Film

Ivanna Review: Kembalinya Slowburn Horror Nuansa Lokal Kuno

Tidak terlalu mengandalkan pakem jumpscare, ‘Ivanna’ berhasil hadirkan sensasi horor slowburn dengan nuansa lokal kuno.

Bagi penikmat sinema horor Indonesia, ‘Danur’ merupakan salah satu semesta film yang tergolong populer saat ini. Popularitasnya ini mendorong hadirnya beragam spin-off yang berkaitan dengan elemen supernatural penting dalam film-film utamanya. Setelah sukses dengan ‘Asih’ dan sekuelnya beberapa waktu lalu, muncullah ‘Ivanna’ yang menjadi sempalan ketiga dalam semesta adaptasi karya ternama Risa Saraswati.

‘Ivanna’ merupakan film horor terbaru produksi MD Pictures yang tergabung dalam semesta sinema ‘Danur’. Film ini sekaligus menjadi judul keempat yang disutradarai oleh Kimo Stamboel setelah ‘Bunian’, ‘Dreadout’, dan ‘Ratu Ilmu Hitam’ beberapa tahun lalu.

Dibintangi oleh Caitlin Halderman, Jovarel Callum, dan Sonia Alyssa, film ini menceritakan kisah Ambar dan Dika, kakak-adik yang mulai tinggal di panti wredha milik kerabat mendiang orang tuanya. Akan tetapi, perayaan tersebut harus terusik ketika hantu tanpa kepala menyerang penghuni panti tersebut.

Secara narasi, tak ada yang benar-benar spesial dari ‘Ivanna’ ini. Layaknya ‘Asih’ dan ‘Asih 2’, film arahan Kimo Stamboel ini membawa cerita yang berkaitan dengan teror dari sosok yang pertama kali diperkenalkan pada ‘Danur 2: Maddah’ tersebut. Tidak ada elemen cerita yang terasa penting di dalamnya, terkecuali dari rentetan flashback sebagai pembangun lore dari sang hantu berketurunan Belanda tersebut.

Hal menarik dalam ‘Ivanna’ ini terletak dari penempatan flashback yang terasa seamless dengan main plot, memberikan sensasi cerita layaknya seri film ‘Ju-On’ asal Jepang. Elemen tersebut yang setidaknya dapat membawa penonton lebih engaged ketika menikmati sajian horornya, walau cerita utamanya terasa sangat hambar dan ditutup pula dengan konklusi yang seakan mengabaikan motif utama dari sang Ivanna.

Sorotan utama tentunya hadir dari elemen horor yang diusung Kimo Stamboel dalam ‘Ivanna’. Alih-alih benar-benar bergantung pada jumpscare yang semakin membosankan dan predictable, teknik atmospheric horror yang sesungguhnya ingin ditonjolkan bersamaan dengan build-up yang memberikan kesan bahwa teror sesungguhnya hadir di sekitar para karakter. Munculnya elemen tersebut yang membawa penonton dalam nuansa menegangkan sepanjang film, tanpa seakan dipaksa untuk ketakutan dengan penampakan yang jor-joran di depan mata.

Dari segi teknis juga cukup mampu menutup segala kekurangan dalam narasinya dan membangun momen-momen horor di dalam ‘Ivanna’. Permainan kamera yang cenderung steady, color tone yang terlihat cool, serta scoring yang terasa pas tersebut berhasil membuat penonton ikut merasakan segala kengeriannya. Meski begitu, hadirnya CGI pada beberapa titik masih terasa kurang halus dan cukup mengurangi overall experience dalam menikmati film horor lokal penuh potensi ini.

‘Ivanna’ sejatinya adalah film horor Indonesia yang memiliki potensi untuk mendobrak pakem jumpscare bernuansa lokal kuno. Meski tampak superior melalui slowburn horror dan teknisnya, film ketiga Kimo Stamboel ini masih terasa kurang dari narasinya yang seakan hadir sebagai pelengkap semata.

Galih Dea

Bachelor of Computer Science with interest in content writing. Passionate in movie, game, and technology.

Share
Published by
Galih Dea