Quantcast
Now You See Me: Now You Don’t Review - Cultura
Connect with us
The Housemaid Korea

Film

Now You See Me: Now You Don’t Review

Keajaiban sulap dan pengkhianatan masa kini di tangan Horsemen lama dan generasi baru.

★ ★ ★ ★ ★
★ ★ ★ ★ ★

Now You See Me: Now You Don’t (2025) kembali menyatukan The Four Horsemen dengan pesulap muda generasi baru. Disutradarai oleh Ruben Fleischer (Venom, Zombieland), film ini membawa elemen aksi, ilusi teknologi tinggi, dan intrik kriminal yang lebih modern dan ambisius.

Alur cerita berpusat pada misi baru para Horsemen: mencuri berlian langka bertajuk Heart Diamond yang dimiliki oleh keluarga kriminal kaya raya, Veronika Vanderberg (Rosamund Pike).

Untuk mewujudkan rencana besar ini, tim lama—Jesse Eisenberg (J. Daniel Atlas), Woody Harrelson (Merritt McKinney), Dave Franco (Jack Wilder), dan Isla Fisher (Henley Reeves)—bergabung kembali. Namun kali ini, mereka tidak beraksi sendirian: mereka merekrut tiga pesulap muda baru yang disebut sebagai “generasi baru ilusionis”: Justice Smith, Dominic Sessa, dan Ariana Greenblatt.

Film menjadi ruang benturan antara pengalaman lama dan semangat baru, di mana tipuan klasik dipadukan dengan trik teknologi mutakhir. Screenplay oleh Michael Lesslie, Paul Wernick, Rhett Reese, dan Seth Grahame-Smith menyajikan plot yang kompleks namun tetap berbasis pada tema waralaba: kepercayaan, pengkhianatan, dan ilusi sebagai alat kekuasaan.

Now You See Me: Now You Don’t

Sinematografi dikerjakan oleh George Richmond, menghadirkan visual glamor dan modern yang sesuai dengan skala misi global. Adegan sulap di panggung besar menggunakan efek cahaya, hologram, dan pantulan digital untuk menekankan bahwa trik di film ini tidak lagi hanya soal kartu atau koin, tetapi soal realitas yang bisa “dipalsukan”. Kamera sering berpindah cepat selama adegan heist dan pertunjukan, menciptakan sensasi bahwa penonton juga menjadi bagian dari tipuan. Di sisi lain, adegan latar kota besar menampilkan nuansa global—mencerminkan ambisi film untuk berkembang dari misi lokal menjadi konflik berskala internasional.

Para pemeran lama kembali dengan chemistry yang kuat: Jesse Eisenberg tetap sebagai Atlas yang licik dan percaya diri, Woody Harrelson sebagai mentalis veteran yang selalu punya trik tersembunyi, Dave Franco sebagai pesulap muda lincah, dan Isla Fisher kembali sebagai Henley Reeves, mengisi kekosongan yang sempat ada di film sebelumnya.

Di sisi generasi baru, Justice Smith, Dominic Sessa, dan Ariana Greenblatt masing-masing membawa gaya unik: satu teknikal, satu berani, satu licik dan tak terduga. Kehadiran Rosamund Pike sebagai antagonis Veronika Vanderberg menambah konflik moral dan kekuatan naratif, sementara Morgan Freeman kembali sebagai Thaddeus Bradley memperkuat benang lama dalam cerita.

Now You See Me: Now You Don’t

Tema utama film ini adalah kepercayaan: bukan hanya kepercayaan penonton terhadap trik sulap, tetapi kepercayaan antar pesulap, generasi baru, dan bahkan kepada sistem kejahatan yang mereka hadapi. Ada juga konflik etis: apakah memanipulasi realitas lewat ilusi sebanyak “mencuri” sumber daya besar seperti berlian merupakan tindakan pemberdayaan atau korupsi moral? Film ini mengangkat pertanyaan tentang identitas, pengaruh teknologi dalam kejahatan, dan bagaimana ilusi bisa menjadi senjata sekaligus jembatan generasi.

Kelebihan “Now You See Me: Now You Don’t” terletak pada visinya yang fresh: menggabungkan elemen sulap klasik dengan teknologi modern, plus dinamika karakter antara generasi lama dan baru. Sutradara Ruben Fleischer berhasil menjaga keseimbangan antara adegan aksi dan intrik emosional. Namun, ada beberapa kekurangan: pacing film terasa padat di beberapa bagian, terutama ketika memperkenalkan karakter baru; dan beberapa trik sulap terasa “terlalu digital”, kehilangan sentuhan magis praktikal klasik.

Secara keseluruhan, “Now You See Me: Now You Don’t” adalah sekuel yang layak untuk penggemar waralaba dan juga penonton baru yang menyukai thriller ilusi. Film ini berhasil menghadirkan tuntutan baru: ilusi bukan hanya hiburan, tetapi alat perjuangan dan pemberontakan. Meskipun tidak sempurna, film ini cukup memberikan pengalaman sinematik yang menghibur sekaligus membuat berpikir.

The Scorpion King (2002) The Scorpion King (2002)

Scorpion King: Mitos yang Dibangun Otot

Film

The Deer Hunter 1978 The Deer Hunter 1978

The Deer Hunter: Luka Perang yang Tak Pernah Sembuh

Film

IT WAS JUST AN ACCIDENT Review IT WAS JUST AN ACCIDENT Review

It Was Just an Accident Review: Realisme Moral Terjebak dalam Keheningan yang Terlalu Aman

Film

the great flood netflix the great flood netflix

The Great Flood Review: Spektakel Air Bah yang Terjebak di Permukaan Ambisi

Film

Advertisement Drip Bag Coffee
Connect