Connect with us
The Umbrella Academy Season 2 Review
Netflix

TV

The Umbrella Academy Season 2 Review

Perpaduan antara fiksi ilmiah dan referensi sejarah Amerika yang menarik.

★ ★ ★ ★ ★
★ ★ ★ ★ ★

Melanjutkan kesuksesan season pertamanya, The Umbrella Academy Season 2 akhirnya telah dirilis pada akhir Juli 2020 lalu. Masih digarap oleh Steve Blackman, diadaptasi dari komik karya Gerard Way dan Gabriel Ba. Dibintangi oleh cast favorit kita dari musim pertamanya; Ellen Page, Tom Hopper, David Castaneda, Emmy Raver-Lapman, Robert Sheehan, Aidan Gallagher, dan Justin H. Min.

Setelah berhasil menghindari kiamat di masa depan, Hargreeves bersaudara terpental ke tahun 1960-an di Dallas, Amerika Serikat. Rupanya perjalanan waktu tersebut tetap membuat ketujuh bersaudara ini tidak lepas dari ancaman akhir dunia yang masih mengikuti mereka.

Berawal dari Premis Familiar Dengan Eksekusi Materi Baru

Sekilas, The Umbrella Academy Season 2 memiliki plot dan masalah yang sama; Number Five kembali menjadi karakter kunci yang berusaha mengumpulkan semua saudaranya yang terpencar untuk mencari solusi, bagaimana menyelamatkan dunia dari ancaman hari kiamat. Masih dengan The Handler yang berusaha mempertahankan posisinya di The Temps Commission dan komplotan pembunuh eksentrik yang baru, serupa dengan Cha Cha dan Hazel pada season pertama.

The Umbrella Academy Season 2 Review

Photo: Christos Kalohoridis/Netflix

Namun, season kedua ini jelas menyajikan materi baru yang mengisi plot utama tersebut. Season kedua memiliki berbagai plot pendukung dan referensi cerita yang lebih menarik dan kaya. Meski terasa cukup overwhelming pada episode pertama, memasuki episode kedua, serial ini mulai menarik untuk diikuti, setiap akhir episode akan membuat kita penasaran dengan kelanjutan kisahnya. Cerita terasa lebih kompleks namun tetap berhasil dieksekusi dengan penulisan naskah yang rapi.

Karakter baru sebagai pendukung dalam season ini juga lebih menarik jika dibandingkan dengan season pertama terasa yang lemah dan “murah”. Setiap karakter pendukung memberi kontribusi yang lebih mantap ke dalam keseluruhan cerita. Materi humor maupun black comedy yang diselipkan juga lebih pas dan lucu, tidak seperti season pertama yang terasa awkward di beberapa bagian.

Membawa Kita Kembali ke Tahun 1960-an Dengan Produksi Maksimal

Pada season pertamanya, The Umbrella Academy telah membuat kita takjub dengan produksinya yang totalitas. Sangat berhasil menghidupkan dunia superhero quirky dan unik dari sebuah komik, menjadi produksi live-action yang berkualitas. Kualitas produksi tersebut semakin meningkat pada season kedua ini. Latar cerita pada tahun 1960-an tampaknya menjadi kesempatan untuk tim produksi secara totalitas mengeksplorasi kemampuan mereka menghidupkan suasana vintage Amerika Serikat 60-an.

Salah satu divisi dalam tim produksi yang perlu diberi apresiasi lebih adalah make up and costume design. Salah satu kunci dari eksekusi karakter eksentrik dan unik di The Umbrella Academy dari season pertama adalah penampilan fisik mereka, dengan pakaian dan make up yang tepat. Kita mungkin akan membenci betapa liciknya The Handler, namun kita semua pasti setuju ia adalah karakter paling fashionable dalam serial ini. Christopher Hargadon merupakan designer dari season pertama yang kembali membuat kita kagum dengan tampilan dari karakter-karakter unik dalam serial ini.

Begitu juga dengan tim casting. The Umbrella Academy tidak hanya mencari aktor yang bisa akting, namun memperhitungkan fitur fisik dan kharisma agar visi yang tercipta dari komik terealisasikan dengan sempurna dan tidak mengecewakan penggemarnya.

The Umbrella Academy Season 2 Review

Netflix

Sederet Karakter Favorit Dengan Perkembangan Kisah yang Menarik

Hargreeves bersaudara sudah mencuri hati kita semenjak season pertama dengan kepribadian dan keunikannya masing-masing. Penulisan dan casting bisa jadi merupakan aspek terbaik dari season pertama. Dalam season kedua, semuanya memiliki side story yang lebih menarik dan menyentuh.

Mulai dari kisah Vanya dengan Sissy, kisah cinta baru antara Allison dan Raymond sebagai pasangan pejuang kaum kulit hitam, hingga Klaus yang menjadi pemimpin sekte. Masih banyak lagi side story dari setiap karakter yang akan kita temukan dan semuanya terasa menarik kali ini. Membuat 10 episode dengan durasi masing-masing sekitar 40 menit jadi terasa padat dan selalu memiliki plot menarik untuk kita saksikan.

Memanjakan Penggemar Teori Konspirasi dan Fiksi Ilmiah

Memilih latar tahun 1960-an tak sekedar untuk memberikan estetika pada produksi dan strategi promosional serial ini, namun juga sebagai referensi cerita yang akan sangat menarik buat penggemar sejarah, teori konspirasi, dan fiksi ilmiah. Mulai dari tragedi penembakan John F. Kennedy, isu diskriminasi kaum kulit hitam, teori konspirasi sosok pria misterius berbusana dan berpayung serba hitam, hingga simpanse pertama yang dikirim oleh ilmuan Amerika keluar angkasa.

Materi-materi tersebut berhasil diselipkan dengan komposisi yang tepat dan terasa fiksi sekaligus masuk akal jika kita cocok-cocokan dengan fakta sejarah. Hal ini menunjukan keseriusan dan ketelitian dalam menciptakan semesta superhero The Umbrella Academy.

The Umbrella Academy Season 2 secara mengejutkan memiliki kelanjutan kisah yang lebih menarik dengan semesta fiksi ilmiah yang kaya. Setiap karakter telah mengalami perkembangan cerita semakin mantap dan membuat kita semakin sayang dengan Hargreeves bersaudara ini. The Umbrella Academy bisa jadi semesta superhero terbaik dalam deretan Netflix Original Series saat ini.

Click to comment
Advertisement
Cultura Podcast
Connect