Connect with us
Cunk on Earth
Netflix

TV

Cunk on Earth Review: Mockumentary untuk Penonton yang Tidak Suka Dokumenter

Mockumentary tentang peradaban manusia yang informatif sekaligus bikin ketawa.

★ ★ ★ ★ ★
★ ★ ★ ★ ★

BBC merupakan salah satu media Inggris yang telah memproduksi banyak dokumenter edukatif. Bagi yang secara umum bukan penikmat dokumenter, “Cunk on Earth” bisa jadi tontonan yang membuka gerbang ilmu pengetahuan bagi kita semua.

Berbeda dengan dokumenter bermuatan sejarah yang serius, kali ini BBC merilis mockumentary dengan topik peradaban manusia yang diproduseri oleh kreator “Black Mirror”, Charlie Brooker, naskah ditulis oleh Christoan Watt.

Dibintangi oleh aktris Inggris, Diane Morgan (After Life) sebagai Philomena Cunk, pembawa acara “dokumenter” eksentrik yang belum pernah kita temui sebelumnya. Kita akan mengikuti penelusurannya ke berbagai belahan dunia. Mulai dari memulai penelusuran peradaban kuno di Roma, Yunani, Mesir, hingga peradaban modern di Amerika Serikat.

Bertemu dengan narasumber asli dan profesional dalam berbagai bidang ilmu. Mengungkap bagaimana peradaban manusia dimulai hingga akhirnya sampai pada titik ini.

Cunk on Earth

Rangkuman Peradaban Manusia Informatif dengan Presentasi Menarik

Hanya dalam lima episode dengan durasi sekitar 30 menit setiap episodenya, “Cunk on Earth” berhasil sajikan rangkuman peradaban manusia. Dengan pengelompokan topik yang tepat pada setiap episodenya. Mulai dari awal peradaban manusia, Zaman Pertengahan dimana kepercayaan dan agama sedang berkembang, Renaissance penuh dengan perkembangan seni dan filosofi, perkembangan mesin dan industri memasuki abad ke-20, hingga akhirnya Era Perang Dingin sampai pada peradaban modern kita di masa kini.

“Cunk on Earth” bisa dikategorikan sebagai sajian hibrida. Meski dikategorikan sebagai mockumentary, docuseries ini juga memiliki banyak konten yang informatif di dalamnya. Melibatkan pula para narasumber sungguhan sesuai dengan bidang studi masing-masing. Secara mengejutkan mereka juga bisa akting dan menganggap serius Cunk sebagai pembawa acara.

“Which was more culturally significant; the Renaissance or ‘Single Ladies’ by. Beyoncé?”

Satu-satunya aspek yang membuat sajian ini dikategorikan sebagai mockumentary adalah kehadiran Philomena Cunk, pembawa acara fiksi yang diperankan oleh Diane Morgan.

Setiap informasi yang disajikan akurat sesuai sejarah, kemudian disisipkan dengan komentar dari Cunk yang lucu dan witty. Seperti bagaimana ia mengira bom nuklir sudah tidak ada, kemudian dikoreksi oleh narasumber. Ketika ia merendahkan esensi dari studi filosofi yang sulit untuk kita tepis, hingga menyebutkan ‘Renaissance’ sebagai album Beyoncé yang terbaru.

Cunk on Earth

Opini Philomena Cunk yang Konyol dan Absurd, Bikin Penonton Tidak Bosan

Ada dua elemen utama dalam presentasi mockumentary “Cunk on Earth”. Pertama adalah rangkuman perkembangan peradaban manusia yang akurat dan informatif. Kedua adalah penciptaan karakter Philomena Cunk sebagai pembawa acara yang unik, serta bagaimana karakternya mempengaruhi gaya penulisan narasi dalam mockumentary ini.

Sebagai pembawa acara ‘dokumenter’ BBC, kita akan dibuat bertanya-tanya; sebetulnya Philomena Cunk ini peduli dengan ilmu sejarah atau tidak, sih? Ia bisa jadi terdengar lebih bosan daripada penonton yang biasanya bosan dengan acara dokumenter. Justru kebosanan dan opini unik dari Cunk akhirnya bikin penonton tidak bosan.

Seperti murid yang melantur di kelas, Cunk tak jarang melontarkan opini yang tidak relevan dengan topik utama. Namun secara ajaib bisa bersinggungan dengan topik sebagai materi lelucon yang lucu. Lebih lucu lagi ketika narasumber tidak tertawa dengan kekonyolan Cunk yang pastinya di-script. Mereka tetap in character sebagai narasumber yang serius dan tetap berusaha meluruskan ketika Philomena Cunk mulai sesat dalam pernyataannya.

Tak selalu melantur dan absurd, ada kalanya juga Cunk memberikan komentar yang bikin kita tidak percaya bawa kita setuju. Seperti bagaimana Galileo Galilei adalah nama yang lucu untuk seorang filsuf, atau bagaimana lukisan-lukisan pada Zaman Pertengahan memiliki kualitas payah karena perspektif dan anatomi manusia belum dipopulerkan, hingga akhirnya muncul Leonardo da Vinci.

Mockumentary Sejarah untuk Penonton yang Tidak Suka Dokumenter

“Cunk on Earth” merupakan mockumentary untuk penonton yang biasanya kurang tertarik dengan dokumenter. Memberikan informasi skala permukaan namun cukup untuk membuat penonton akhirnya memahami sejarah peradaban manusia. Terutama untuk penonton yang sebelumnya tidak terlalu memahami kronologi awal peradaban hingga akhirnya kita sekarang berada di era modern.

Setidaknya buat kita yang tidak terlalu hobi menyimak sajian dokumenter atau digging ilmu sejarah, menonton “Cunk on Earth” bisa menjadi awal dari tertariknya penonton dengan ilmu pengetahuan. Dimana kita bisa belajar berbagai momen signifikan dalam peradaban manusia sambil berdendang dengan lagu ‘Pump Up The Jam’ dari Technotronic.

Buat penggemar ilmu sejarah sekaligus penikmat komedi sarkastik ala Inggris, “Cunk on Earth” bisa jadi tontonan informatif sekaligus menghibur. Kelima episode “Cunk on Earth” bisa di-binge di Netflix.

The Boys Season 3 The Boys Season 3

5 Hal Yang Patut Dinantikan dari “The Boys” Season 4

Cultura Lists

Rekomendasi Tayangan Terbaru Netflix Indonesia Juni 2024

Cultura Lists

Rekomendasi Film & Serial Prime Video Juni 2024

Cultura Lists

A Town Without Seasons Review: Suka Duka Warga Hunian Sementara yang Eksentrik

TV

Connect