Connect with us
The Last of Us Episode 3 review
HBO

TV

The Last of Us (Episode 3) Review: Long Long Time

Episode paling melankolis yang akan “menghantui” penonton untuk beberapa saat.

★ ★ ★ ★ ★
★ ★ ★ ★ ★

“The Last of Us” kembali lagi dengan episode terbaru yang tak kalah mengharukan dari episode sebelumnya. Setelah selamat dari teror di museum berkat pengorbanan Tess, Joel dan Ellie melanjutkan perjalanan mereka. Namun, sebelum melanjutkan perjalanan menuju tujuan utama, Joel mengajak Ellie untuk mengunjungi kenalan lama Tess dan Joel, Bill.

“The Last of Us” episode 3 dengan judul ‘Long Long Time’ akan mengajak kita menyimak kisah cinta antara Bill dan Frank. Menemukan satu sama lain dalam situasi tidak terduga, hingga kemudian membangun hubungan di tengah situasi apocalypse.

Keduanya saling melindungi dan mengisi kehampaan, menjaga diri untuk tidak merasa kesepian di akhir peradaban manusia. Menampilkan dua aktor baru, Nick Offerman dan Murray Bartlett sebagai pasangan yang menjadi fokus cerita pada episode 3 pekan ini.

The Last of Us - Bella Ramsey and Pedro Pascal

Interaksi Joel dan Ellie yang Mulai Akur

Dengan tiadanya Tess pada titik ini, Joel dan Ellie tidak memiliki pilihan lain untuk mulai menjalin interaksi. Gap generasi menjadi salah satu topik yang menarik ketika kedua karakter utama ini mulai menjalin komunikasi. Joel telah hidup lama sebelum apocalypse terjadi, sementara Ellie lahir pada masa post-apocalypse.

Keduanya seperti sempat mengalami kesulitan dalam mensinkronkan cara pandang mereka akan peradaban manusia secara umum. Layaknya anak muda jaman sekarang yang kesulitan memahami bagaimana generasi-generasi sebelumnya bisa hidup tanpa internet, begitu pula sebaliknya.

Namun, semakin keduanya saling berinteraksi, serta Joel yang mulai mau menjawab setiap pertanyaan Ellie yang bisa mengganggu baginya, pencerahan pun mulai didapatkan oleh keduanya. Untuk saat ini, pacing interaksi Joel dan Ellie dengan topik demikianlah yang menjadi daya tarik dalam naskah.

The Last of Us Episode 3 review

Kisah Bill dan Frank Berhasil Mencuri Hati Penonton

“The Last of Us” belum berhenti mengeksploitasi emosi pada episode 3. Kisah Joel pada episode pilot sudah cukup menghancurkan hati penonton untuk lanjut menonton serial ini. Kemudian episode 2 juga sempat trending dan mematahkan hati penggemar game yang harus melihat karakter Tess mengorbankan diri untuk kesekian kali. Sementara episode 3 menjadi plot yang tidak akan diantisipasi oleh siapapun dari serial bergenre drama survival ini.

‘Long Long Time’ menjadi episode yang mengeksplorasi kesepian, cinta, hingga pada akhirnya harga dari kebahagian dan rasa nyaman, sekalipun di tengah-tengah akhir peradaban umat manusia. Memang bukan dalam situasi terbaik, namun kisah Bill dan Frank bisa jadi skenario terindah yang bisa terjadi pada sepasang kekasih. Nick Offerman dan Murray Bartlett tampilkan chemistry yang kuat sebagai pasangan sesama gender.

Episode 3 sangat minim adegan menegangkan, elemen thriller dan action juga absen dulu dalam episode ini. Karena didominasi dengan kisah Bill dan Frank dari momen pertemuan pertemuan, serta hari demi hari, hingga tahun demi tahun yang mereka lalui bersama. Bisa jadi banyak penonton yang tidak siap untuk mengkonsumsi apa disajikan oleh “The Last of Us” episode 3 ini.

Episode 3 bisa jadi “menghantui” penonton untuk beberapa saat dengan segala haru dan plot bittersweet tentang Bill dan Frank. Hanya sepasang kekasih yang saling mencintai dan menemani di tengah akhir dunia.

Tunjukan Penulisan yang Tak Sekadar Mengadaptasi Game-nya

Setelah tiga episode “The Last of Us” telah mengudara, kita bisa melihat bagaimana serial ini setia pada materi sumbernya. Namun tak lantas hanya copy-paste dari game-nya. Tak terhitung berapa banyak media yang tak habis-habisnya membandingkan setiap episode dengan game-nya. Pada titik tertentu mulai memuakkan, namun episode 3 menjadi momen dimana topik tersebut patut diangkat dalam ulasan ini.

Serial ini memanfaatkan kesempatan untuk mengeksplorasi cerita yang lebih bermakna dan artistik sebagai tontonan. Dalam game-nya, Bill hanya hadir sebagai karakter pelengkap yang tidak terlalu dieksplorasi backstory-nya. Karena jelas gameplay lebih fokus pada petualangan Joel bersama Ellie. Medium serial dimanfaatkan dengan maksimal untuk presentasi cerita yang lebih kaya sudut pandang. Bagaimana setiap karakter menghadapi apocalypse secara personal.

Bagi yang baru dengan semesta “The Last of Us”, kita jadi semakin diyakinkan bahwa serial ini lebih dari sekadar serial action survival pada umumnya. Dimana setiap kematian dan kehilangan tak selalu disebabkan oleh infeksi cordyceps. Ada berbagai problem yang kompleks dan masalah berlapis yang lahir dari situasi apocalypse ini. Sudah berjalan tiga episode, “The Last of Us” masih sajikan kualitas episode yang memikat dan berkesan bagi penontonnya.

The Last of Us (Episode Pilot) Review: When You’re Lost in the Darkness

The Last of Us (Episode 2) Review: Infected

A Shop for Killers A Shop for Killers

A Shop for Killers Review: Aksi Lee Dong-wook dan Kim Hye-jun dalam K-Drama Laga

TV

Chernobyl HBO Chernobyl HBO

7 Rekomendasi Miniseri Bermuatan Sejarah

TV

Kdrama Netflix Kdrama Netflix

10 K-Drama Terbaru dan Terpopuler di Netflix Saat Ini

Cultura Lists

Patrick Melrose Patrick Melrose

Patrick Melrose Review: Benedict Cumberbatch Tampil Sempurna sebagai Aristokrat Inggris

TV

Connect