Connect with us
Rilis pada tahun 2015, A Copy of My Mind merupakan film drama karya sutradara Joko Anwar.
Photo via iffr.com

Cultura Lists

10 Film Indonesia yang Memotivasi Perkembangan Film Lokal

Sederet film Indonesia yang mendorong industri perfilman lokal untuk lebih maju dan kreatif.

Film Indonesia menjadi industri perfilman yang masih jarang menghadirkan cerita yang baru di skea mainstream. Film-film lokal masih berkutat di genre horor supranatural, drama romansa, dan drama komedi. Tak sedikit produser dan filmmaker yang telah mencoba menyuguhkan sesuatu yang baru, namun kerap tersendat isu kebudayaan hingga pasar yang memang sudah nyaman dengan sajian film yang itu-itu saja setiap periodenya.

Berikut beberapa film Indonesia yang menghadirkan materi hingga tema yang baru dalam skenanya mulai dari era 2000an ke atas. Ada beberapa yang memiliki genre populer, namun naskahnya terasa fresh dan one of a kind. Adapula eksperimen genre dan elemen baru yang patut dipopulerkan di industri seni film kita.

Janji Joni (2005)

Joni (Nicholas Saputra) adalah seorang kurir roll film yang bekerja di bioskop lokal. Sepanjang karirnya, Ia mengaku bahwa dirinya tidak pernah terlambat dalam mengantarkan roll film. Hingga suatu hari, janji tersebut diuji oleh seorang perempuan (Mariana Renata) yang memikat Joni dengan imbalan nama.

“Janji Joni” memiliki plot yang sederhana dan fokus, kemudian dikembangkan dengan berbagai agenda seru yang memberikan dinamika dalam petualangan Joni. Ini masih menjadi film terbaik Indonesia dengan naskah komedi yang cerdas. Cameo-nya banyak namun berkesan, semua adegan berkesan tanpa ada plot hole yang tertinggal. Film ini yang membuat kita kadang rindu melihat Joko Anwar nulis naskah komedi lagi.

Fiksi. (2008)

Alisha (Ladya Cheryl) adalah gadis yang seumur hidupnya tinggal di sarang emas. Hingga suatu hari ia nekat kabur dari rumah untuk mengikuti pria yang cintai dan tinggal di rumah susun. Bari (Donny Alamsyah) adalah pria yang ia dambakan, ia sedang menulis novel tentang setiap orang yang tinggal di rusun tersebut. Demi memberikan akhir dari cerita Bari, Alisha pun melakukan hal yang tak terduga.

“Fiksi.” merupakan salah satu film psychological thriller terbaik, dengan protagonis anti-hero perempuan yang ikonik dalam skenanya. Mouly Surya terinspirasi oleh “Alice Adventure in Wonderland” untuk filmnya ini.

Kala (2007)

“Kala” menjadi film yang diakui sebagai film Indonesia pertama yang mengusung tema neo-noir oleh para kritikus film lokal pada masanya. Bahkan disebut-sebut sebagai lompatan tinggi dalam industri perfilman Indonesia.

Film ini bercerita tentang Janus (Fachri Albar), seorang jurnalis yang mengidap Narkolepsi. Suatu hari, ia mendengarkan video tape dengan pesan rahasia yang hanya boleh diketahui oleh satu orang.

“Kala” memang terinspirasi dengan gaya noir ala Hollywood, namun naskahnya mengandung referensi sejarah supranatural lokal. Meski masih banyak aspek yang bisa lebih baik, “Kala” masih menjadi naskah neo-noir paling menarik di koleksi film Indonesia.

Lovely Man (2011)

Film bertema LGBT sudah sejak lama mewarnai skena film Indonesia, salah satu yang paling original adalah “Lovely Man” dari sutradara Teddy Soeriaatmadja. Cahaya (Raihaanun) adalah murid pesantren yang ingin bertemu dengan ayahnya yang kerja di Jakarta, sudah lama sekali ia tidak bertemu. Namun tidak sesuai ekspektasinya, ayahnya, Syaiful (Donny Damara) adalah seorang waria.

Konsep dramanya sangat sederhana namun pesannya mendalam. Film Indonesia yang berani mengangkat karakter seperti ini juga masih jarang, padahal mereka juga bagian dari fenomena di sudut-sudut kota. Akting Donny Damara dalam film ini juga jadi penampilan terbaiknya.

What They Don’t Talk About When They Talk About Love (2013)

Film bergenre drama romantis memang sudah jadi salah satu yang paling mendominasi industri perfilman lokal, namun “What They Don’t Talk About When They Talk About Love” memiliki naskah paling original dalam koleksi lokal. Film ini konsepnya sederhana, yaitu mengenal cinta melalui perspektif para penyandang disabilitas. Mulai dari naskah, akting, sounds, hingga editing sinematografinya benar-benar setia dengan topik disabilitas yang menjadi tema utama.

