Connect with us
hubungan toxic
Fear (1996)

Current Issue

Posesif & Fear: Dua Perspektif Dalam Hubungan Toxic Remaja

Memahami bagaimana seseorang terjebak dalam hubungan toxic dan bagaimana mengantisipasinya.

Cinta merupakan hal yang kerap mewarnai masa remaja. Dalam fase kehidupan inilah kita mulai mengenal cinta dengan segala hasrat dan kompleksitasnya. Dimana kita menemukan cinta pertama hingga mengalami banyak hal untuk pertama kalinya ketika cinta kita berbalas, menjalin hubungan yang lebih dari sekadar teman.

Ada banyak film drama romansa dengan latar kehidupan remaja. Banyak yang mengeksekusi skenario romantis dengan plot yang melankolis, secara maksimal mengeksplorasi hal yang manis-manis saja ketika sepasang remaja berpacaran.

Meski tidak mendominasi katalog, ada beberapa film romansa remaja yang lebih memilih sentuhan thriller dalam naskah. Dua judul yang seru untuk disandingkan untuk menganalisa hubungan toxic dalam berpacaran adalah “Posesif” (2007) dan film thriller Hollywood klasik, “Fear” (1996).

Menurut Very Well Mind, hubungan toxic adalah hubungan yang membuat pihak bersangkutan merasa direndahkan, di-salah-pahami, dibuang, hingga diserang. Baik secara fisik maupun mental. Dalam hubungan yang seharusnya memberikan kebahagian dan dukungan, kita justru merasa dikontrol dan terkekang. Diawali dengan baik atau salah, pada akhirnya hubungan ini didasari oleh cinta, satu hal yang membuat pihak yang terlibat terjebak dan merasa kesulitan untuk meninggalkan pasangan.

Bagi beberapa dari kita yang tidak pernah mengalami kerumitan hubungan toxic, mungkin kerap melontarkan pernyataan, ‘sudah jelas tidak bahagia, kenapa tidak putus saja?’, atau ‘kalau aku nggak mungkin terjebak dalam hubungan toxic. Namun, ini bukan tentang kita, ini tentang mereka yang sudah terlanjur terjebak dalam situasi tersebut.

Ketika menghadapi fenomena seperti ini, ada baiknya kita tidak melihat melalui perspektif kita sendiri. Kita harus mau memahami perspektif pihak yang sedang mengalami kesulitan. Melalui “Posesif” kita akan mencoba melihat bagaimana perspektif sepasang remaja yang terjebak dalam hubungan toxic. Sementara “Fear” bisa menjadi pelajaran parenting dalam mengawasi anak remaja mereka agar tidak terjerumus dalam hubungan yang hanya akan menjerat mereka.

(Spoiler Alert!)

Lala dan Yudhis, Sepasang Remaja yang Dimabuk Cinta

“Posesif” merupakan film drama percintaan remaja dengan twist yang tidak semanis posternya. Bagi Lala (Putri Marino), kesempatan ini merupakan pengalaman berpacaran pertamanya, sementara Yudhis (Adipati Dolken) ingin hubungan mereka menjadi yang terakhir untuk selamanya. Diawali dengan pertemuan yang manis dan romantis seperti film teenlit pada umumnya, kisah cinta yang ditulis oleh Gina S. Noer ini semakin berkembang menjadi skenario menggelisahkan dan toxic.

Ada masanya kita dimabuk cinta di bangku SMA, merasa bahwa apa yang kita miliki saat itu memiliki takdir untuk selamanya. Karena cinta pada dasarnya memang pengalaman paling indah dalam fase hidup manusia. Merasakan untuk pertama kali akan terasa begitu indah seperti tak akan ada pengalaman cinta berikutnya. Kurang lebih begitulah yang dirasakan oleh Lala dan Yudhis.

Lala adalah atlet lompat indah. Sebelum berpacaran dengan Yudhis, waktu luangnya dihabiskan untuk berlatih. Lala juga bukan atlet nomor satu, ayahnya sebagai pelatih pun tidak memberikan posisi tersebut pada anaknya. Meski demi profesionalisme, hal tersebut juga mempengaruhi hubungan Lala dengan ayahnya. Secara keseluruhan, Yudhis menawarkan kebahagian yang lebih dari situasi biasa-biasa saja yang telah dimiliki Lala.

Meski tidak pernah diungkapkan, Yudhis telah menjadi sosok penyelamat bagi Lala dengan rutinitasnya yang membosankan. Begitu pula Yudhis yang memiliki latar belakang misterius dari awal. Ia juga dibesarkan oleh orang tua tinggal, ibunya, tidak benar-benar memiliki hobi seperti Lala, hanya membuat dirinya semakin tidak punya hal lain untuk dipikirkan selain hubungannya dengan Lala.

Banyak dari kita mungkin beranggapan bahwa dalam “Posesif” karakter yang tidak beres adalah Yudhis. Kebenarannya adalah baik Lala maupun Yudhis sebetulnya sama-sama posesif dan sama-sama punya masalah pada latar belakang mereka.

Mengamati Andil Orang Tua Lala dan Yudhis

Perang kedua orang tunggal Lala dan Yudhis sebetulnya menjadi faktor yang ambil andil besar dari perkembangan keduanya sebagai remaja sekaligus pasangan. Semenjak ibunya meninggal, Lala hanya tinggal bersama ayahnya. Namun, waktu mereka berdua pun sebagian besar dihabiskan di stadium renang. Dimana keduanya tidak menghabiskan waktu sebagai ayah dan anak, melainkan pelatih dan atlet.

