Connect with us
MIDSOMMAR
Midsommar | © A24

Cultura Lists

10 Film Horor Tanpa Jumpscare yang Tetap Menakutkan

Film horor yang berhasil menakuti penonton tanpa musik latar kencang dan visual mengagetkan. 

Jumpscare merupakan teknik yang paling sering digunakan dalam film horor untuk menakuti penonton. Dengan cara memberi kejutan audio dan visual tanpa peringatan.

Dalam skena horor klasik, teknik ini mungkin diakui kehandalannya untuk menakuti penonton film. Namun, dewasa ini penikmat film secara umum sudah semakin kritis dan menuntut variasi teknik untuk menakuti mereka ketika menonton film horor. Apalagi yang memang sudah penggemar horor dan tidak takut lagi dengan jumpscare.

Semakin banyak pula lahir sutradara dan penulis film horor berkat yang mempresentasikan teknik baru untuk menakuti penonton. Berikut sederet film horor tanpa jumpscare yang tetap berhasil membuat penontonnya ketakutan hingga terkesan.

The Shining (1980)

“The Shining” menjadi salah satu film horor klasik yang kontroversial. Mulai dari sikap keras Stanley Kubrick selama proses syuting, hingga Stephen King yang membenci film hasil adaptasi salah satu film terbaiknya.

“The Shining” bercerita tentang seorang penulis yang mengambil pekerjaan sebagai penjaga Overlook Hotel yang tutup selama musim dingin. Ia pun mengajak istri dan anak laki-lakinya untuk pekerjaan tersebut. Semakin lama keluarga tersebut terisolasi dan udara semakin dingin, kejadian aneh mulai terjadi.

“The Shining” mampu membuat jantung penonton berhenti tanpa kaget dan terperanjat. Teknik mengejutkan pada setiap adegan dieksekusi dengan sangat subtle. Ketika melihat visual yang janggal, penonton akan berhenti bernafas dan memproses apa yang sebetulnya mereka lihat, kemudian adegan berkembang menjadi mimpi buruk secara bertahap hingga akhirnya berubah menjadi horor yang sesungguhnya.

Rosemary’s Baby (1968)

“Rosemary’s Baby” merupakan film horor yang berhasil memanipulasi perasaan penontonnya secara bertahap melalui plot-nya. Meski banyak dari kita mungkin telah membaca sinopsis film ini sebelum menonton, cara paling maksimal untuk merasakan kengerian dalam film ini adalah tidak tahu apa-apa tentang ceritanya.

Kekuatan horor utama “Rosemary’s Baby” adalah bagaimana narasi film ini fokus pada sudut pandang protagonis, Rosemary yang sedang mengandung bayi pertamanya. Rosemary yang minim wawasan tentang apa yang sebetulnya sedang terjadi, kegelisahan ibu hamil, ditambah dengan perasaan terisolasi di apartemennya.

The Exorcist (1973)

“The Exorcist” merupakan film horor klasik yang dinobatkan sebagai salah satu yang paling menakutkan sepanjang masa. Padahal film ini tidak menggunakan teknik jumpscare, sosok iblisnya pun tidak memiliki screen time yang banyak. Karena terlalu menyeramkan, film ini sempat di-banned dari dari beberapa negara, sementara trailer original-nya saja tidak boleh diputar di bioskop Amerika.

Seperti judulnya, “The Exorcist” fokus pada fenomena kerasukan pada gadis remaja, Regan MacNeil. Plot tidak selalu fokus pada Regan yang mengalami kerasukan dan melakukan hal-hal mengerikan. Kita akan dibuat paham tentang prosedur pengusiran roh yang bukan masalah sepele bagi gereja katolik. Ketika kita memahami resiko dan harga dari suatu ritual, ketakutan akan terasa lebih nyata.

The Blair Witch Project (1999)

“The Blair Witch Project” juga menjadi film horor klasik yang fenomenal pada masanya. Menjadi pelopor genre found footage horror, kesuksesan film ini sulit untuk diulangi lagi. Bercerita tentang rekaman amatir tentang tiga muda-mudi yang melakukan investigasi tentang keberadaan penyihir di Maryland.

Spoiler alert, tidak ada jumpscare untuk setiap adegan dimana penonton mengantisipasi jumpscare. Namun hal tersebut tak mengurangi kengerian dan kegelisahan penonton selama menonton film ini.

Berbeda dengan film yang terus-terusan menunjukan jumpscare, pada akhirnya kita juga akan kebal, bukan? Sementara film yang tak kunjung mengeksekusi jumpscare akan membuat kita terus waspada dan tegang hingga akhir film.

