Paul Thomas Anderson memboyong Leonardo DiCaprio ke dalam labirin paranoia Thomas Pynchon. Sebuah epik tentang Amerika yang retak, dendam lama, dan pencarian cinta di sela kepul asap ganja. Mengapa film ini disebut sebagai potret paling akurat tentang kekacauan zaman kita?
DI sebuah sudut California, di mana kabut laut bertemu dengan asap knalpot dan sisa-sisa impian tahun enam puluhan yang membusuk, Bob Ferguson berdiri dengan mata setengah terpejam. Diperankan dengan intensitas yang subtil oleh Leonardo DiCaprio, Bob adalah monumen hidup dari sebuah kegagalan revolusi. Ia adalah anggota French 75, kelompok radikal masa lalu yang kini hanya menyisakan paranoia dan ketergantungan pada lintingan ganja. Begitulah One Battle After Another dibuka: sebuah fragmen tentang pria yang mencoba menghilang, namun sejarah menolak melupakannya.
Sutradara Paul Thomas Anderson (PTA) kembali melakukan apa yang paling ia kuasai: membedah anatomi Amerika. Setelah sukses dengan There Will Be Blood dan The Master, kali ini ia mengambil langkah yang lebih berani—dan mahal. Dengan anggaran yang dikabarkan menembus angka seratus juta dolar dari Warner Bros, PTA mengadaptasi novel Vineland karya Thomas Pynchon menjadi sebuah tontonan aksi-thriller yang satir, megah, sekaligus menyakitkan.
Film ini bukan sekadar tentang pelarian. Ia adalah sebuah narasi tentang “laga berantai” yang tak kunjung usai. Bagi Bob, peperangan melawan sistem mungkin sudah berhenti belasan tahun lalu, namun peperangan melawan hantu-hantu masa lalu baru saja dimulai ketika putrinya, Willa (diperankan dengan memukau oleh pendatang baru Chase Infiniti), menghilang di tengah gejolak politik yang kian memanas.

Labirin Paranoia dan Sang Kolonel
Inti dari ketegangan film ini terletak pada dinamika antara Bob dan antagonis utamanya, Kolonel Steven J. Lockjaw. Sean Penn, yang kembali ke layar lebar dengan performa yang layak diganjar Oscar, memerankan Lockjaw bukan sebagai penjahat kartun. Ia adalah representasi dari otoritas yang haus kuasa, seorang pejabat militer yang terobsesi untuk bergabung dengan sebuah klub supremasi kulit putih rahasia guna mengamankan takhtanya di masa depan.
Lockjaw memiliki sejarah kelam dengan Bob, dan yang lebih penting, dengan ibu Willa, Perfidia Beverly Hills (Teyana Taylor). Di sini, PTA menjalin benang merah yang rumit antara urusan ranjang, pengkhianatan politik, dan obsesi terhadap kendali. Lockjaw ingin menghapus jejak masa lalunya yang “tercemar” oleh kaum revolusioner, dan cara satu-satunya adalah dengan melenyapkan Bob beserta seluruh memorinya.
Penonton dibawa menyusuri jalanan Amerika yang terpolarisasi. Sinematografi menggunakan seluloid 70mm memberikan skala yang luar biasa pada setiap pengejaran mobil dan konfrontasi fisik. Kita melihat sebuah negeri yang di ambang pecah, di mana kelompok-kelompok paramiliter berparade di kota-kota kecil, dan teknologi pengawasan mengintai dari balik setiap layar digital. Ini adalah visi Pynchon yang diterjemahkan PTA ke dalam realitas tahun 2025 yang terasa sangat akrab—mungkin terlalu akrab bagi kenyamanan kita sendiri.

Chemistry dan Patah Hati
Salah satu pencapaian terbesar film ini adalah hubungan antara Bob dan Willa. Chase Infiniti berhasil mengimbangi karisma DiCaprio dengan karakter remaja yang mandiri, sarkastik, namun menyimpan kerinduan mendalam akan stabilitas. Willa membenci kecanduan ayahnya, namun ia adalah satu-satunya alasan mengapa Bob masih waras.
“Ayah tidak sedang berjuang melawan sistem,” kata Willa dalam satu adegan kunci di sebuah motel kumuh, “Ayah hanya sedang bersembunyi dari diri sendiri.” Kalimat ini seperti palu godam yang menghantam karakter Bob, memaksa penonton untuk mempertanyakan: apakah perlawanan politik seringkali hanyalah pelarian dari kegagalan personal?
Kehadiran Benicio del Toro sebagai Sergio St. Carlos, seorang guru karate eksentrik yang merupakan mantan kawan seperjuangan Bob, memberikan bumbu komedi hitam yang segar. Dialog-dialog antara DiCaprio dan Del Toro mengingatkan kita pada gaya Inherent Vice, namun dengan tempo yang lebih cepat dan urgensi yang lebih tinggi. Mereka adalah sisa-sisa “prajurit” yang mencoba menemukan makna di dunia yang sudah tidak lagi mengenal kode etik mereka.

