Connect with us
Blue Eye Samurai
Netflix

Cultura Lists

10 Serial Animasi Terbaik di Netflix Saat Ini

Sederet serial animasi Netflix Original terbaru dan terbaik di Netflix.

Netflix kini semakin banyak memiliki koleksi animasi orisinal yang berkualitas. Setelah sebelumnya lebih banyak menambah koleksi serial anime di katalognya, serta animasi sitcom barat populer, kini pilihan tontonan animasi kita semakin banyak yang terasa segar di platform streaming ini. Mulai dari serial adaptasi video game, adaptasi komik, hingga ide yang benar-benar baru.

Animasi Netflix Original memiliki keragamman gaya dan tema, karena menjadi hasil dari studio dan kreator yang berbeda-berbeda. Jika bisa diidentifikasi ciri khas animasi-animasinya, animasi Netflix yang sukses kerap memiliki presentasi visual yang penuh gaya, karakter-karakter unik yang berkesan, hingga intisari yang terlihat baru dalam skenanya. Mulai dari berlatar di dunia fantasi, futuristic cyberpunk, hingga yang bermuatan sejarah, berikut sederet serial animasi terbaik di Netflix saat ini.

Pluto

“Pluto” menjadi anime Netflix Original terbaru yang diadaptasi dari manga legendaris. Ini menjadi reboot dari “Astro Boy” yang mungkin lebih familiar di kalangan mainstream. Namun ini versi terbaru dengan latar dan visi cerita sci-fi yang lebih kompleks. Berlatar di masa depan, ketika manusia dan robot telah hidup harmonis setelah pecahnya peperangan brutal. “Pluto” mengangkat tema trauma pasca dan pesan anti-perang.

Kita akan mengikuti protagonis Gesicht, detektif robot dari Jerman sekaligus veteran perang. Ia keliling dunia untuk menginvestigasi kasus pembunuhan yang melibatkan manusia dan robot. “Pluto” mempertahankan gaya visualnya khas Naoki Urasawa yang ikonik, diakselerasi dengan animasi dan grafik yang lebih menggugah, didukung dengan musiknya yang epik.

Scott Pilgrim: Takes Off

Jauh dari ekspektasi penonton yang familiar dengan film live-action “Scott Pilgrim vs. the World”, “Scott Pilgrim: Takes Off” adalah serial animasi terbaru Netflix yang akan melampaui ekspektasi kita. Initisari plotnya masih sama, dimana Scott Pilgrim jatuh dengan Ramona Flowers. Namun ini tidak akan menjadi proses pendekatan yang mudah, karena Scott harus melawan ketujuh mantan jahat Ramona. Namun sejak akhir episode pertma, kita akan mendapati bagaimana serial ini akan memiliki plot yang jauh berbeda.

Dengan diadaptasi dalam medium animasin, “Scott Pilgrim: Takes Off” memiliki visual yang tidak dibatasi lagi dengan realita. Presentasi karakter dan kekuatan masing-masing terlihat lebih imajinatif dan spektakuler. Jika versi filmnya setiap mantan hanya tampil sebagai antagonis satu dimensi, serial ini membuat setiap karakterter terlihat lebih keren bahkan loveable. Tak ketinggalan pilihan lagu-lagunya juga serasi dengan animasinya.

Blue Eye Samurai

“Blue Eye Samurai” adalah animasi Netflix terbaru dari studio barat namun mengadaptasi cerita dan estetika Jepang era Edo yang menawan. Kisah fokus pada sosok samurai ras campuran bermata biru, Mizu. Demi membalaskan dendamnya, ia belajar membuat dan menguasai pedang. Hingga akhirnya ia menjelajahi Jepang untuk menemukan salah satu dari Iblis dari Barat alias orang kaukasian yang membuat hidupnya sulit sejak lahir ke dunia.