Night of the Living Dead (1968)

“Night of the Living Dead” merupakan film pelopor genre survival horror zombie. Bercerita tentang pasangan yang mengunjungi daerah terpencil. Bertepatan dengan kunjungan mereka, tiang listrik terdekat ambruk dan mengalirkan listrik ke tanah kuburan. Membuat mayat yang terkubur bangkit dan melakukan serangan pada manusia yang masih hidup.

Plot sebagian besar berlatar di satu rumah, tempat sekumpulan orang bertahan dari serangan mayat hidup. Horor yang ingin dipresentasikan adalah bagaimana pertahan mereka mengikis secara bertahap dan membuat kita merasa semakin terpuruk.

Midsommar (2019)

“Midsommar” merupakan film horor dengan segala elemen yang bertolak belakang dari stereotip genre horor. Selain tidak menggunakan jumpscare, film ini juga membuktikan bahwa film horor yang latarnya di bawah langit yang cerah pun bisa tetap menyeramkan. Kebanyakan sekuen horor dalam “Midsommar” juga selalu ditampilkan pada pagi hari.

Film bertema sekte ini berhasil membuat penonton melihat bagaimana suatu komunitas religius merupakan kelompok yang mengerikan. Tak ada yang supranatural dalam film ini, hanya kelompok manusia dengan gaya hidup berdasarkan kepercayaan yang ekstrim.

The Witch (2015)

“The Witch” merupakan film horor debut Robert Eggers, satu lagi sutradara yang menaikan derajat film horor di era modern. Meski jelas judulnya film ini tentang penyihir, eksekusi film folklore horror ini memiliki sumber kengerian dari subjek yang berbeda dari asumsi kita.

Kisah fokus pada keluarga yang mengasingkan diri dan tinggal di dekat hutan sakral. Setiap sekuen keseharian keluarga tersebut semakin dikelilingi oleh teror tak terlihat yang membuat mereka mempertanyakan kepercayaan.

Raw (2016)

“Raw” bisa dikategorikan sebagai body horror, salah satu yang terbaik pada era 2010an. Film Prancis ini memuat tema kanibalisme yang sensual dari perspektif remaja yang sedang memasuki masa pubertas. Film horror dengan nuansa horor memang seringkali tidak mengandalkan jumpscare.

Sumber kengerian dari “Raw” adalah adegan-adegan sadis yang sebetulnya tidak terlalu banyak juga. Namun sekalinya muncul dijamin bikin penonton ngilu sendiri. Sumber ketakutan dari medium seperti ini akan terasa lebih menyiksa penonton jika dibandingkan dengan jumpscare yang hanya bikin kaget beberapa detik.

Annihilation (2018)

“Annihilation” merupakan film sci-fi horror yang diangkat dari novel karya Jeff VanderMeer. Bercerita tentang seorang wanita yang menyimpan rasa bersalah ketika suaminya hilang dalam misi. Untuk menebus rasa bersalahnya, Ia mengajukan diri untuk menjalankan misi yang sama dengan sang suami untuk menemukan jawaban atas segala pertanyaannya.

Sama dengan”Midsommar”, film ini juga menampilkan visual yang indah. Seakan dihipnotis untuk terpukau, sebelum akhirnya kita juga menemukan kengerian dalam ekosistem asing dalam semesta “Annihilation”.

A Girl Walks Home Alone at Night (2014)

Film berikut ini merupakan film Hollywood berbahasa Persia dan berlatar di Iran. Film ini merupakan film bertema vampir dengan latar Iran pertama.

Melihat judulnya, kita mungkin lebih memiliki asumsi bahwa film ini merupakan tipikal kisah horor dengan protagonis perempuan sebagai korbannya. Namun ternyata, perempuan dalam kisah ini adalah vampir yang keliling di jalanan Bad City dengan skateboard-nya. Memangsa para pria hidung belang. Tak ada jumpscare dalam film ini, namun cukup banyak adegan dengan suspense dan ketegangan dalam durasi panjang.

Big Night! Big Night!

Big Night! Review: Tragicomedy yang Merekam Realitas Sosial Kaum Miskin Filipina

Film

Apakah James Bond Harus Selalu Kulit Putih?

Culture

avatar remastered 2022 avatar remastered 2022

Avatar Review: Masih Relevan untuk Penonton Masa Kini

Film

The Outsider Review The Outsider Review

10 Film Hollywood dengan Estetika Jepang

Cultura Lists

Connect