Film

Pengabdi Setan 2 – Communion Review: Pengalaman Horor Lokal yang Kelewat Exhausting

Hadir dengan production value lebih besar dan promosi jor-joran, ‘Pengabdi Setan 2: Communion’ justru berakhir melelahkan dan kelewat over-the-top.

Bagi penikmat film Indonesia, Joko Anwar merupakan sosok sineas yang dielu-elukan dengan sederet karyanya, termasuk ‘Pengabdi Setan’ sebagai film terlaris sepanjang kariernya. Karena popularitas dari film tersebut, hadir sekuelnya yang berjudul ‘Pengabdi Setan 2: Communion’ yang tayang reguler mulai 4 Agustus 2022 ini.

‘Pengabdi Setan 2: Communion’ merupakan film terbaru produksi Rapi Films yang disutradarai oleh Joko Anwar. Dibintangi oleh ensemble cast seperti Tara Basro, Endy Arfian, Nasar Anuz, dan Bront Palarae, film horor ini melanjutkan kisah dari Rini dan keluarganya yang pindah di rumah susun daerah Utara. Akan tetapi, Rini dan adik-adiknya harus berhadapan kembali dengan teror mengerikan seiring dengan meninggalnya para penghuni di rusun tersebut.

Pengabdi Setan 2

Secara narasi, ‘Pengabdi Setan 2: Communion’ hadir dengan scope yang jauh lebih luas dibanding prekuelnya. Dalam film ini, penonton diperlihatkan cerita dari berbagai sisi, tak hanya dari keluarga Rini. Pada bagian awal, film bermain-main dengan pembangunan berbagai karakter yang menjadi central di dalamnya. Seiring berjalan, film berusaha untuk menguraikan berbagai hal yang masih ditinggalkan pada film pertamanya lima tahun lalu.

Meski begitu, berbagai hal yang telah dibangun sedemikian rupa seakan buyar kala film sudah memasuki pertengahan durasinya. ‘Pengabdi Setan 2: Communion’ tampil menghujani penonton dengan teror yang tampak sangat generic dan terasa mengulang formula menebar ketakutan yang diberikan pada film pertamanya. Berbeda dengan prekuel, banyak sekali elemen horor yang terasa misfired dan justru berakhir mengundang tawa karena terlihat sangat predictable serta kelewat absurd.

Elemen horor dalam sekuel ‘Pengabdi Setan’ juga ditingkatkan dengan hadirnya elemen sadis yang kadarnya lebih banyak. Akan tetapi, sadistic nature tersebut tampak masih terasa tanggung, salah satunya bisa jadi karena film ini ditujukan untuk penonton remaja fase awal yang membuatnya cenderung lebih ringan. Bisa dibilang, kesadisan ini menjadikan film kesekian arahan Joko Anwar tersebut tampak terlalu menjunjung style tanpa substance berarti.

Narasi yang terlihat tidak terlalu spesial pada ‘Pengabdi Setan 2: Communion’ diselamatkan dengan hadirnya berbagai ensemble cast yang memukau dengan caranya masing-masing. Nasar Anuz dan Endy Arfian tampak lebih bersinar dengan role yang lebih besar di sini, menutup penampilan Tara Basro dan Bront Palarae yang tergolong lebih senior di industri. Hadirnya berbagai pelakon cilik juga tak kalah menarik, terutama Muzakki Ramdhan dan Muhammad Adhiyat yang jauh lebih menawan meski dengan screen time lebih singkat.

‘Pengabdi Setan 2: Communion’ juga hadir dengan segi teknis yang digadang-gadang memberikan whole cinematic experience kala dinikmati di bioskop dengan teknologi IMAX. Akan tetapi, hal tersebut justru memberikan bumerang sepanjang durasinya. Camera work tampak sangat shaky, terutama pada momen-momen menegangkan yang memberikan efek memusingkan.

Scoring yang terlalu nge-bass terasa misplaced, membuat adegannya terasa mengganggu pengalaman sinematik. Selain itu, dua aspek tersebut dihadirkan lebih banyak pada momen-momen klimaks dan ditambah dengan flashing lights yang berpotensi mengundang seizure.

Di balik kacaunya teknis dalam sekuel ‘Pengabdi Setan’ tersebut, masih ada hal yang patut diapresiasi di film ini. Salah satunya yang paling menarik adalah bagaimana transisinya ditampilkan dengan sangat halus, sesekali mampu membangun kemistisan dari adegan terkait. Selain itu, nuansa dari Jakarta tahun 80an juga tampak tepat dengan vibe ala beberapa film Joko Anwar beberapa tahun lalu.

Hadirnya lagu ‘Rahasia Dendam’ dan ‘Kelam Malam’ yang diisi oleh The Spouse sebagai soundtrack juga cukup mampu memberikan nuansa kelam dan mistis dari film ini.

Pada akhirnya, ‘Pengabdi Setan 2: Communion’ adalah film horor lokal yang kelewat exhausting dan over-the-top, terutama bila dinikmati pada bioskop berlabel IMAX. Secara substance, film arahan Joko Anwar ini menempati peringkat pertama dari bawah, menggusur ‘Gundala’ yang tayang 2019 lalu.

Film ini hanya akan cocok ditonton apabila ingin mencari jawaban dari cliffhanger pada prekuelnya, meski hal tersebut hanya akan dijawab sepenuhnya pada sekuel yang entah kapan hadirnya.

Galih Dea

Bachelor of Computer Science with interest in content writing. Passionate in movie, game, and technology.

Share
Published by
Galih Dea