Connect with us
Fate The Winx Saga Review
Netflix

TV

Fate: The Winx Saga Review

Live action Winx Club yang kehilangan sihir dan selera fashion.

★ ★ ★ ★ ★
★ ★ ★ ★ ★

“Winx Club” merupakan salah satu kartun ikonik dari Nickelodeon pada tahun 2000-an. Cerita berpusat pada seorang peri yang tumbuh besar di negeri manusia, Bloom. Ia masuk sekolah peri Alfea untuk memahami dan mengontrol kekuatan sebagai peri api. Lebih dari penemuan jati diri, Bloom bertemu dengan peri-peri remaja lainnya; Stella, Musa, Flora, Tecna, dan Aisha.

Pada awal tahun ini, Netflix merilis serial live-action adaptasi “Winx Club” dengan judul baru “Fate: The Winx Saga”. Ada banyak perubahan yang diterapkan oleh Brian Young sebagai creator. Mulai dari desain dan line up karakter, hingga produksi serial dengan nuansa yang lebih gelap dan dewasa.

Hal tersebut sudah menimbulkan banyak komplain dari penggemar “Winx Club”. Namun, mungkin bukan masalah besar bagi kita yang hanya ingin menonton serial supranatural remaja dengan latar sekolah sihir tanpa tumbuh besar dengan menonton “Winx Club”. Sebuah projek live-action masih bisa diterima dan diakui jika berhasil mengeksekusi cerita dengan baik dan menghibur. Apakah “Fate: The Winx Saga” memenuhi syarat tersebut? Ada banyak hal yang perlu kita bahas di artikel ini.

Fate: The Winx Saga Review

Netflix

Casting dan Penokohan dengan Banyak Kekurangan

Adapun beberapa perubahan lineup karakter dan metode casting yang diterapkan untuk mewujudkan “Fate: The Winx Saga”. Mulai dari dihapusnya Tecna, Flora yang diganti dengan Terra (tetap peri bumi dengan penokohan yang diubah), hingga isu yang paling dipermasalahkan penggemar; whitewashing cast.

Lineup gang Winx Club sendiri memiliki keberagaman ras dan latar belakang karakter yang menjadi salah satu daya tarik dalam kartunnya. Hanya penokohan Bloom (Abigail Cowen), Stella (Hannah van der Westhuysen), dan Aisha (Precious Mustapha), yang dipertahankan dalam gang ini. Musa versi kartun tampil sebagai perempuan dengan etnis Asia, kemudian Flora (yang diubah menjadi Terra) mewakili etnis Amerika Latin.

Fate: The Winx Saga Review

Netflix

Sebagai kartun anak-anak populer di Amerika pada masanya, formasi member Winx Club tersebut secara tidak langsung memberikan dampak positif bagi anak-anak perempuan di Amerika yang cukup multikultural. Dimana beberapa etnis mungkin minoritas, anak-anak yang menonton merasa direpresentasikan di sebuah kartun ikonik. Sayang sekali konsep gang Winx Club dengan interaksi persahabatan dalam keberagaman tersebut harus dirombak.

Sekalipun kita tidak mempermasalahkan metode casting yang terdengar rasis, penokohan yang diterapkan pun tidak memuaskan secara umum. Semua karakter tampil sebagai versi terburuk dari setiap stereotip remaja. Mulai dari Bloom, mengklaim dirinya sebagai ‘weird loner’ dan ‘whatever the opposite of a cheerleader’, Terra si kutu buku yang terlalu banyak bicara, hingga Stella, ‘the queen bee’ yang dalam versi ini tampil judes dan “mengerikan”.

Ada pula karakter baru, Beatrix (Sadie Soverall) yang dari awal kemunculannya sudah bisa kita lihat akan menjadi antagonis yang sibuk sendiri. Tidak habis apa yang dipikirkan oleh penulis dengan memberikan persona demikian pada setiap karakter dan berharap kita akan menyukai mereka.

