Connect with us
Hunger Review
Netflix

Film

Hunger Review: Whiplash Versi Profesi Bidang Kuliner Berkelas

Pilihan cerdas angkat topik ambisi dan keserakahan manusia melalui dunia fine dining.

★ ★ ★ ★ ★
★ ★ ★ ★ ★

“Hunger” merupakan film Thailand terbaru di Netflix bergenre drama thriller dengan tema dunia profesi kuliner. Dibintangi oleh Chutimon Chuengcharoe sebagai Aoy, ia meneruskan bisnis keluarga sebagai juru masak warung pad see ew di kota tua Bangkok.

Suatu hari, ia mendapat tawaran untuk bergabung dengan tim fine dining terkenal bernama Hunger, yang dipimpin oleh Chef Paul (Nopachai Chaiyanam). Memasuki dunia kuliner yang baru, Aoy mencicipi ambisi baru sebagai juru masak yang membawanya pada sisi gelap dalam dunia profesi bidang kuliner berkelas.

Banyak yang menyebutkan “Hunger” bagaikan perpaduan antara “Whiplash” (2014) dan “The Menu” (2022). Pernyataan tersebut ada benarnya, namun film garapan Sitisiri Mongkolsiri ini memiliki kualitas originalnya sendiri. Ada pesan baru dan eksekusi plot berbeda yang hendak dihidangkan pada penontonnya.

Panas dan Tajam Dapur Hunger Dibawah Pimpinan Chef Paul

Kerasnya suasana dapur fine dining sudah bukan rahasia lagi bagi kalangan umum. Hal ini berkat popularitas reality shows seperti “Hell’s Kitchen” dan “Masterchef”. Selalu ada sosok chef berkarisma yang galak seperti Gordon Ramsay dan Chef Juna.

Dalam “Hunger”, ada Chef Paul yang sudah berhasil memancarkan aura intimidatif sejak adegan prolog. Nopachai Chaiyanam berhasil mendalami peran sebagai chef yang tak hanya kejam saja, namun menyakinkan sebagai juru masak dengan kualitas hidangan fine dining yang artistik dan memikat client-nya. Kita sebagai penonton saja, tanpa mencicipi hidangan Chef Paul pun juga mampu diyakinkan hanya melalui visualnya.

Sementara Aoy ibarat karakter yang menjadi korban dari didikan keras Chef Paul. Layaknya Andrew yang ditekan oleh Terence Fletcher dalam “Whiplash”. Menjadi anak sulung yang memiliki tanggung jawab besar, ia ingin menjadi juru masak yang diakui dan istimewa seperti Chef Paul. Namun secara keseluruhan, penokohan Aoy terasa sedikit hambar dan tidak konsisten dalam menentukan prioritasnya. Ia hanya karakter yang kebingungan lepas dari bakat memasaknya.

Padahal akting Chutimon Chuengcharoe dalam adegan-adegan yang menegangkan dan emosional sudah bagus. Sayang saja naskah tidak terlalu mengizinkannya perannya mengalami perkembangan karakter yang lebih berani.

Hunger Review

Dunia Kuliner sebagai Simbolisasi Keserakahan Manusia

Pilihan cerdas dari Sitisiri Mongkolsiri untuk angkat topik ambisi dan keserakahan manusia dalam tema kuliner. Tak melulu eksploitasi tekanan di dapur dengan chef yang kejam, ada banyak social commentary yang berusaha diselipkan dalam naskah “Hunger”.

Disampaikan melalui dialog-dialog bermakna dari karakter Chef Paul dan Aoy. Dimana keduanya memaknai hidangan dengan pemahaman yang berbeda. Aoy percaya dengan cita rasa masakan yang lebih sedap jika dimasak dengan cinta. Sementara Chef Paul lebih percaya dengan reputasinya sebagai chef terkenal, masalah kualitas hidangannya menjadi hal yang tidak dipertanyakan.

‘Keserakahan’ bisa diartikan secara harfiah dan simbolis dalam “Hunger”. Bisa disimbolkan sebagai ambisi Aoy untuk menjadi chef handal, keserakahan client-client Chef Paul dari kalangan atas dan berbagai situasi yang ditampilkan dalam film ini. Baik orang-orang yang menyerahkan diri pada keserakahan, maupun mereka yang sudah puas dengan apa yang mereka miliki.

Potret Bisnis Kuliner dan Kehidupan Sosial Kelas Atas yang Otentik

“Hunger” dikerjakan dengan produksi yang terlihat memiliki dedikasi tinggi pada seni kuliner. Mulai dari makanan sekelas kwetiau level warung hingga hidangan lobster mewah memiliki presentasi yang sangat detail.

Ada banyak shot-shot memasak dan penyajian makanan yang dramatis. Hal ini sangat penting untuk menyakinkan karakter Chef Paul sebagai juru masak terbaik dengan hidangan yang spektakuler, seperti yang dibicarakan orang-orang kaya yang mengantri untuk mencicipi hidangannya. Ada banyak showcase hidangan mewah dengan presentasi yang benar-benar memukau dari Chef Paul. Presentasi hidangan Chef Paul dengan Aoy juga terlihat perbedaannya. Karena hal ini juga sangat krusial untuk menampilkan perbedaan karakter keduanya.

Selain menampilkan hidangan-hidangan yang menggiurkan, “Hunger” juga menampilkan beberapa adegan berlatar kehidupan sosialita kalangan atas. Mulai dari makan malam eksklusif hingga pesta pora dengan tema yang eksentrik. Adegan-adegan tersebut juga didukung dengan produksi latar, tata busana dan sinematografi yang maksimal.

“Hunger” merupakan film yang menyajikan kerasnya tekanan dunia fine dining yang menuntut kesempurna. Namun tak lantas hanya menampilkan Chef Paul yang mem-bully Aoy secara verbal di dapur, film ini memiliki agenda lebih dari yang kita bayangkan, dengan ekspektasi seperti “Whiplash” atau “The Menu”.

Satu saja yang disayangkan, dengan premis dan keberlanjutan yang gila dan brutal, “Hunger” lebih memilih untuk memberi ending yang main aman sebagai hidangan penutup.

Oppenheimer & Maestro Oppenheimer & Maestro

Oppenheimer & Maestro: Film Biopik yang Miliki Banyak Kesamaan

Entertainment

Tiger Stripes Tiger Stripes

Tiger Stripes Review: Body Horror Pubertas Akibat Minim Edukasi

Film

What to Stream on Valentine’s Day

Cultura Lists

Orion and the Dark Orion and the Dark

Orion and the Dark Review: Eksplorasi Keindahan dalam Kegelapan

Film

Connect