Connect with us
The Last Duel
20th Century Studios

Cultura Lists

10 Film Sutradara Hollywood Terbaik yang Flop

Bahkan Martin Scorsese, Denis Villeneuve, dan Christopher Nolan pernah mengalami flop.

Kesuksesan sutradara di industri perfilman lahir dari konsistensi kualitas dari film yang mereka ciptakan. Menuai keuntungan box office melimpah pada satu film belum tentu menjamin kesuksesan yang berkelanjutan, bahkan untuk nama-nama besar di Hollywood. Melihat banyak nama sukses yang dengan mudah menerima dana dari rumah produksi saat ini, ada saat dimana mereka juga mengalami flop.

Film yang flop tak selalu karena kualitas penyutradaraan dan naskahnya. Tak jarang karena kesalahan pada strategi marketing dan promosi, serta faktor-faktor lain yang tidak terduga. Namun yang terpenting adalah bagaimana beberapa sutradara berhasil bangkit dari kegagalan yang tidak mematahkan semangat kreatifitas mereka. berikut sederet film sutradara Hollywood terbaik yang mengalami flop.

New York, New York (1977) – Martin Scorsese

Budget: 14 Juta USD
Box Office: 16.4 Juta USD

Setelah sukses dengan “Taxi Driver”, Martin Scorsese mulai mendapatkan reputasi sebagai salah sutradara terbaik pada masanya. Ingin bereksperimen dan keluar dari zona nyamannya di film genre neo-noir dan drama kriminal, “New York, New York” menjadi film bergenre romansa musikal yang dibintangi oleh Robert De Niro sebagai saxophonist jazz. Sayangnya, eksperimen Scorsese tidak terima dengan baik oleh penikmat film pada masanya.

Kegagalan “New York, New York” sampai membuat Scorsese depresi dan kecanduan obat terlarang. Namun kita sendiri saksinya, bahwa sutradara veteran Hollywood ini berhasil bangkit dan merilis lebih banyak lagi film sukses hingga saat ini. Meski akhirnya menerima statusnya sebagai sutradara di satu genre saja, Martin Scorsese menggeluti keahliannya dan terus mengasah di bidang yang paling ia kuasai tersebut.

West Side Story (2021) – Steven Spielberg

Budget: 100 Juta USD
Box Office: 76 Juta USD

Kegagalan finansial di industri perfilman selama masa pandemi tidak padang bulu. Bahkan sutradara sebesar Steven Spielberg juga tak luput dari kegagalan dengan film remake musikal “West Side Story”.

Film yang dibintangi oleh Ansel Elgort dan Rachel Zegler ini menjadi adaptasi layar lebar kedua kalinya dari pertunjukan panggung oleh Jerome Robbins dan Leonard Bernstein pada 1957.

Padahal film ini diakui kualitasnya dalam berbagai aspek. Mulai dari penampilan setiap aktornya, desain latar, tata busana dan makeup, koreografi, arahan musik, hingga sinematografinya nyaris sempurna. Banyak yang mengakui “West Side Story” melampaui versi 1961. Namun sayangnya, kegagalan finansialnya terlalu besar. Diperkirakan karena pandemi dan penundaan tanggal rilis hingga akhirnya film yang tayang di platform streaming yang tak jauh dari tanggal rilis bioskop.

Death Proof (2007) – Quentin Tarantino

Budget: 30 Juta USD
Box Office: 31 Juta USD

Diantara film-film sukses Quentin Tarantino yang ikonik, “Death Proof” yang performanya paling lemah di box office pada masanya. Film ini sendiri memiliki konsep perilisan dan marketing yang cukup berbeda, sebagai double feature di bawah judul “Grindhouse”, pasangannya adalah film “Planet Terror” oleh Robert Rodriguez.

Double feature yang direncanakan merupakan konsep marketing film yang mungkin tidak dipahami oleh penonton film umum di era 2000an. Membuat “Death Proof” gagal menyampaikan visinya pada penonton umum, sayangnya juga menerima kritikan yang tidak solid dari media. Namun tak sedikit juga penggemar militan Tarantino yang tetap jatuh hati dengan “Deth Proof”, serta mengapresiasi keberanian sang sutradara dalam bereksperimen.