Jika laki-laki jatuh cinta karena apa yang mereka lihat, sementara jatuh cinta karena apa yang mereka dengar, bagaimana orang dengan disabilitas jatuh cinta? Kita akan mengikuti kisah cinta Diana (Karina Salim) yang tidak memiliki pengelihatan sempurna, Fitri (Ayushita) yang buta sejak lahir, dan Edo (Nicholas Saputra), si dokter hantu yang bisu tuli.

A Copy of My Mind (2015)

Banyak film non-horor Joko Anwar memiliki tema naskah yang sangat original, mengangkat topik atau mengaplikasikan konsep plot yang menyuguhkan tontonan baru bagi penonton Indonesia. “A Copy of My Mind” merupakan film drama dengan isu sosial yang mencangkup banyak topik dari kehidupan di Ibu Kota.

Mulai dari kesenjangan sosial, kisah kaum pekerja keras level rendah, hingga isu politik kenegaraan dari sudut pandang penduduk awam, dalam kisah ini pasangan Sari (Tara Basro) dan Chicco Jerikho (Alek). Sinematografi dan sound mixing film ini juga jadi salah satu yang produksinya paling bagus di industri film lokal sejauh ini.

Qodrat (2022)

Film superhero Indonesia sempat ngetrend beberapa tahun belakangan. Sayangnya lebih banyak yang tidak memenuhi ekspektasi penonton dan flopped di bioskop lokal. Namun “Qodrat” membuktikan bahwa ada tema konsep superhero yang sesuai banget dengan genre favorit pasar Indonesia, namun tetap menghadirkan sesuatu yang baru.

Banyak yang beranggapan “Qodrat” adalah “Constantine”-nya Indonesia. Dibintangi oleh Vino G. Bastian sebagai Ustad Qodrat, ia memiliki kemampuan mengusir iblis yang bersemayam di tubuh manusia. Setelah banyak konsep superhero heroik yang kiblatnya ke MCU atau DCU, “Qodrat” bisa jadi inspirasi formula membuat film superhero lokal yang mampu mencuri hati penonton lokal.

Marlina, Si Pembunuh dalam Empat Babak (2017)

Jika Hollywood punya thriller western drama, film “Marlina, Si Pembunuh dalam Empat Babak” memiliki genre thriller dengan elemen daerah yang Indonesia banget. Plotnya kurang lebih seperti “Kill Bill”, dimana protagonis wanitanya menolak untuk melupakan orang-orang yang telah memberinya kemalangan dengan memburu mereka satu per satu. Namun kisah Marlina sendiri memiliki latar dan nuansa yang sangat original.

Entah kenapa masih sedikit filmmaker yang berani mengeksplorasi lokasi film Nusantara, serta tema-tema daerah yang bisa disulap hampir menjadi genre apapun. Mulai dari horor, maupun naskah drama dengan isu-isu lokal yang sebenarnya sudah ada di masyarakat kita. Namun dipoles dengan plot yang lebih dramatis seperti ‘Marlina’ ini.

Posesif (2017)

Kebanyakan film drama romantis Indonesia mengangkat cerita dan plot yang itu-itu saja. Kalau tidak drama melankolis tentang salah satu karakter yang mengidap penyakit, paling ya drama komedi romantis lagi. “Posesif” merupakan film drama remaja dengan naskah yang mengangkat isu dalam percintaan anak remaja. Terutama tentang hubungan toxic dan bagaimana pengaruhi parenting orang tua akan hal tersebut.

Bagi Lala (Putri Marino), Yudhis (Adipati Dolken) adalah pengalaman pacaran pertamanya. Namun Yudhis ingin hubungan mereka menjadi selamanya. “Posesif” memberikan sensasi baru dalam menonton film romansa Indonesia, meski terlihat bagaimana Gina S. Noer sebagai penulis naskah masih menahan kemampuannya dalam menulis naskah yang berani untuk film ini.

Ngeri Ngeri Sedap (2022)

Sebagai negara yang memiliki banyak warisan adat dan terdiri dari banyak laar belakang budaya, harusnya lebih banyak lagi film-film bermuatan daerah yang di produksi oleh Indonesia. “Ngeri Ngeri Sedap” menjadi yang terbaik dalam skena ini meski sudah ada beberapa film dengan elemen daerah yang semakin marak di industri lokal.

Diceritakan Pak Domu (Arswendy Bening Swara) dan Marlina, istrinya (Tika Panggabean) berpura-pura ingin cerai demi membujuk ketiga anak laki-lakinya pulang ke kampung halaman mereka di Sumatera. Film ini tak hanya menyajikan problematika keluarga Batak yang otentik, namun juga memaksimalkan lokasi syutingnya di Sumatera Utara sebagai pendukung sinematografi film Indonesia yang menawan.

Oppenheimer & Maestro Oppenheimer & Maestro

Oppenheimer & Maestro: Film Biopik yang Miliki Banyak Kesamaan

Entertainment

Tiger Stripes Tiger Stripes

Tiger Stripes Review: Body Horror Pubertas Akibat Minim Edukasi

Film

What to Stream on Valentine’s Day

Cultura Lists

MTV Unplugged in New York - Nirvana MTV Unplugged in New York - Nirvana

10 Album Musik Ikonik 30 Tahun di 2024

Cultura Lists

Connect