Film “Gifted” (2017) dibuka tanpa gegap gempita. Tak ada musik heroik, tak ada keajaiban ala dongeng. Seorang anak perempuan kelas satu sekolah dasar, Mary Adler, menyelesaikan soal matematika yang membuat guru dan profesor universitas tercengang. Ia jenius. Tapi film ini sejak awal menolak menjadikan kejeniusannya sebagai tontonan. Ia menjadikannya masalah.
Di sinilah “Gifted” berbeda dari banyak film bertema anak cerdas. Ia tidak bertanya seberapa pintar seorang anak, melainkan siapa yang berhak atas kecerdasannya.
Mary bukan hanya anak dengan bakat langka. Ia adalah pewaris luka. Ibunya, matematikawan jenius, meninggal bunuh diri setelah hidupnya direduksi menjadi mesin pembuktian teorema. Sang nenek—representasi dunia akademik—ingin menyelamatkan “potensi” Mary agar tak terbuang. Sang paman, Frank, justru ingin menyelamatkan Mary sebagai manusia.
Konflik ini membuat “Gifted” menjadi film politik dalam skala keluarga. Kecerdasan diperlakukan sebagai sumber daya. Dan seperti sumber daya lain, ia diperebutkan.

Matilda (1996)
Bandingkan dengan “Matilda” (1996). Di film ini, kecerdasan adalah alat perlawanan. Matilda hidup di dunia dewasa yang korup dan bodoh: orang tua yang serakah, kepala sekolah tiranik, dan sistem pendidikan yang kejam. Tidak ada perdebatan etis tentang hak asuh atau kurikulum akselerasi. Dunia dewasa sudah gagal. Maka anak berhak melawan.
Matilda adalah fantasi pembebasan. Kecerdasan—bahkan kekuatan supranatural—diletakkan di tangan anak sebagai senjata moral. Ia menertawakan otoritas. Ia tidak meminta izin pada psikolog atau profesor. Film ini percaya bahwa ketika sistem rusak, anak jenius sah menjadi pembangkang.
Sementara “Little Man Tate” (1991) mengambil jalur yang lebih sunyi. Fred Tate adalah anak jenius yang tersisih. Ia terlalu pintar untuk taman bermain, tapi terlalu rapuh untuk dunia akademik yang dingin. Film ini tidak berteriak tentang hak atau perlawanan. Ia berbicara tentang kesepian.
Fred unggul di fisika, tapi gagal di pertemanan. Ibunya ingin ia “normal”, para akademisi ingin ia “berprestasi”. Tak satu pun benar-benar tahu apa yang Fred inginkan. Di sini, kecerdasan bukan berkah atau senjata, melainkan jarak—yang memisahkan anak dari dunia sebayanya.

Little Man Tate (1991)
Ketiga film ini, dengan pendekatan berbeda, mengajukan satu pertanyaan yang sama: apakah kecerdasan anak milik anak itu sendiri, atau milik dunia yang ingin mengaturnya?
“Gifted” memberikan jawaban paling tidak romantis, sekaligus paling relevan. Ia menunjukkan bahwa di balik jargon “pengembangan potensi”, sering tersembunyi ambisi orang dewasa yang belum selesai. Sang nenek Mary tidak jahat. Ia hanya percaya pada sistem yang membentuknya—bahwa kejeniusaan harus dikorbankan sejak dini demi pencapaian besar. Frank pun tidak ideal. Ia membawa trauma, rasa bersalah, dan ketakutan mengulangi sejarah.
Mary terjepit di antara dua visi hidup. Yang satu menjanjikan keabadian intelektual, yang lain menawarkan kehidupan biasa. Film ini dengan sengaja tidak menjadikan pilihan “prestasi” sebagai puncak moral cerita. Ia justru bertanya: apa arti prestasi jika dibayar dengan masa kanak-kanak?
Pertanyaan ini terasa dekat dengan dunia pendidikan hari ini. Dari kelas akselerasi, olimpiade, hingga bimbingan belajar sejak taman kanak-kanak, anak sering diperlakukan sebagai proyek. Ranking menjadi identitas. Nilai menjadi harga diri. Kecerdasan dijinakkan agar sesuai target.
Dalam konteks itu, “Matilda” terdengar seperti dongeng yang kita rindukan—anak melawan sistem yang bebal. “Little Man Tate” terasa seperti potret jujur tentang dampak sosial kejeniusaan. Tapi “Gifted” adalah cermin yang paling menyakitkan. Ia memaksa kita mengakui bahwa niat baik orang dewasa bisa sama berbahayanya dengan ketidakpedulian.

Film ini tidak menolak pendidikan tinggi, tidak memusuhi sains, dan tidak memuliakan kebodohan. Ia hanya mengingatkan satu hal sederhana yang sering dilupakan: anak jenius tetap anak. Ia butuh bermain, gagal, marah, dan memilih—bukan sekadar unggul.
Pada akhirnya, pertarungan dalam Gifted bukan soal matematika tingkat lanjut. Ia adalah pertarungan tentang siapa yang berdaulat atas masa depan anak. Dan jawabannya, jika film ini boleh dipercaya, seharusnya tidak sepenuhnya berada di tangan orang dewasa yang terlalu yakin tahu segalanya.
Karena sejarah—di dunia nyata maupun di layar—terlalu sering menunjukkan satu hal: kejeniusaan yang dipaksa tumbuh terlalu cepat, sering layu sebelum sempat hidup.

