Connect with us
Pengabdi Setan: Dulu vs Sekarang
Pengabdi Setan (2017)

Entertainment

Pengabdi Setan: Dulu vs Sekarang

Dikatakan sebagai salah satu staple dalam sinema horor Indonesia, dua versi Pengabdi Setan memiliki cita rasa yang tergolong berbeda.

Horor merupakan salah satu genre film yang sedang populer di dunia, terutama di Indonesia. Tak heran jika film dengan genre tersebut kerap laris kala perilisannya, bahkan beberapa di antaranya bisa mendapatkan berjuta-juta penonton dalam waktu singkat. Ada banyak sekali judul film horor, salah satunya yang paling dikenal adalah Pengabdi Setan.

Pengabdi Setan merupakan film lawas Indonesia yang rilis pada tahun 1980 dari sutradara Sisworo Gautama Putra. Beberapa tahun setelah perilisannya, film tersebut menjadi populer di kalangan pencinta film horor di mancanegara. Inilah salah satu alasan Rapi Films merilis reboot berjudul sama pada 2017 lalu yang diarahkan oleh Joko Anwar dan meraup 4 juta penonton pada penayangannya di bioskop.

Walau memiliki judul dan genre yang sama, dua versi Pengabdi Setan ini memiliki beberapa perbedaan. Ragam hal tersebutlah yang dapat membuat penonton bisa memilih versi mana yang lebih disukai nantinya.

Pengabdi Setan: Dulu vs Sekarang

Premis cerita dari kedua versi Pengabdi Setan sejatinya sama, yakni satu keluarga yang diteror oleh kehadiran setan setelah perginya sang ibu. Akan tetapi, berbagai elemen penceritaan yang diusung pada dua versinya cukup berbeda.

Sisi narrative dari dua Pengabdi Setan juga memiliki perbedaan yang berbeda pada intisarinya. Pada versi original, penonton akan digiring dengan fakta mengenai minimnya iman pada Islam yang berpengaruh pada gangguan yang dialami oleh para anggota keluarga. Hal ini diganti pada reboot, di mana gangguan hadir karena kesepakatan dengan iblis.

Walau berbeda, keduanya membawakan intisari yang sebenarnya masih sangat relate dengan kejadian di Indonesia. Meski begitu, pembawaan dari versi original lebih terasa grounded, lain dengan reboot yang cenderung lebih kental dengan rasa western horror pada berbagai scene-nya.

Pengabdi Setan versi lawas berfokus pada keluarga yang kaya raya dan condong duniawi, mulai dari ayah hingga dua anaknya. Inilah yang membuat versi reboot dari Joko Anwar berbeda, di mana fokusnya diubah ke keluarga yang miskin dan dengan anggota yang lebih besar, yakni ada tambahan nenek dan empat anak.

Dari karakterisasi di dua versi ini, Pengabdi Setan versi asli mampu membawakan masing-masing karakternya dengan baik, sehingga memudahkan penonton untuk memahami mereka dan mungkin jadi peduli dengan apa yang terjadi di sana. Lain halnya dengan versi reboot Joko Anwar yang menampilkan lebih banyak karakter namun terasa dangkal dalam pendalamannya, sehingga hanya muncul demi jadi objek untuk mengamplifikasi ketakutan yang dirasakan penonton.

Setelah itu, aspek paling berbeda yang dimiliki masing-masing Pengabdi Setan adalah bagaimana kengeriannya dibawakan dan efek yang hadir pada berbagai adegan horornya. Pada versi original, adegan horornya lebih banyak bermain pada ghost prosthetics yang mengerikan di masanya. Namun, bila ditonton di masa kini, rasanya formula menakuti seperti ini sudah terasa usang.

Aspek ini yang diamplifikasi oleh Joko Anwar pada reboot Pengabdi Setan. Setan-setan yang muncul tetap menggunakan prosthetics yang mengerikan. Akan tetapi, sang sutradara menerapkan jumpscare sebagai salah satu teknik dalam menakuti penonton. Cara inilah yang mampu memberikan rasa kejut dan ngeri kala menontonnya, sehingga standar horornya tidak ketinggalan dengan film-film ber-genre sama.

Pengabdi Setan versi reboot memang hadir sebagai film yang seakan mengubah pandangan penonton terhadap film horor Indonesia dan membawa ekspektasi penikmat film genre tersebut ke tingkat yang baru. Akan tetapi, sisi narrative yang seharusnya menjadi salah satu core hanya hadir sebagai selingan dan menjadikannya beberapa langkah ke belakang dibanding versi original-nya.

Click to comment
Advertisement
Cultura Live Session
Connect