Connect with us
Transatlantic Review
Cr. Netflix

TV

Transatlantic Review: Drama Perang Melodrama Dalam Kemasan Semarak Penuh Warna

Terinspirasi dari kisah nyata Varian Fry membantu pengungsi Perang Dunia II pada 1940an.

★ ★ ★ ★ ★
★ ★ ★ ★ ★

“Transatlantic” merupakan Netflix Limited Series terbaru garapan Anna Winger (Unorthodox) dan Daniel Hendler, diadaptasi dari novel “The Flight Portfolio” oleh Julie Orringer.

Berlatar pada 1940an di Marseille, Prancis, Varian Fry (Cory Michael Smith) bersama Mary Jayne Gold (Gillian Jacobs), beserta sekelompok masyarakat sipil lintas negara, membentuk kelompok kecil yang membantu para pengungsi Perang Dunia II dari kejaran Nazi. Kisah Varian Fry merupakan kisah nyata, ia adalah seorang jurnalis Amerika yang berhasil membantu lebih dari 2000 pengungsi di Perancis untuk bertolak ke Amerika Serikat pada 1940 hingga 1941.

Pada titik ini, film atau serial berlatar Perang Dunia II sudah menjadi “genre” tersendiri. Jika drama tragedi bertema perang biasanya dieksekusi dengan visual yang gelap, dengan sekelompok tentara berlumuran darah dan lumpur, hingga sekelompok pengungsi kumuh dalam pelarian yang merana, Anna Winger memiliki visi tema yang berbeda untuk “Transatlantic”.

Meski mengangkat salah satu kisah dalam waktu paling suram dalam sejarah, serial ini memiliki kemasan semarak penuh warna yang memikat. Neraka dalam surga, keindahan Marseille menjadi saksi bisu kisah manis-getir sekelompok orang biasa yang mengusahakan hal-hal luar biasa dengan kekuatan terakhir mereka.

Transatlantic Review

Drama Perang Dunia II dengan Gaya Produksi Film Ala Classic Hollywood

Ada banyak peristiwa yang melibatkan pengungsi dari berbagai kelas sosial maupun pihak-pihak anti-Nazi yang mungkin belum banyak diangkat dalam platform adaptasi mainstream.

“Transatlantic” menjadi salah satu kisah yang mungkin belum pernah kita temukan sebelumnya dalam Perang Dunia II. Emergency Rescue Committee merupakan organisasi mandiri Amerika yang didanai oleh Mary Jayne Gold. Mary Jayne adalah seorang philanthropist dari Chicago yang menggunakan kekayaan orang tuanya untuk membantu pengungsi dari Prancis ke Amerika.

Bersama dengan Varian Fry, Paul (Ralph Amoussou) dan saudaranya Petit (Birane Ba), serta bergabungnya dua pengungsi dari Jerman, Albert Hirschman (Lucas Englander) dan Lisa Fittko (Deleila Piasko), mereka menyediakan tempat bernaung di villa milik Thomas Lovegrove (Amit Rahav) kepada para seniman, penulis, dan pakar akademi anti-Nazi untuk keluar dari Perancis sebelum dikuasai oleh pasukan Nazi.

Anna Winger memiliki visi untuk mengeksekusi film ini seperti film drama pada masanya. Nuansa film ala Classic Hollywood terasa kuat dalam serial ini. Mulai dari tema produksi secara keseluruhan, tata busana, tata musik, hingga naskahnya pun tidak melulu serius.

Winger tidak takut untuk mengaplikasikan elemen komedi hingga drama romantis dalam latar yang sebetulnya suram. Tak harus melalui dialog, bisa juga melalui sinematografinya. Berdasarkan latar yang dipilih, yaitu kehidupan masyarakat sipil di wilayah yang masih netral, tetap ada momen-momen bahagia, ketenangan, dan romansa bahkan dalam ketegangan Perang Dunia II.

