Connect with us
Video Klip Musik Rock Studio Performance 2000an TerbaikVideo Klip Musik Rock Studio Performance 2000an Terbaik
My Chemical Romance - Welcome To The Black Parade

Cultura Lists

Nostalgia Video Klip Musik Rock Studio Performance 2000an Terbaik

Sebelum trend pre-record konser virtual, band rock era 2000an sudah menyajikan studio performance yang ikonik.

Tampil dalam format full band merupakan identitas utama sebuah band rock. Baik di atas panggung maupun dalam video klip. Meski kini telah banyak konsep video klip yang berkembang menjadi video sinematik dengan editing ekstra, hingga eksekusi sekelas film pendek, konsep full band performance masih menjadi konsep klasik sekaligus tak tergantikan yang bisa memukau jika dieksekusi dengan baik.

Pada era musik rock 2000an, banyak video klip dengan konsep studio performance yang ikonik hingga saat ini.

Sebelum trend pre-record performance pada masa konser virtual yang sedang marak saat ini, sepertinya band rock pada era 2000an telah menerapkan konsep serupa dengan eksekusi yang tak kalah teknologinya. Mari bernostalgia dengan sederet video klip studio performance rock dari era 2000an.

Faint – Linkin Park

“Faint” merupakan single kedua Linkin Park untuk album “Meteora” pada 2003. Video klipnya disutradarai oleh Mark Romanek, dengan konsep Linkin Park tampil di panggung dengan penonton yang riuh membawakan lagu mereka yang up beat tersebut.

Sepanjang video klip, setiap member LP diambil gambarnya dari belakang, jadi kita bisa melihat hype pada penonton dan siluet setiap member yang epic karena properti floodlight. Hingga akhirnya kita bisa melihat ekspresi LP dari depan ketika memasuki chorus penutup.

Dengan konsep yang sebetulnya simple, video klip “Faint” tetap menarik untuk ditonton berkali-kali karena keseruan dan atmosfer panggung yang terasa nyata sekalipun semua merupakan script.

Coldplay – Speed of Sounds

‘Speed of Sounds’ merupakan single Coldplay dari album “X&Y” pada 2005. Video klip dengan konsep studio performance satu ini juga disutradarai oleh Mark Romanek. Jika dibandingkan, ‘Faint’ dari Linkin Park dan ‘Speed of Sound’ pada dasarnya memiliki konsep video klip yang cukup serupa. Dalam video klip ‘Speed of Sound’, Mark membangun semacam dinding LED, lampu animasi yang bisa kita lihat bersinar di belakang para member Coldplay sepanjang video.

Berkolaborasi dengan lighting designer, Michael Keeling, animasi LED yang kita saksikan tidak ditampilkan secara acak. Animasi dan warna yang diciptakan merupakan hasil dari ‘stem’ musik yang tercipta melalui setiap instrumen dan vokal Chris Martin dalam lagu ‘Speed of Sound’.

Tidak sesederhana yang terlihat, video klip Coldplay satu ini bisa dibilang memiliki proses yang sangat teknikal dan patut diapresiasi dalam seni pencahayaan panggung dalam sebuah live performance.

Is It Any Wonder? – Keane

Salah satu hits single ikonik dari Keane pada era 2000an adalah ‘Is It Any Wonder?’, dari album “Under the Iron Sea” pada 2006. Kevin Godley sebagai sutradara memberikan usaha lebih dengan membangun track seperti mini roller coaster untuk video klip lagu Keane ini. Dimana kamera melaju layaknya mobil tamiya dalam track, mengambil gambar setiap member Keane yang sedang membawakan ‘Is It Any Wonder?’, terpisah di tengah-tengah track.

Lagu dengan ketukan 4/4 dan tempo 130 bpm ini terlihat sinkron dengan kecepatan kamera yang melaju, membuat video ‘Is It Any Wonder’ terlihat dinamis meski dengan konsep yang minimalis. Namun bisa kita lihat, justru persiapan secara teknisnya perlu usaha besar dalam persiapannya.

Welcome to The Black Parade – My Chemical Romance

Bekerja sama dengan Samuel Bayer untuk mengerjakan video klip sudah menjadi impian bagi para member My Chemical Romance. Samuel Bayer terkenal melalui karya dengan Nirvana, Green Day, hingga The Smashing Pumpkins.

‘Welcome to The Black Parade’ merupakan puncak kesuksesan dari MCR pada 2006 silam. Hal tersebut tak lepas dari kemegahan yang disajikan melalui video klipnya yang pada itu menjadi special feature di MTV dalam program Artist of the Month. Melalui video klip itu saja, MCR mampu menciptakan mini cult classic dengan semesta The Black Parade.

Konsep utamanya adalah MCR menjadi bintang utama dalam The Black Parade, sebuah festival marching band di alam baka. Mulai dari latar hingga kostum, video klip ini memberikan usaha terbesarnya untuk menghidupkan visi Gerard Way. Pada video ‘Famous Last World’, MCR membakar panggung The Black Parade mereka sebagai latar video klip.

