film horor bertema kanibal seperti “The Silence of the Lamb”  dan “Raw”
  • Psychological: Sub genre satu ini identik sebagai genre film horor yang lebih berkelas. Karena memiliki sumber ketakutan dengan referensi ilmu psikologi mental manusia. Mulai dari phobia, kesehatan mental, paranoia, dan situasi tertentu seperti isolasi dan semesta distopia. Contohnya seperti “The Shining”, “Rosemary’s Baby”, dan “Hush”
  • Killer: Manusia dengan kemampuan menyakiti kerap menjadi subyek yang lebih menakutkan dari hantu. Horror slasher termasuk dalam kategori ini, dimana identik dengan karakter bertopeng yang membabi buta membunuh karakter satu per satu. Horor dengan plot investigasi kriminal seperti “Seven” dan survival horror seperti “Don’t Breathe” juga masuk dalam sub genre satu ini. 
  • Monster: Sumber ketakutan juga bisa muncul dari berbagai monster mengerikan dalam film horor. Mulai dari zombie, vampir, binatang buas, alien, dan masih banyak lagi monster fiktif ciptaan penulis naskah atau diadaptasi dari cerita rakyat. Contoh film horor monster terbaik diantaranya, “Jaws”, “Alien”, “Night Of the Living Dead”, dan “A Quiet Place”.

Sebetulnya jika ingin mengupas berbagai sub genre horror tidak akan ada habisnya. Karena seiring berkembangnya zaman, kita semakin banyak menemukan sumber ketakutan yang bermacam-macam. Berikut beberapa genre yang menarik untuk dipahami definisinya. 

  • Body Horror: Film horor yang menggunakan tubuh manusia sebagai objek percobaan tidak bermoral yang menjadi sumber kengerian. Tema ini bisa dimasukan dalam kategori gore horror. Contohnya film seperti “Human Centipede”, “Teeth”, “American Mary”, dan yang terbaru “Crime of the Future”. Film torture horror dan cannibalism juga bisa masuk dalam kategori ini tergantung konsep utamanya. 
  • Horror Romance: Hubungan asmara terkadang juga bisa menjadi sumber dari kegelisahan dan ketakutan. Apalagi isu pasangan posesif, abusive, dan toxic sedang ramai. Film seperti “Rebecca”, “Fear”, “Posesif” dan yang sedang fenomenal, “Don’t Worry Darling” merupakan beberapa contoh dari sub genre ini. 
  • Sci-Fi Horror: Genre satu ini merupakan yang paling menarik dilihat perkembangannya di masa depan. Tak melulu tentang alien, teknologi juga bisa menjadi sumber ketakutan yang baru. Contoh film sci-fi horror adalah “Annihilation”, “Cam”, “Ex Machina”, dan “Bandersnatch”. Genre ini juga bisa bersinggungan dengan kategori horor monster dan horor psikologi.

Mengapa Film Horor Indonesia Selalu Tentang Hantu dan Peristiwa Paranormal?

Setelah dieksplorasi, ternyata horor memiliki definisi yang umum dan cangkupan yang sangat luas. Bahkan memiliki potensi untuk terus berkembang dari kedepannya. Meski industri perfilman Indonesia sudah seperti pabriknya film horor, nyatanya katalog kita dari dulu masih sama saja dan tidak terlalu banyak variasi subgenre horor.

Film horor Indonesia selalu tentang hantu lokal, arwah penasaran yang ingin balas dendam, family horror, rumah berhantu, pokoknya selalu hal-hal berbau klenik dan paranormal. 

Hal ini karena masyarakat Indonesia masih menjunjung tinggi kepercayaan, keberadaan Tuhan yang Maha Esa, serta makhluk mistis seperti jin dan setan yang juga kita yakin merupakan bagian dari ciptaan-nya. Istilah seperti pamali dan kutukan yang bersifat supranatural juga masih berlaku dalam kehidupan kita. Oleh karena itu, materi horor seperti demikian masih relevan. Ketika masih relevan, maka masih bisa memanipulasi penonton untuk merasakan ketakutan.

Genre Film Horor Indonesia

Sebetulnya sudah ada film horor Indonesia bukan tentang hantu yang patut ditonton. Seperti “Rumah Darah” sebagai film torture horror yang sadis, serta “Modus Anomali” dan “Pintu Terlarang” yang lebih kental dengan nuansa psikologikal karya Joko Anwar. 

Hal serupa juga masih berlaku di skena horor Asia seperti film horor Jepang, Thailand, dan Korea. Negara-negara Asia memang masih kental dengan kebudayaan yang juga menyimpan berbagai cerita menyeramkan.

Berbeda dengan Hollywood, film horor seperti “The Conjuring” dan “Insidious” tidak memiliki dampak yang besar untuk memengaruhi penonton barat. Mungkin hanya kaget dan kengerian sesaat, tidak akan sampai menghantui mereka sesampainya di rumah. Namun film horor dengan tema home invasion, pembunuh berantai, dan praktek sekte menjadi sumber horor yang ampuh untuk penonton barat. Karena tindakan kriminal serupa cukup sering ditemukan di sana dan dianggap lebih menakutkan daripada hantu yang hanya roh. 

Jadi, horor tidak selalu tentang hantu, ya. Sebetulnya ada banyak sekali sub genre yang seru untuk kita eksplorasi lagi. Karena sumber ketakutan bisa datang dari mana saja, dalam berbagai skenario situasi. Semoga perfilman Indonesia kedepannya menghasilkan film horor yang lebih variatif lagi.

Big Night! Big Night!

Big Night! Review: Tragicomedy yang Merekam Realitas Sosial Kaum Miskin Filipina

Film

Apakah James Bond Harus Selalu Kulit Putih?

Culture

avatar remastered 2022 avatar remastered 2022

Avatar Review: Masih Relevan untuk Penonton Masa Kini

Film

The Outsider Review The Outsider Review

10 Film Hollywood dengan Estetika Jepang

Cultura Lists

Connect