“Blue Eye Samurai” memberikan presentasi tema samurai dengan pertarungan epiknya, kekerasan sadis dan erotisme sebagai nuansa pendukung yang solid. Ini adalah serial bertema samurai untuk penonton dewasa yang artistik. Hanya akan semakin seru dan menarik seiring kita mengikuti perkembangan episodenya.

Mizu sebagai protagonis memiliki latar belakang dan penokohan yang sangat memikat. Begitu pula sederet karakter pendukung yang berkesan dengan arc masing-masing, lebih dari sekadar karakter filler.

Ooku: The Inner Chambers

“Ooku: The Inner Chambers” bisa jadi anime Netflix Original underrated. Ooku sendiri adalah area paling dalam istana kekaisaran Jepang. Pada masanya, apa yang terjadi di Ooku, tidak boleh sampai bocor ke luar istana.

Ketika penyakit cacar merah meneror setiap anak laki-laki di Jepang, ada pergantian peran gender terjadi di masyarakat. Dimana anak laki-laki dilindungi, hidup terisolasi di rumah, sementara para wanita pekerja di ladang. Hal ini tak luput dari posisi kekaisaran Jepang, ketika garis kepemimpinan diturunkan pada seorang putri.

“Ooku: The Inner Chambers” menjadi anime drama period dengan genre fiksi sejarah dengan premis yang sangat menarik untuk dieksplorasi. Serial ini juga memberikan pemahaman akan peran gender dari sudut pandang dan contoh kasus yang tidak biasa. Berusaha mencari kebenaran dari latar belakangan kejahatan dan penyalahgunaan kekuasaan yang lebih dari sekadar kejahatan gender.

Arcane

“Arcane” animasi Netflix Original akhirnya dikonfirmasi akan merilis season keduanya pada 2024 mendatang. Animasi adaptasi video game “League of Legends” ini masih menjadi salah satu primadona di platformnya. Menceritakan drama tragis dari keretakan persaudaraan antara Vi dan Jinx, serta sumber daya energi baru yang mampu membawa era baru untuk Plitover dan Zaun dengan kesenjangan sosialnya.

Lebih dari sekadar fanservice untuk penggemar “League of Legends”, Riot memiliki visi yang lebih luas dengan menghadirkan animasi yang bisa dinikamti oleh segmentasi penonton yang lebih luas.

“Arcane” dengan sabar membangun cerita pada season pertamanya, begitu pula eksekusi animasinya yang memenuhi ekspektasi para penonton yang familiar dengan cinematic video yang selama ini telah diluncurkan oleh Riot Games di setiap musim.

Cyberpunk: Edgerunners

Satu lagi serial animasi adaptasi video game terbaik di Netflix adalah “Cyberpunk: Edgerunners”. Rilis bersamaan dengan update terbaru dari video game-nya, animasi ini juga mampu memikat penonton di luar fandom “Cyberpunk”.

David Martinez bersekolah di sekolah terbaik, ibunya berharap ia bisa naiki tangga sosial dan menjadi bagian dari Corpo. Namun, tragedi yang meninggalkan luka membuat Martinez justru menjadi seorang Edgerunners dengan kehidupan keras di jalanan.

“Cyberpunk: Edgerunners” masih menjadi animasi Netflix Original terbaik yang dikonfirmasi oleh kreatornya tidak akan memiliki season berikutnya. Ini karena akhir cerita sudah dianggap sempurna oleh penulisnya, dan semua penonton juga setuju akan hal itu.

‘Edgerunners’ mengeksplorasi tema sosial, masyarakat futuristik, dan bahaya modifikasi tubuh dengan teknologi terbaru, serta sentimental cinta dan persahabat. Pacing yang cepat dan konten aksi dinamis serta brutal dijamin akan memanjakan penonton penggemar genre action.

The Dragon Prince

“The Dragon Prince” adalah animasi Netflix Original bergenre fantasi, mengikuti petualangan Callum dan Ezran, pangeran dari ras manusia bersama pembunuh dari bangsa peri, Rayla. Keduanya sama-sama mengharapkan perdamaian dan menghindari perang antar ras, dengan mengembalikan telur naga yang dicuri.

