Connect with us
Hirokazu Koreeda
Photo via norwichfilmfestival.co.uk

Cultura Lists

Best of Hirokazu Koreeda

Mulai dari Shoplifters, Broker, hingga Monster.

Hirokazu Koreeda adalah sutradara Jepang yang paling familiar di skena perfilman internasional saat ini. Beberapa tahun ini konsisten merilis film-film yang menarik perhatian dan memenuhi ekspektasi penggemar film drama kehidupan dengan komentar sosial yang penting.

Koreeda membawa genre slice of life yang populer dari Jepang dengan kedalaman emosi yang menyentuh hati penontonnya. Sering kita lihat mengeksplorasi latar cerita drama keluarga, kehilangan, dan interaksi antar manusia.

Pendekatan Koreeda dalam filmnya seringkali subtil dan rumit, disajikan dengan narasi menarik yang membuat penonton tak keberatan untuk merefleksikan ceritanya kembali setelah menonton.

Film-film Koreeda kerap membuat kita mengeksplorasi kembali nila-nilai norma dan moral dalam kehidupan manusia. Mengajak kita untuk menjadi pengamat yang bijak dari perspektif yang sinematik. Eksplorasi kerumitan kehidupan manusia melalui film-film terbaik Hirokazu Koreeda.

After Life (1998)

Jika bisa memilih satu memori untuk diingat selamanya setelah kita meninggal, kenangan mana yang akan kita pilih? Koreeda menciptakan “After Life” dengan pertanyaan yang langsung datang dari hatinya, dimana kemudian ia tanyakan pada orang-orang Jepang yang ia temui demi mengumpulkan materi film ini. Dari materi yang berasal dari kenangan nyata kemudian dipadukan dengan konsep film drama fantasi, “After Life” bercerita tentang sekelompok orang yang meninggal.

Mereka kemudian harus menentukan satu kenangan paling berharga dari kehidupan masing-masing, mengabadikannya dalam bentuk film, untuk dibawa ke alam baka. Film ini menjadi perayaan akan kehidupan, kenangan, serta sinema sebagai medium seni sekaligus wadah memori yang memiliki nilai sentimen. Layaknya pendekatan Koreeda dalam film-filmnya yang selalu seputar kehidupan manusia dari berbagai latar.

The Third Murder (2017)

Shigemori adalah pengacara terkenal hendak membela Misumi. Misumi menjadi tersangka dari kasus pembunuhan dan perampokan. Situasinya semakin sulit ketika Misumi 30 tahun yang lalu adalah terpidana untuk kasus pembunuhan yang berbeda. Ini menjadi kasus yang tampak sulit untuk dimenangkan oleh Shigemori, terutama karena Misumi juga telah mengiyakan tuduhan, dengan ancaman hukuman mati jika memang terbukti bersalah.

Namun, seiring Shigemori mendengarkan pernyataan dari keluarga korban dan Misumi, ia mulai mempertanyakan kebenaran dari pengakuan Misumi sebagai pembunuh dalam kasus ini. “The Third Murder” menjadi film legal drama dengan topik pengendalian, fatherhood, dan kebenaran. Dibintangi oleh Masaharu Fukuyama dan aktor senior Koji Yakusho yang baru-baru ini kembali mencuri perhatian melalui “Perfect Days”.

Still Walking (2008)

“Still Walking” dibintangi oleh Hiroshi Abe sebagai Ryota Yokoyama, seorang pria yang enggan namun harus pulang kampung untuk mengenang kepergian anggota keluarga tercintai dalam tragedi 12 tahun lalu. Tidak sendirian, kali ini Ryota mengajak istri barunya yang seorang janda dengan satu putra. Chinami, saudari perempuan Ryota, juga pulang kampung bersama keluarganya.

“Still Walking” merupakan potrait keluarga dalam latar waktu 24 jam dalam film berdurasi 1 jam 55 menit. Melalui waktu yang mereka habiskan bersama seharian, kita bisa mengenal masa lalu, tragedi, dan bagaimana mereka melanjutkan hidup bersama keluarga baru masing-masing.

Nobody Knows (2004)

Salah satu keahlian Hirokazu Koreeda yang “menyebalkan” adalah menciptakan film drama tragedi yang menyentuh sekaligus mampu menyakiti hati penontonnya. Salah satunya dari koleksi lama adalah “Nobody Knows” yang dibintangi oleh Yagira Yuya yang saat film ini masih muda sekali. Kini sang aktor sudah dewasa dan membintangi serial thriller “Gannibal” yang bersiap kembali dengan season terbaru.

“Nobody Knows” bercerita tentang empat anak; Akira, Kyoko, Shigeru, dan Yuki, yang masih berusia antara lima hingga dua belas tahun. Mereka adalah saudara tiri satu ibu namun ayah yang berbeda-beda. Suatu hari ibu mereka pergi dan tidak pernah kembali, memakasa keempatnya bertahan hidup dengan saling mengandalakan satu sama lain. yang semakin bikin miris, film ini diangkat dari kasus nyata penelantaran anak yang terjadi di Jepang pada 1988.

Like Father, Like Son (2013)

Cerita bayi yang tertukar telah diangkat ke sinetron dan banyak drama di berbagai negara. Salah satu yang berbobot dan sinematik datang dari Koreeda, “Like Father, Like Son”. Dikisahkan dua bocah berusia 6 tahun bernama Keita dan Ryusei dibesarkan oleh dua keluarga berbeda. Keita besar di keluarga aritek terpandang, sementara Ryusei anak pemiliki toko elektronik yang pas-pasan. Namun keduanya sebetulnya tumbuh terawat di masing-masing keluarganya.