Satu lagi yang masih menjadi penyakit serial drama remaja zaman ini adalah sederet casting yang jauh lebih tua dari umur peran yang dimainkan. Dalam serial ini, kita akan dibuat kaget ketika Bloom mengungkapkan bahwa usianya baru 16 tahun (begitu juga dengan karakter lainnya). Penampilan mereka secara fisik dan gelagatnya membuat kita tidak yakin bahwa mereka masih remaja belasan tahun.

Fate The Winx Saga

Photo: Jonathan Hession/Netflix

Ekspektasi akan Serial Supranatural Megah yang Musnah Menjadi Teenlit Biasa

Mungkin “Fate: The Winx Saga” merupakan salah satu Netflix Original Series terbaru yang kurang beruntung. Netflix memiliki model bisnis yang seringkali membuat beberapa film dan serialnya tidak bisa dieksekusi dengan maksimal. Sudah biasa bagi serial terbaru untuk mendapat slot episode yang pendek. Dengan harapan feedback positif dari penonton, baru kemudian Netflix akan memprioritaskan serial tersebut. Kecuali untuk serial yang benar-benar ambisius seperti The Crown, The Umbrella Academy, Stranger Things, dan judul franchise besar lainnya.

Hal tersebut membuat serial seperti “Fate: The Winx Saga” menjadi ‘anak tiri’ yang harus membuktikan pada Netflix bahwa mereka patut didukung untuk menjadi serial yang lebih maksimal. Sayangnya, slot 6 episode yang disajikan membuat cerita terlalu cepat, menghasilkan perkembangan karakter dan hubungan antar tokoh yang prematur.

Dari beberapa dialog yang diterapkan, penulis cerita tampaknya memiliki ekspektasi untuk membuat serial ini seperti “Harry Potter” versi Winx Club, dimana visi tersebut sebetulnya sangat menarik. “Winx Club” memiliki banyak unsur yang berpotensi untuk dikembangkan; sekolah sihir peri, elemen peri yang bervariasi, dan kerajaan peri. Namun, kekayaan materi tersebut tidak dihadirkan dengan maksimal dalam serial ini.

Daripada konten supranatural dan misteri latar belakang Bloom sebagai protagonis, lebih banyak drama cinta dan persahabatan yang diekspos. Membuat ekspektasi serial sejenis “Harry Potter” turun grade menjadi “Riverdale” dengan sedikit percikan sihir.

Fate The Winx Saga Review

Netflix

Winx Club yang Kehilangan Selera Fashion

“Winx Club” is always about fashion and on point dresses. Mengubah tema menjadi lebih gelap dan dewasa bukan alasan untuk membuat karakter tampil membosankan. Tidak ada fashion statement yang diaplikasikan pada setiap karakter utama. Cukup terlihat usahanya, namun padu padan pakaian yang diterapkan tampaknya gagal untuk memikat kita.

Meski tidak tampil dengan baju dengan warna cerah dan glitter seperti versi kartunnya, selalu ada cara lain untuk tetap menghadirkan karakter yang fashionable, hal tersebut bahkan tidak membutuhkan budget produksi tinggi. Lihat saja serial dengan tema cukup serupa seperti “Chilling Adventure of Sabrina”. Serial tersebut juga adaptasi dari versi original yang ceria dan penuh warna. Serial tersebut mampu berubah menjadi gelap dan dewasa tanpa kehilangan selera fashion.

Wardrobe sendiri merupakan unsur yang penting dalam sebuah serial maupun film. Aspek ini mampu mendukung eksekusi sinematografi untuk menampilkan frame yang memikat secara visual. Terutama untuk sebuah live-action adaptasi terbaru ini, fashion merupakan identitas bagi “Winx Club”.

Secara keseluruhan, “Fate: The Winx Saga” merupakan proyek live-action yang tidak memenuhi ekspektasi. Lepas dari label ‘live-action’ pun, serial ini memiliki produksi yang tidak maksimal sebagai drama remaja bertema supranatural.

Click to comment
Advertisement
Cultura Live Session
Connect