"One Battle After Another" telah mengamankan tempatnya dalam sejarah sinema sebagai epik paling penting di pertengahan dekade ini.
Kejeniusaan yang dipaksa tumbuh terlalu cepat, sering layu sebelum sempat hidup.
Tiga film ini seperti tiga pengakuan dosa manusia yang ingin jadi Tuhan.
Reboot ambisius yang lebih sibuk memuja warisan lama daripada membangun teror baru yang relevan.
Film aksi terbaik tidak lahir dari kepatuhan pada template, melainkan dari keberanian menantangnya
Death Wish bukan hanya tentang senjata dan balas dendam.
Di tengah debu dan darah, film ini menawarkan hiburan lurus ke depan.
Tiga dekade setelah perilisannya, Dances with Wolves tetap relevan.
Film ini bukan tentang medan tempur, melainkan tentang kehilangan yang menetap lama setelah perang dinyatakan selesai.
Bagaimana Natal digambarkan dalam film horor?
Drama psikologis yang tajam dalam niat, namun ragu melangkah lebih jauh dari observasi dingin atas rasa bersalah.
Film bencana yang megah secara visual, namun goyah ketika harus menyelami kedalaman manusia dan gagasannya sendiri.
Jangan pernah terpikat. Jangan pernah meminta maaf. Jangan pernah membuat janji.
Kisah petualangan anak-anak jalanan yang bertransformasi menjadi kritik sosial penuh ketegangan dan empati.
Thriller psikologis yang menantang batas etika dan memaksa penonton menghadapi pertanyaan paling gelap tentang keamanan dan kemanusiaan.
Ketika teori konspirasi bertemu realita kejam.
Studi karakter yang membongkar kegelisahan urban dan kekosongan moral Amerika pasca perang.
Final chapter musikal epik yang menggabungkan kemegahan visual dan kedalaman emosional.
Kisah petinju wanita legendaris yang bangkit dari kekerasan dan stigma melalui pukulan keras dan keberanian.
"The Insider" adalah pengingat bahwa kebenaran, betapapun kecilnya, selalu punya harga.
Seperti dentuman “The Heat Is On”, film ini terus terasa panas, bahkan setelah empat dekade berlalu.
Aatami kembali, lebih brutal, lebih sunyi, lebih tak terhentikan.
Keajaiban sulap dan pengkhianatan masa kini di tangan Horsemen lama dan generasi baru.
Coming-of-age yang jujur, memilukan, dan tetap hangat setelah lebih dari tiga dekade.
Reinterpretasi liar dan elegan yang menggabungkan tradisi chanbara dengan sensibilitas modern Kitano.
Drama humanis yang membangkitkan empati melalui realisme dan kejujuran tanpa kompromi.