Namun, ketika pihak rumah sakit mengungkapkan insiden yang terjadi, kedua keluarga bertemu untuk menentukan nasib kedua bocah tersebut. “Like Father, Like Son” mengeksplorasi kerumitan dan dilema yang dirasakan oleh orangtua ketika mengetahui identitas asli dari anak mereka. Dikembangkan dalam naskah drama yang berkualitas ala Koreeda.

Our Little Sister (2015)

“Our Little Sister” adalah film drama keluarga dengan hubungan yang rumit antara empat bersaudara. Sachi, Yoshino, dan Chika adalah tiga bersaudara yang tinggal bersama kakek nenek mereka setelah orangtua mereka bercerai. Setelah lima bealas tahun tidak bertemu, mereka menerima kabar bahwa ayah mereka meninggal. Dalam acara pemakaman, mereka bertemu dengan anak ayah mereka dari istri baru, Suzu, adik mereka yang masih berusia 14 tahun.

“Our Little Sister” diangkat dari manga “Umimachi Diary” karya Akimi Yoshida. Drama keluarga bertema sisterhood ini mengeksplorasii hubungan persaudaraan yang tidak terduga. Dalam situasi yang memiliki kerumitan spesifik namun terlihat natural.

The Truth (2019)

Tak hanya film Jepang, Hirokazu Koreeda juga memiliki beberapa film dengan bahasa dan latar di negara lain. “The Truth” adalah film berbahasa Prancis dan Inggris, dibintangi oleh Catherine Deneuve, Juliette Binoche, dan Ethan Hawke. Dalam film ini, Koreeda menyajikan drama reuni yang tidak berjalan dengan harmonis antara ibu dan anak perempuannya.

Fabienne adalah aktris Prancis yang terkenal, bersiap merilis buku autobiografi. Lumir, putrinya dibuat kesal ketika ibunya meluncurkan bukunya sebelum mendapat persetujuan darinya yang juga menjadi bagian dalam buku tersebut. Ia merasa ibunya tidak menceritakan kebenaran sebagai sosok ibu bagi Lumir. “The Truth” adalah film ‘bukan bahasa Jepang’ pertama Koreeda.

Shoplifters (2018)

“Shoplifters” menjadi film dengan kesuksesan komersil. Ini menjadi film yang membuat nama Koreeda populer di skena perfilman global. Film ini masuk nominasi dan berhasil memenangkan piala Oscar untuk kategori Best Internaional Feature Film.

Kisah dimulai ketika Osamu dan putranya, Shota, menemukan gadis kecil yang terlantar, Yuri. Lepas dari kondisi keluarga mereka yang sulit, dimana Osamu menyambung hidup mencuri barang-barang di toko.

Namun lepas dari profesi dan ketidaksatabilan hidup, kita akan melihat bagaimana mereka adalah keluarga yang merawat Yuri dengan baik. “Shoplifters” hendak membuat kita mempertanyakan kembali nilai suatu keluarga dari sudut pandang yang kerap dipandang rendah. Banyak kita pasti lebih menghakimi keluarga Osamu jika tidak memberikan kesempatan untuk melihat cerita dari sudut pandang mereka.

Broker (2022)

Satu lagi film Koreeda yang tidak berbahasa Jepang adalah “Broker”. Film ini sempat populer dan sukses tayang di bioskop Indonesia. Dibintangi oleh Kang ho Song, IU, Gang Dong-won, dan Bae Doona. Kurang lebih serupa dengan “Shoplifters”, “Broker” juga menantang penontonnya mengobservasi kembali nilai moral dan kepantasan dari praktek kehidupan yang menyimpang.

Seorang ibu meninggalkan bayinya di ‘baby box’ gereja, dimana fenomena ini sudah dikenal sebagai salah satu alternatif bagi ibu yang kesulitan. Namun Sang-hyeon dan Dong-soo bersekongkol untuk menjual bayi dalam adopsi ilegal dengan menculik bayi dari ‘baby box’. Meskipun terdengar seperti tindakan kriminal yang gelap, “Broker” justru memiliki kisah yang akan menghangatkan hati penontonnya.

Monster (2023)

“Monster” juga menjadi film terbaru Hirokazu Koreeda yang sempat ramai diperbincangkan di Indonesia. Berbeda dengan film-film sebelumnya, film drama yang mengeksplorasi persahabatan rumit antara dua bocah dalam kisah ini dibawakan dalam berbagai perspektif karakter. Eksekusi pengulangan plot dari perspektif berbedanya cukup mirip dengan film Jepang klasik, “Rashomon” (1950).

Dibintangi oleh dua aktor muda, Soya Kurokawa dan Hinata Hiiragi sebagai Minato dan Yori. Ketika Minato mengalami perubahan sikap yang tidak bisa dipahami, ibunya memohon penjelasan pada pihak sekolahan yang justru memperkeruh suasana. “Monster” tak hanya mengangkat kompleksitas masa puber, namun juga sistem pendidikan, serta kemampuan menghakimi penonton ketika menjadi saksi dari suatu skenario.

The Iron Claw Review The Iron Claw Review

The Iron Claw Review: Biopik Tragedi Pegulat Von Erich Bersaudara

Film

Furiosa A Mad Max Saga Review Furiosa A Mad Max Saga Review

Furiosa: A Mad Max Saga Review – Masa Lalu dan Dendam Furiosa

Film

Monkey Man Review Monkey Man Review

Monkey Man Review: Bukan John Wick Versi India

Film

The First Omen The First Omen

The First Omen Review: Prekuel Horor Religi Lebih Sinematik

Film

Connect