Animasi ini diciptakan oleh Aaron Ehasz dan Justin Richmond. Seperti animasi berlatar fantasi lainnya, “The Dragon Prince” memiliki world building yang kaya dan memikat. Kualitas animasi 3D-nya juga tak kalah memukau dengan presentasi warna yang vibrant. Ini juga menjadi film animasi dengan adegan aksi yang dieksekusi dengan dinamis.

Blood of Zeus

Satu lagi serial animasi Netflix yang jauh dari spotlight adalah “Blood of Zeus”. Animasi ini diadaptasi dari mitologi Yunani yang sudah tidak asing lagi bagi beberapa dari kita. Siapa yang tidak kenal dengan Zeus dan reputasinya berselingkuh dengan deretan wanita di Bumi. Heron merupakan anak haram Zeus, hidup dalam kemiskinan dan pengasingan karena dianggap pembawa sial oleh warga di tempat tinggalnya. Namun jati diri Heron berpotensi membawanya pada takdir sebagai penyalamat Bumi dan Olympus.

Sebagai animai dengan latar Yunani kuno dan dewa dewi yang agung, “Bloof of Zeus” diiringi dengan musik serta presentasi animasi yang menggugah. Serial ini juga dipenhi dengan sekuen aksi dan pertarungan antar dewa dewi yang menggelegar. “Blood of Zeus” juga telah diumumkan akan mendapatkan Season 2.

Castlevania

Sebelum “Arcane” dan “Cyberpunk: Edgerunners”, “Castlevania” adalah film animasi diadaptasi video game di Netflix. Serial bergenre fantasi yang dikembangkan oleh Warren Ellis, mengeksplorasi latar dunia fantasi yang gelap dengan vampir, iblis, dan praktek sihir. Fokus pada Trevor Belmont, yang terakhir dari kaum pemburu, ia memiliki misi untuk melawan vampir penguasa.

“Castlevania” terkenal dengan latar gelapnya yang dewasa, narasi penuh intrik, dan sekuen adegan laga yang menegangkan. Serial ini cukup terkenal dan menuai pujian berkat animasinya yang atmospheric dan karakter-karakter yang kompleks penokohannya. Ini juga menjadi contoh serial adaptasi video game yang memikat tak hanya untuk penggemar game-nya, namun juga penonton baru yang menyukai tema dark fantasy.

Love, Death + Robots

“Love, Death & Robots” adalah seri animasi anthology bergenre sci-fi, menjadi wahana eksplorasi animasi yang beragam dari produser David Fincher dan Tim Miller. Setiap episode menghadirkan cerita yang berbeda-berbeda dan unik. Latarnya seputar peradaban futuristik, fantasi bernuansa gelap, hingga horor sureal. Latar tersebut telah menjangkau berbagai cerita seputar kerumitan cinta, kematian yang tidak terhindarkan, dan dampak perkembangan teknologi di peradaban manusia.

Dengan eksekusi animasi yang berani dan berbeda dalam setiap episodenya, “Love, Death & Robots” memikat penonton dengan ketegangan cerita, topik yang menantang pemahaman kita, serta menerobos batasan dan tantangan akan ekspektasi kita. Baik topik yang diangkat dalam naskah, maupun aplikasi gaya animasi yang hendak dipertontonkan. Ini seperti “Black Mirror” namun lebih semarak dan kreatif secara visual.

A Murder at the End of the World A Murder at the End of the World

A Murder at the End of the World (Finale) Review

TV

Avatar: The Last Airbender Avatar: The Last Airbender

10 Serial Animasi Anak-anak Populer yang Juga Menghibur Penonton Dewasa

Cultura Lists

Emma Stone Emma Stone

10 Film Emma Stone Terbaik dan Terikonik

Cultura Lists

What to Stream on Valentine’s Day

Cultura Lists

Connect