Connect with us
Declan McKenna
Photo by Roberto Ricciuti/Redferns

Music

Declan McKenna: Zeros Album Review

Filosofi kehidupan yang dibalut musik rock glam 70-an.

★ ★ ★ ★ ★
★ ★ ★ ★ ★

Melalui album pertamanya, “What Do You Think About the Car?” pada 2017 lalu, Declan McKenna berhasil menyandang gelar sebagai ‘voice of his generation’. Debut pada usia belasan tahun, musisi asal London ini kerap mengangkat isu sosial, politik, dan kegelisahan yang dirasakan oleh remaja seusiannya. Mulai dari lagu ‘Isombard’ hingga ‘Paracetamol’ yang terinspirasi dari kisah pilu remaja trangender, Leelah Alcorn.

Semakin bertambahnya usia, Declan McKenna yang kini telah beranjak 21 tahun dan merilis album keduanya yang bertajuk “Zeros”. Tak lagi menjadi suara untuk generasinya saja, melalui album ini Declan hendak mencurahkan pemikiriannya tentang kehidupan dan bagaimana dirinya berusaha menjadi manusia. Materi tersebut dikemas dengan tema alam semesta dan aransemen musik glam rock dari tahun 1970-an.

Mengaku sebagai penggemar David Bowie, album kali ini memiliki konsep terasa seperti era musisi legendaris membawakan persona Ziggy Stardust pada tahun 1972. Bukan kisah fiksi tentang alien yang bertahan hidup di Bumi, “Zeros” lebih dekat dengan realita masa kini.

Declan McKenna Zeros

Declan McKenna – Zeros

Dibuka dengan instrumen drum yang agresif dari track ‘You Better Believe!!!’. Track upbeat ini bagai asteroid yang menghatam Bumi dengan aransemennya yang dinamis dan mengandung banyak layer instrumen, yang kemudian diakhiri dengan instrumen piano lembut, dengan medley yang mulus menuju track berikutnya, ‘Be an Astronaut’. Track ini memiliki makna tentang bagaimana kita terlahir sebagai manusia dengan cita-cita yang terkadang memiliki konsekuensi besar dalam hidup. Namun begitulah kehidupan harus berjalan. ‘Astronut’ menjadi metafora dari cita-cita yang tinggi dan beresiko tinggi. Track satu ini sangat kental akan aransemen slow glam rock, mulai dari pembawaan vokal Declan, dinamika melodi, hingga pemilihan chord untuk setiap instrumen.

‘The Key to Life on Earth’ merupakan single kedua yang dirilis dengan video klip berkolaborasi dengan aktor Alex Lawther (The End of The F***ing World). Track ini menjadi single yang menimbulkan ekspektasi akan musik rock 70-an pada album ini.

Sempat tumbuh di lingkungan yang membuatnya bersinggungan dengan dua kelas masyarakat yang bertolak belakang. Declan melihat bahwa setiap orang dari kelas tertentu merasa dirinya yang paling tahu dan paling benar, padahal mereka sama sekali tak memahami satu sama lain. Dilanjutkan dengan track ‘Beautiful Faces’ menjadi track yang memiliki aransemen musik rock alternative fresh, merupakan single pertama dari album ini.

‘Daniel, You’re Still a Child’ merupakan track dengan sosok bernama Daniel yang sempat disebut dalam track ‘Be an Astronaut’. menyinggung tentang bagaimana lingkungan seringkali membuat seseorang merasa terasingkan dan tersesat. Masih memiliki kesinambungan tema dengan track-track sebelumnya, tentang bagaimana seseorang berusaha membaur atau bersosialisasi, dipaksa untuk melakukan semua formalitas dalam kehidupan. Dibalut dengan aransemen musik rock psychedelic, memadukan komposisi piano, gitar, dan bass yang menghanyutkan pada bagian instrumental.

Setelah menikmati berbagai track yang upbeat dan terbentuk dari aransemen berlayer yang kompleks, ‘Emily’ menjadi track penetralisir dengan aransemen musik akustik yang sederhana. Didominasi dengan gitar akustik, kemudian secara bertahap diakselerasi dengan instrumen bass dan drum dengan komposisi yang tidak terlalu berlebihan. Ditambah dengan instrumen xylophone hingga recorder sebagai aksen. Memberikan sentuhan musik DIY yang unik.

Bicara tentang mencari tahu makna kehidupan dan menjadi manusia di Bumi, pastinya tak akan lepas dari topik krisis eksistensi. ‘Twice Your Size’ merupakan prediksi akan masa depan dimana Bumi sudah tidak lagi ditinggali oleh manusia, bagaimana manusia panik menjadi alternatif planet lain ketika ukuran Matahari semakin membesar. Begitu juga dengan track electro rock, ‘Rapture’ yang mengandung ketakutan setiap manusia ketika memikirkan masa depan.

Declan kembali membawakan lagu bertema politik melalui track ‘Sagittarius A*’. Track ini merupakan istilah ilmiah dari pusat dari galaksi Bima Sakti yang menarik semua bintang dan planet pada posisinya sekarang. Dengan teori jika suatu hari terjadi masalah atau akhir dunia, ‘Sagittarius A*’ akan menyedot semua ke dalamnya. Teori tersebut digunakan Declan untuk perumpaan sosok politik yang selalu merasa lebih besar dari dunia, tanpa peduli bawah kebijakan yang mereka buat juga merusak Bumi. Bahwa mereka ingin mengajak kita semua untuk sama-sama binasa. Perjalanan kita memahami alam semesta dan kehidupan berakhir pada track slow psychedelic, ‘Eventually, Darling’.

Tak hanya mantap dalam penulisan lirik yang membentuk kisah, album ini juga mengandung aransemen yang menunjukan potensi Declan. Pola yang sama tidak terasa pada setiap track, kita akan selalu mendengarkan melodi dan komposisi yang baru. Setiap track mengandung komposisi yang kaya, dinamis, dan terkonsep rapi. Dengan mengambil referensi musik glam rock 70-an, Declan McKenna tidak cuma menjiplak atau mengambi sample dari era tersebut, namun berhasil menciptakan komposisi baru yang original, dan tetap memiliki jati diri.

Secara keseluruhan, Declan McKenna tampak semakin paham untuk mengeksekusi potensi yang ada dalam dirinya sebagai musisi. Dari awal, kita sudah bisa melihat Declan sebagai sosok yang tak hanya pandai meracik lagu indie yang catchy dan original, ada pesan otentik yang selalu Ia sampaikan untuk menyadarkan penikmat musik, terutama generasi muda akan suatu topik yang perlu diberi perhatian.

Dalam album “Zeros”, setiap track memiliki makna yang saling berkesinambungan, satu tema, dan membentuk album filosofi tentang kehidupan yang relevan dengan kemasan glam rock dan perjalanan jagat raya-psychedelic yang terasa ajaib.

Click to comment
Advertisement
Cultura Podcast
Connect