Blade Runner 2049 (2017) – Denis Villeneuve

Budget: 150 Juta – 185 Juta USD
Box Office: 267,5 Juta USD

Pada 2017, Denis Villeneuve merilis sekuel dari film sci-fi klasik Ridley Scott “Blade Runner” (1982). “Blade Runner 2049” dibintagi oleh Ryan Gosling sebagai replicant bernama K.

Daripada film epic sci-fi penuh aksi, film berlatar heavy futuristic ini lebih mengeksplorasi nilai kemanusiaan dan identitas K sebagai protagonisnya yang sangat emosional dan mendalam. Sayangnya, meskipun banyak mengakui bahwa film ini salah satu yang terbaik dalam genrenya, tak sedikit pula media besar yang menyebut film ini terlalu panjang, lambat, dan membosankan.

Baru-baru ini, Villenueve sendiri saja mengakui kalau ia menyesal telah menciptakan “Blade Runner 2049” dan tak ingin mengutak-atik lagi semesta sinematik sutradara lain lagi. Meskipun pendapatan globalnya sudah melampaui budget, film ini diperkirakan butuh pendapatkan hingga 400 Juta USD untuk sukses secara finansial. The Hollywood Report pun memperkirakan film ini rugi 80 Juta USD.

The Last Duel (2021) – Ridley Scott

Budget: 100 Juta USD
Box Office: 30.6 Juta USD

“The Last Duel” adalah film arahan Ridley Scott yang naskahnya ditulis oleh Nicole Holofcener bersama Ben Affleck dan Matt Damon yang juga menjadi aktor dalam film period drama ini.

Berdurasi lebih dari 2 jam, film ini menampilkan satu kisah skandal pelecehan seksual dari tiga perspektif. Presentasinya mengingatkan kita pada film klasik Jepang, “Rashomon” yang mempopulerkan gaya narasi demikian.

Film ini mengalami kegagalan finansial juga karena dampak dari masa pandemi. Dijadwalkan rilis pada 25 Desember 2020, mundur ke 8 Januari 2021, hingga akhirnya rilis pada 15 Oktober 2021. Kemudian 45 hari kemudian sudah rilis secara digital. Lepas dari kualitasnya masih patut masuk koleksi film Ridley Scott terbaik, berbagai faktor menyudutkan kesusksesan finansial “The Last Duel”.

One from the Heart (1981) – Francis Ford Coppola

Budget: 26 Juta USD
Box Office: 636.796 USD

Francis Ford Coppola memiliki nama besar di dunia perfilman berkat kesuksesan “The Godfather” trilogy yang ikonik dan “Apocalypse Now”. Namun “One from the Heart” menjadi film gagal total di box office dengan pendapatan yang jauh lebih rendah dari budget dan visi ambisius dari Coppola. Film bergenre romansa musikal tersebut berlatar di Las Vegas, menggunakan teknologi dan desain latar inovatif pada masanya.

Sayangnya, lepas dari desain produksi yang ambisius, banyak yang mengulas film ini lemah dalam plot dan kedalaman cerita. Mengingat kasus yang serupa menimpah Martin Scorsese, ada saat dimana sutradara Hollywood ingin menciptakan film musikal. Genre tersebut dianggapa sebagai classic Hollywood yang bergengsi. Namun nyatanya, tak semua sutradara brilian bisa menciptakan film musikal yang menawan.

Dune (1984) – David Lynch

Budget: 40 Juta – 42 Juta USD
Box Office: 30.9 Juta – 37.9 Juta USD

Sebelum Denis Villeneuve menuai kesuksesan besar dengan “Dune”-nya, David Lynch menjadi sutradara pertama yang telah mencoba membawa semesta sci-fi dari novel Frank Herbert ke layar lebar pada 1984. Berbanding terbalik dengan Villeneuve, Lynch gagal menuai kesuksesan finansial. Padahal ia telah menandatangi kontrak untuk dua film dan telah dalam proses mengerjakan naskah sekuel. Namun karena film pertamanya gagal, rencana sekuel dibatalkan.

“Dune” versi David Lynch ini juga menerima berbagai ulasan negatif, dengan kesimpulan gagalnya mengadaptasi semesta sci-fi ke dalam film opera luar angkasa. Mulai dari narasi dan plot yang membingungkan, hingga kekurangan dalam mempresentasikan kedalam karakter dalam latar sci-fi yang bisa menantang untuk memikat penonton baru.