Meski tidak ditelantarkan atau mengalami kekerasan, Lala tidak merasa kehangatan dan kasih sayang orang tua setelah ibunya tiada. Konflik pertama Lala dan ayahnya pecah ketika Lala lebih bahagia menghabiskan waktu dengan Yudhis, daripada menjadi atlet nomor dua di mata ayahnya.

Tidak banyak hal yang kita ketahui tentang keluarga Yudhis, selain Ia hanya tinggal bersama ibunya dan bisa dibilang dari keluarga kaya. Berbeda dengan Lala, Yudhis tak hanya mengalami kehampaan di rumahnya, Ia juga mengalami kekerasan dari ibunya yang frustasi setelah ditinggal oleh suaminya, ayah Yudhis. Hubungan Yudhis dengan ibunya lebih kompleks dan toxic. Lala sendiri mengatakan bahwa Yudhis tak akan tumbuh normal jika terus bersama dengan ibunya. Faktor ini juga menciptakan penokohan Yudhis tampak lebih posesif dan problematik dari Lala. Padahal keduanya dalam situasi yang cukup serupa.

Sebelum menemukan kenyamanan dari orang lain, seorang anak harus mendapatkan kenyamanan di rumahnya sendiri. Dengan begitu, ketika mereka jatuh cinta dan mendapatkan ‘cinta’ yang tidak seperti Ia dapatkan dari keluarganya, mereka memiliki alarm sendiri untuk mendeteksi hubungan toxic. Karena ketika seorang anak mencari kenyamanan di luar keluarga, lebih besar risikonya untuk jatuh pada situasi yang tidak memberikan kebaikan tulus dan sehat. Keluarga adalah lingkungan pertama dimana anak mempelajari cinta sejati dan hubungan yang sehat. Jika keluarga gagal memberikan hal tersebut, peluang skenario pacaran toxic yang dialami oleh Lala dan Yudhis akan lebih besar terjadi dalam situasi tertentu.

Steve Walker, Ayah Siaga dengan Tekad Besar untuk Melindungi Putrinya

“Fear” memang bukan film klasik terbaik dalam katalog Hollywood,  jika kita melihatnya tak lebih dari film drama thriller tentang pacar yang posesif. Film rilisan 1996 ini dibintangi oleh Mark Wahlberg (sebagai pacar posesif, David McCall), Reese Witherspoon (sebagai Nicole Walker), dan William Petersen (ayah Nicole yang overprotective). Nicole adalah remaja SMA yang jatuh cinta pada pandangan pertama dengan laki-laki yang sedikit lebih tua darinya. David tampak seperti pacar ideal yang manis dan memperlakukan Nicole seperti putri. Namun seiring berjalannya hubungan mereka berdua, ayah Nicole memiliki firasat tidak baik akan David yang mampu membahayakan anaknya.

Jika pada “Posesif” kita melihat hubungan dari perspektif pasangan yang bersangkutan, “Fear” memberikan perspektif orang ketiga, yaitu ayah Nicole. Kita jadi lebih mudah menyadari bahwa hubungan pasangan yang toxic benar-benar tidak layak untuk diperjuangkan oleh pihak yang bersangkutan. Memang kedua film ini memiliki intensitas konflik dan penokohan dengan dinamika yang berbeda, namun cukup untuk disandingkan dalam memahami topik hubungan toxic dan peran keluarga sebagai faktor pendukung.

Berbeda dengan kedua orangtua Lala dan Yudhis yang tidak sempurna, Nicole memiliki ayah terbaik yang juga menjadi jagoan penonton. Steve adalah seorang arsitek yang sukses. Namun lebih dari ayah yang mampu memberikan kenyamanan finansial, Ia juga sosok ayah yang menyempatkan diri untuk memperhatikan anaknya, Nicole.

Hubungan ayah-anak perempuan ini  juga tidak sempurna, karena Steve menikah lagi setelah ibu Nicole meninggal. Berbeda dengan ayah Lala yang pragmatis dan tidak terlalu mau ikut campur urusan anaknya, Steve tak ragu-ragu mengambil alih ketika ada sedikit hal saja yang mengganggu perasaannya. Melakukan investigasi sendiri, hingga berani menunjukan kendali demi melindungi Nicole. Ia juga sempat terlihat terbuka berbicara pada Nicole tentang kompleksitas hubungannya keduanya semenjak Steve menikah lagi. Steve adalah ayah yang telah berhasil memberikan kenyamanan yang dibutuhkan seorang anak, Nicole, dalam skenario ini.

Dalam “Fear” kita bisa membandingkan bagaimana David sebagai kekasih dan Steve sebagai ayah sama-sama posesif dengan Nicole. Namun yang membuat keduanya berbeda, David posesif untuk memiliki dan memanipulasi, sementara Steve posesif karena sejatinya ia telah memiliki Nicole, dan Ia merasa bertanggung jawab untuk  melindungi.

Pada akhirnya, kita bisa melihat bagaimana peran orang tua sebetulnya sangat besar dalam skenario hubungan toxic melalui film “Posesif” dan “Fear”. Tak hanya pada remaja, namun perspektif ini juga bisa diterapkan pada kasus hubungan pasangan yang toxic secara umum.

Apakah James Bond Harus Selalu Kulit Putih?

Culture

avatar remastered 2022 avatar remastered 2022

Avatar Review: Masih Relevan untuk Penonton Masa Kini

Film

The Outsider Review The Outsider Review

10 Film Hollywood dengan Estetika Jepang

Cultura Lists

Happiest Season Happiest Season

Rekomendasi Film Chick Flick 2020an

Cultura Lists

Connect