Transatlantic Review

Kisah orang Biasa yang Melakukan Hal Luar Biasa

Bukan kisah tentang pemimpin seperti Winston Churchill seperti dalam “Darkest Hour” (2017), atau tentara di medan perang seperti “Dunkirk” (2017), “Transatlantic” merupakan kisah sekelompok orang biasa, warga sipil dengan pekerjaan biasa, tanpa kemampuan berperang, hanya berbekal hati dan kompas kemanusian, memutuskan mengambil tindakan selagi memiliki kesempatan.

Tak hanya fokus pada Gillian Jacobs sebagai Mary Jayne Gold yang paling mencolok sebagai ‘wajah’ dari serial Netflix ini, setiap karakter memiliki kisah masing-masing yang inspiratif sekaligus menyentuh. Baik ambisi mereka untuk melakukan yang terbaik di tengah konflik, maupun dilema dalam kehidupan pribadi mereka sebagai manusia biasa.

Setiap aktor juga menampilkan kualitas akting yang menyentuh. Meski dalam landscape alam yang indah di tengah cuaca yang sempurna, bahkan dalam balutan busana yang modis, tetap terpancar kegelisahan, ketegangan, dan keterpurukan ketika mereka sedang mengalami hari buruk. Setiap aktor telah diberi fasilitas oleh naskah untuk menampilkan emosi yang lebih relevan dengan kehidupan pada umumnya.

Ada kalanya juga mereka membebaskan diri untuk bercanda, berseni, dan memeluk asmara di saat-saat tenang. “Transatlantic” memberikan pengalaman drama Perang Dunia II dengan layer emosi berlapis.

Drama Berlatar Perang yang Melodrama Sekaligus Merayakan Keberagaman

“Transatlantic” merupakan drama dengan showcase keberagaman di dalamnya. Serupa dengan “1899” (2022), menghadirkan casting lintas negara dengan penggunaan bahasa beragam sepanjang episodenya. Namun lebih semarak karena skenarionya yang mengizinkan mereka untuk berpesta, menari, dan bertukar pikiran demi kebaikan umat manusia di tengah perang.

Tak hanya di saat kamera menyala, kita bisa membayangkan lingkungan kreatif dalam keberagaman dirayakan melalui serial ini sepanjang proses syutingnya. Chemistry antar setiap pemain akhirnya terpancar ketika mereka sedang berakting.

Sebagai drama berlatar di tengah tragedi, “Transatlantic” tak lantas terbuai dengan utopia yang mereka ciptakan sendiri. Tetap ada plot tragedi skala personal yang dialami setiap karakter utama sebagai harga akan keberhasilan mereka untuk tujuan yang lebih besar. Menjadi keputusan bijak untuk mengingatkan kesuraman dalam perang, karena pada akhirnya serial ini adalah drama tragedi.

Secara keseluruhan, “Transatlantic” merupakan drama perang yang mengangkat kisah terbaru di tengah Perang Dunia II. Nyaris sempurna dalam segala aspek produksinya. Tidak terlihat murah, cukup mengherankan Netflix tidak terlalu mempromosikan serial ini. Seharusnya bisa dipromosikan seperti “Beef” dan “Hunger” yang menjadi tontonan trending di platform streaming tersebut pada April ini.

Buat penggemar drama period bertema Perang Dunia II, wajib banget binge “Transatlantic”!

A Murder at the End of the World A Murder at the End of the World

A Murder at the End of the World (Finale) Review

TV

Avatar: The Last Airbender Avatar: The Last Airbender

10 Serial Animasi Anak-anak Populer yang Juga Menghibur Penonton Dewasa

Cultura Lists

Orion and the Dark Orion and the Dark

Orion and the Dark Review: Eksplorasi Keindahan dalam Kegelapan

Film

A Shop for Killers A Shop for Killers

A Shop for Killers Review: Aksi Lee Dong-wook dan Kim Hye-jun dalam K-Drama Laga

TV

Connect