Satir Politik di Era Disrupsi
One Battle After Another memicu debat panas sejak penayangannya di bioskop pada akhir 2025. Di Amerika sendiri, film ini dituding sebagai kritik tajam terhadap kebangkitan gerakan sayap kanan ekstrem. Namun, PTA secara cerdik tidak memihak secara hitam-putih. Ia juga mengejek kenaifan kaum kiri yang terjebak dalam romantisme masa lalu dan gaya hidup hedonistik yang dibungkus retorika perjuangan.
Isu imigrasi dan kesenjangan kelas menjadi latar belakang yang konstan. Film ini menggambarkan bagaimana kekuasaan bisa dengan mudah memanipulasi ketakutan masyarakat untuk kepentingan pribadi. Karakter Lockjaw adalah simbol dari “pembersihan” sejarah, di mana mereka yang berkuasa merasa berhak menentukan siapa yang layak diingat dan siapa yang harus dilupakan.
Di ajang Critics’ Choice Awards Januari 2026 lalu, film ini menyapu bersih kategori utama. Para kritikus memuji keberanian Warner Bros untuk mendanai proyek yang begitu berisiko secara artistik. Di tengah dominasi film pahlawan super dan sekuel yang tak habis-habis, One Battle After Another berdiri tegak sebagai anomali: sebuah film musim panas yang memaksa penontonnya berpikir keras setelah keluar dari bioskop.
View this post on Instagram
Teknis yang Paripurna
Dari sisi teknis, hampir tidak ada celah. Skor musik yang digubah oleh Jonny Greenwood (Radiohead) memberikan nuansa kegelisahan yang ritmis. Musiknya tidak selalu megah, seringkali hanya berupa petikan gitar yang ganjil atau bebunyian elektronik yang statis, mencerminkan isi kepala Bob Ferguson yang penuh dengan kecemasan.
Penyuntingan film ini juga patut diacungi jempol. Meskipun durasinya mencapai 162 menit, alurnya tidak pernah terasa lambat. Setiap adegan aksi diletakkan dengan perhitungan yang matang, bukan sekadar tempelan untuk memacu adrenalin. Ada sebuah adegan pengejaran di hutan redwood yang disebut-sebut sebagai salah satu sekuen aksi terbaik dalam satu dekade terakhir—sebuah tarian maut antara manusia, mesin, dan alam yang megah.

Penutup: Peperangan yang Tak Usai
Pada akhirnya, judul One Battle After Another adalah sebuah nubuat. Film ini ditutup tidak dengan kemenangan yang mutlak, melainkan dengan sebuah kesadaran bahwa hidup adalah rangkaian pertempuran yang datang silih berganti. Setelah satu musuh jatuh, musuh lain—entah itu dalam bentuk sistem pemerintahan, kecanduan pribadi, atau trauma masa kecil—akan muncul kembali.
Bob Ferguson mungkin berhasil menyelamatkan putrinya, namun ia tetaplah seorang pria yang harus hidup di bawah bayang-bayang. Amerika yang ia tempati masih tetap retak, dan kabut paranoia itu tidak akan pernah benar-benar terangkat.
Lewat film ini, Paul Thomas Anderson memberikan sebuah mahakarya yang tidak hanya menghibur, tetapi juga berfungsi sebagai cermin. Ia bertanya kepada kita: di tengah laga yang terus berlanjut ini, apa yang sebenarnya sedang kita perjuangkan? Apakah itu keadilan, atau sekadar cara untuk bertahan hidup satu hari lagi?
Dengan performa karier terbaik dari DiCaprio dan visi penyutradaraan yang tanpa kompromi, One Battle After Another telah mengamankan tempatnya dalam sejarah sinema sebagai epik paling penting di pertengahan dekade ini. Sebuah film yang, seperti judulnya, akan terus kita bicarakan dalam satu perdebatan setelah perdebatan lainnya.

