Perang dalam “The Deer Hunter” tidak datang dengan gemuruh kepahlawanan. Ia menyusup pelan, merusak perlahan, lalu menetap dalam diri manusia. Film garapan Michael Cimino yang dirilis pada 1978 ini tidak sibuk mengibarkan bendera atau membela ideologi. Ia memilih jalan sunyi: memperlihatkan bagaimana perang Vietnam menggerogoti kehidupan orang-orang biasa—buruh pabrik baja dari kota kecil di Pennsylvania—hingga tak bersisa apa pun selain kehampaan.
Tak mengherankan jika film ini terus dibicarakan hingga hari ini dan memperoleh skor 8,1 di IMDb, penanda bahwa luka yang ditawarkannya masih relevan bagi penonton lintas generasi.
Yang Akan Hilang Sebelum Perang Datang
Cimino membuka film ini dengan kesabaran yang nyaris menantang penonton. Hampir satu jam pertama dihabiskan untuk sebuah pernikahan yang berlangsung panjang, riuh, dan penuh detail. Musik, vodka, tawa, tarian, serta doa-doa Gereja Ortodoks Rusia memenuhi layar. Sekilas, bagian ini terasa berlebihan. Namun justru di situlah strategi naratifnya bekerja. The Deer Hunter ingin memastikan penonton memahami apa yang kelak akan hilang ketika perang datang. Kehangatan komunitas, rutinitas sederhana, dan rasa memiliki itu bukan sekadar latar, melainkan inti dari tragedi yang akan terjadi.

Ritual Maskulinitas Kelas Pekerja
Michael, Nick, dan Steven adalah representasi maskulinitas kelas pekerja Amerika yang dibesarkan oleh disiplin kerja dan solidaritas sesama buruh. Mereka jarang berbicara tentang perasaan, tetapi menunjukkan kesetiaan melalui tindakan. Berburu rusa di pegunungan menjadi ritual penting bagi mereka. Bukan sekadar hobi, melainkan simbol kendali dan kehormatan. Michael selalu menekankan prinsip “one shot”, keyakinan bahwa kematian harus presisi dan bermakna. Prinsip ini mencerminkan pandangan hidup yang percaya bahwa segalanya bisa diatur jika dilakukan dengan benar.
Vietnam sebagai Kekacauan Total
Keyakinan itu runtuh di Vietnam. Perang datang tanpa penjelasan moral yang memadai, tanpa struktur yang dapat dipahami. Salah satu adegan paling menggetarkan adalah permainan Russian roulette, ketika para tawanan dipaksa mempertaruhkan nyawa demi hiburan penjaga mereka. Adegan ini memang menuai perdebatan secara historis, tetapi secara sinematik ia bekerja sebagai metafora yang kejam. Perang digambarkan sebagai perjudian murni, di mana hidup dan mati tidak lagi ditentukan oleh keberanian atau keterampilan, melainkan oleh keberuntungan yang buta.
Nick dan Jiwa yang Hilang
Dalam kekacauan itulah Nick perlahan kehilangan dirinya. Christopher Walken memerankan karakter ini dengan keheningan yang mencekam. Tatapannya kosong, senyumnya rapuh, dan tubuhnya seolah berjalan tanpa arah. Nick tidak sekadar terluka, ia terputus dari makna hidupnya sendiri. Atas peran inilah Walken meraih Academy Award untuk Aktor Pendukung Terbaik, sebuah pengakuan yang terasa pantas karena Nick menjadi simbol paling tragis dari generasi yang pulang tanpa benar-benar kembali.

Perempuan yang Menanggung Dampak
Sementara itu, Linda, yang diperankan Meryl Streep, menjadi wajah dari mereka yang ditinggalkan. Ia tidak mengangkat senjata, tetapi ikut menanggung akibat perang. Kesedihannya hadir dalam bentuk yang tenang dan tertahan. Ia menunggu, berharap, lalu perlahan memahami bahwa perang tidak selalu mengembalikan orang-orang yang pergi. Streep memerankan Linda dengan kesederhanaan yang kuat, menunjukkan bahwa trauma tidak selalu berisik, tetapi sering kali hadir dalam keheningan yang panjang.
Kepulangan yang Tak Pernah Utuh
Ketika perang usai dan Michael kembali ke Amerika, tidak ada rasa kemenangan. Steven pulang dalam kondisi cacat fisik dan mental, sementara Nick tertinggal di Saigon, terperangkap dalam dunia yang tak lagi memberinya jalan pulang. Adegan berburu di akhir film menjadi penutup yang pahit. Michael kembali ke pegunungan, namun kali ini ia menolak menarik pelatuk. Prinsip “one shot” yang dulu ia junjung runtuh. Perang telah mengubah hubungannya dengan kematian dan dengan dirinya sendiri.
Pengakuan Dunia dan Warisan Sinema
Pengaruh The Deer Hunter tercermin dalam pengakuan dunia sinema. Film ini meraih lima Piala Oscar, termasuk untuk Film Terbaik dan Sutradara Terbaik bagi Michael Cimino, serta Aktor Pendukung Terbaik untuk Christopher Walken. Penghargaan tersebut menegaskan posisinya sebagai lebih dari sekadar film perang. Ia adalah karya tentang trauma kolektif dan kegagalan sebuah bangsa melindungi generasinya sendiri.

Nyanyian yang Sarat Ironi
Film ini ditutup dengan nyanyian lirih “God Bless America”. Adegan tersebut kerap disalahpahami sebagai glorifikasi patriotisme. Padahal, nyanyian itu terdengar seperti doa yang gamang, dinyanyikan oleh orang-orang yang tak lagi tahu harus percaya pada apa. Amerika yang mereka sebut bukan Amerika yang menjanjikan keselamatan, melainkan Amerika yang meninggalkan luka.
Luka yang Tak Pernah Benar-Benar Sembuh
Lebih dari empat dekade setelah dirilis, The Deer Hunter tetap terasa relevan. Bukan karena konteks Vietnam semata, melainkan karena polanya terus berulang. Negara mengirim pemuda, perang mengembalikan mereka dalam keadaan rusak, dan masyarakat sering kali tak siap menanggung akibatnya.
Pada akhirnya, film ini bukan tentang medan tempur, melainkan tentang kehilangan yang menetap lama setelah perang dinyatakan selesai. Pertanyaan yang ditinggalkannya pun sederhana namun mengguncang: berapa banyak kehidupan yang sebenarnya berakhir, bahkan ketika perang telah usai?