Vertigo – U2

‘Vertigo’ merupakan video klip dari U2 yang memenangkan penghargaan Grammy sebagai Best Short Form Music Video pada 2005. Sebagai rilisan video klip 2000an, ‘Vertigo’ memiliki penerapan CGI yang dinamis dan smooth untuk memvisualisasikan energi dari lagu rock yang up beat ini.

Para member U2 diperlihatkan membawakan lagu ‘Vertigo’ di tengah padang gurun, di tengah-tengah bullseye yang sama dengan cover album mereka. Syuting dilakukan di Punta Del Fangar, Spanyol, disutradarai oleh tim Alex & Martin.

The Pretender – Foo Fighters

Meski hanya dengan empat member Foo Fighters melawan pasukan polisi dengan armour lengkap, video klip ‘The Pretender’ berhasil menampilkan semangat heroik dan pemberontakan yang epic.

Disutradarai oleh Sam Brown, video klip ‘The Pretender’ dieksekusi di sebuah hanggar pesawat terbang, disulap menjadi area protes berlantai putih dengan latar merah dari bahan solid. Dalam progresnya, kita akan melihat anggota polisi yang semakin banyak dan mulai menyerang Foo Fighters memasuki chorus terakhir.

Menonton video klip ini untuk pertama kalinya, kita akan diberi kejutan dengan ledakan latar merah yang berubah menjadi banjir, memiliki sinkronisasi sempurna dengan musik.

Dani California – Red Hot Chilli Peppers

Red Hot Chilli Peppers merupakan salah satu band yang suka bersenang-senang melalui video klipnya. Salah satu video klip paling ikonik dan menyenangkan untuk ditonton dari band ini adalah ‘Dani California’, disutradarai oleh Tony Kaye.

Dalam video klip ‘Dani California’, para member RHCP menampilkan parodi dari berbagai band rock maupun solois lintas era dan genre. Mulai dari Elvis Presley, The Beatles, Jimi Hendrix, Cream, Parliament-Funkadelic, David Bowie dalam persona Ziggy Stardust-nya yang ikonik, Sex Pistols, hingga remake penampilan Nirvana dalam MTV Unplugged. Kemudian diakhiri dengan RHCP yang tampil sebagai diri mereka sendiri.

Last Nite – The Stroke

Awalnya, semua member The Stroke tidak setuju untuk membuat video klip untuk ‘Last Nite’. Setelah diberikan konsep yang simple, akhirnya mereka setuju untuk mengeksekusi video klip. Rasa lesu dan keengganan pada member The Stroke akhirnya tertangkap sempurna dalam video klip yang merupakan parodi dari video klip Sum 41, ‘Still Waiting’, memberikan sentuhan komedi yang cukup membuat kita tertawa.

Audio dari video klip ‘Last Nite’ direkam secara live, membuat penampilan dalam video ini terasa otentik. Kita beranggapan bahwa Julian Casablanca mungkin sedang mabuk, melempar stand mic, menabrak bandmates-nya, hingga insiden-insiden kecil yang terlihat terjadi sangat natural.

Starlight – Muse

Sesuai dengan lirik lagu ‘Starlight’, Muse ingin video klip dari single mereka tersebut dieksekusi dengan konsep mereka terdampar di tengah laut, di atas kapal. Disutradarai oleh Paul Minor, ‘Starlight’ melangsungkan syuting di atas kapal muatan minyak di perairan Los Angeles.

Dikisahkan Muse terdampar di tengah laut, membawakan lagu ‘Starlight’ sambil menembakan sinyal S.O.S pada malam hari, namun pada akhir video, ditunjukan bahwa tidak ada yang datang menolong mereka.

Ride – The Vines

The Vines bisa jadi merupakan band rock asal Australia underrated pada era 2000an. Band ini seringkali menggunakan konsep band performance untuk video klipnya, “Ride” merupakan salah satu dengan konsep yang rock n’ roll banget dan menyenangkan untuk ditonton.

Video klip ‘Ride’ akan mengingatkan kita pada project Rockin’1000 namun dalam skala yang lebih kecil. The Vines tampil di sebuah auditorium yang lapang, namun setiap kali memasuki bagian chorus, kita akan melihat sekelompok orang random muncul bernyanyi dan membawakan lagu bersama mereka.

Video klip ini memperlihatkan keanekaragaman dan keseruan menikmati musik punk rock lepas dari gaya berpakaian maupun selera musik masing-masing orang.

plot hole house of the dragon plot hole house of the dragon

7 Plot Hole dalam House of the Dragon Sejauh Ini

Cultura Lists

Woman King Woman King

Rekomendasi Film Terbaru Oktober 2022

Cultura Lists

Marriage Story Review Marriage Story Review

10 Rekomendasi Film Tentang Perceraian

Cultura Lists

Paramore: This is Why Paramore: This is Why

Paramore: This is Why Single Review

Music

Connect