Bottle Rocket (1996) – Wes Anderson

Budget: 5 Juta USD
Box Office: 560.069 USD

Wes Anderson yang dikenal sebagai sutradara paling quirky saat ini mengawali karir filmnya dengan flop. “Bottle Rocket” adalah film debutnya sebagai sutradara dengan budget 5 Juta USD dengan pendapatan box office yang bahkan tidak sampai 1 Juta USD. Meskipun gagal secara finansial, “Bottle Rocket” menuai pujian dari sutradara papan atas, Martin Scorsese. Film debut Anderson tersebut masuk dalam daftar film terbaik Scorsese dari era 1990an.

Berkat valiadasi dari sutradara yang namanya sudah besar kala itu, Wes Anderson akhirnya mendapatkan budget 10 Juta USD untuk memproduksi “Rushmore”, yang akhirnya menjadi film breaktrhoug-nya. Meski belum mengalami kesuksesan besar lagi pasca “The Grand Budapest Hotel” pada 2014, ia masih aktif memproduksi film-film quirky dan kreatif yang cukup sukses di skenanya sendiri.

Babylon (2022) – Damien Chazelle

Budget: 78 Juta – 80 Juta USD
Box Office: 63.4 Juta USD

Sukses melalui film keduanya, “Whiplash” dan hampir memenangkan Best Picture dengan “La La Land”, kini Damien Chazelle berada di ‘purgatori’ karena kegagalan “Babylon”. Sama sekali bukan salah sang sutradara, “Babylon” adalah film terbaik dengan marketing terburuk di 2022. Ini seharusnya bisa menjadi breakthrough karir untuk aktor utamanya, Diego Calva, namun Brad Pitt dan Margot Robbie yang dipromosikan sebagai bintang utama. Banyak hal misleading dalam promosi filmnya.

Intisari film ini adalah perjuangan para sineas pada era 1920an Hollywood yang mengalami pasang surut karir karena transisi dari film bisu menjadi film dengan suara. Namun pada awal promosinya, “Babylon” hanya dipromosikan sebagai film tentang aktor-aktor berpesta pora pada masanya dengan jajaran aktor A-list Hollywood. Baru-baru ini, Damien Chazelle sendiri menyatakan tidak akan mendapatkan budget besar setelah kegagalan “Babylon”.

Tenet (2020) Christopher Nolan

Budget: 205 Juta USD
Box Office: 365.9 USD

“Tenet” merupakan film action sci-fi garapan Christopher Nolan dengan budget termahalnya. Meskipun mendapat raihan box office di atas budget, ditambah dengan biaya promosinya, “Tenet” harus meraih 400 Juta hingga 500 Juta USD box office untuk menghasilkan profit. Diperkirakan rugi 100 Juta USD, Warner Bros. sendiri menyatakan filmnya tersebut mengalami kerugian kurang dari 50 Juta USD.

Rilis tak lama setelah pandemi pecah, diantar awal masa karantina global, Nolan sempat mengalami kesulitan untuk mempromosikan dan merilis filmnya di bioskop.

Nolan sempat memanas ketika Warner Bros. mengumumkan menjual semua film yang akan mereka rilis ke HBO MAX karena krisis pandemi. Kondisi dunia yang sulit dan antusiasme penikmat film untuk datang ke bioskop yang menurun kala itu, cukup mempengaruhi performa “Tenet” yang tidak disambut dengan hype seperti film-film Nolan sebelumnya.

Late Night with the Devil Late Night with the Devil

Late Night with the Devil Review: Mimpi Buruk Talk Show Tengah Malam

Film

In a Violent Nature Review In a Violent Nature Review

In a Violent Nature Review: Slasher Horror dari Sudut Pandangan Pembunuh

Film

The Iron Claw Review The Iron Claw Review

The Iron Claw Review: Biopik Tragedi Pegulat Von Erich Bersaudara

Film

Furiosa A Mad Max Saga Review Furiosa A Mad Max Saga Review

Furiosa: A Mad Max Saga Review – Masa Lalu dan Dendam Furiosa

Film

Connect