Connect with us
The Last of Us
HBO

TV

The Last of Us (Episode Pilot) Review: When You’re Lost in the Darkness

Serial adaptasi game populer dengan kelanjutan menjanjikan.

★ ★ ★ ★ ★
★ ★ ★ ★ ★

“The Last of Us” merupakan serial terbaru HBO yang sedang trending. Diadaptasi dari game populer bergenre survival, Neil Druckman sebagai sutradara dalam game juga terlibat dalam penulisan naskah serial ini. Bersama dengan Craig Mazin yang terkenal melalui miniseries HBO, “Chernobyl” pada 2019 silam. Menampilkan Pedro Pascal dan Bella Ramsey, dua bintang utama yang sebelumnya juga populer melalui serial HBO, “Game of Thrones”.

“The Last of Us” merupakan serial survival dengan latar post-apocalypse, ketika peradaban modern hancur oleh penyebaran virus yang menginfeksi manusia. Joel mendapatkan misi untuk melindungi dan mengantar Ellie ke luar area karantina, untuk tujuan yang lebih besar dan mengakhiri pandemi global ini.

Ketika serial adaptasi game “The Last of Us” diumumkan, ada antusiasme positif sekaligus skeptisme muncul dari audience. Karena game action-adventure ini sudah dicintai oleh para penikmat game-nya.

Project film maupun serial adaptasi game juga masih memiliki stigma sebagai project yang rawan gagal. Meski belakangan juga makin banyak project adaptasi game yang sukses seperti “Arcane” (2021), “Cyberpunk: Edgerunners” (2022), hingga “Tekken: Bloodline” (2022). Mampukah “The Last of Us” menjadi serial yang memenuhi ekspektasi fandom game-nya serta menggaet penggemar serial yang baru?

The Last of Us

Presentasi Episode Pilot yang Setia pada Materi Sumber

Keterlibatan Neil Druckman dalam serial ini ternyata memberikan pengaruh besar dalam berbagai aspek. Mulai dari penulisan, directing, hingga desain produksi memiliki presentasi yang sesuai dengan materi sumbernya. Meski dengan sedikit modifikasi minor, namun tidak pada aspek-aspek krusial.

“The Last of Us” sebagai game action-adventure yang kaya cerita sudah memiliki semuanya untuk ditampilkan dalam format tontonan. Oleh karena itu tidak seharusnya mengalami perombakan besar ketika diangkat menjadi serial live-action.

Kehadiran Druckman sepertinya sangat dihargai untuk membimbing serial ini, agar tidak melenceng terlalu jauh dari materi sumbernya. Kemudian membangkitkan semesta dalam game yang lebih immersive melalui desain produksi serta plot yang lebih layak ditampilkan sebagai storytelling pada penonton. Bukan sebagai pemain dalam game.

Melalui episode pilot ini, setidaknya penonton sudah berhasil diyakinkan, bahwa serial ini dikerjakan oleh orang-orang yang juga mencintai cerita dalam game “The Last of Us”, beserta karakter-karakter, konflik, dan segala problematika dalam kisahnya.

The Last of Us

Fokus pada Kisah Joel, Pedro Pascal Berhasil Tampilkan Akting yang Emosional

“The Last of Us” episode perdana lebih fokus pada latar belakang Joel Miller, yang diperankan oleh Pedro Pascal. Dimulai dari ‘hari pertama’, ketika virus mulai menyebar dan menimbulkan kekacauan. Joel memiliki peran penting sebagai karakter yang memberikan sentuhan emosional pada penonton. Sebagai figur ayah di masa lalu, kemudian menjadi guardian seiring berlanjutnya kisahnya nanti. Kisah Joel pada babak pertama sudah dipresentasikan dengan porsi yang tepat dan cukup untuk membuat karakter ini mendapatkan simpati dari penonton.

Pedro Pascal menjadi cast yang sudah sempurna sebagai protagonis dalam “The Last of Us”. Secara umum, ia juga aktor yang sudah disukai banyak orang. Melalui penampilannya dalam “Game of Thrones” meski tidak sebagai salah satu karakter utama, serta serial yang juga masih hype, “The Mandalorian”. Penampilannya sebagai figur pelindung yang cekatan dalam “The Last of Us” sudah sangat menyakinkan.

Sementara Bella Ramsey masih punya PR untuk membuktikan pada penonton sebagai Ellie di episode-episode mendatang. Karena sebetulnya karakter yang ia mainkan memiliki peran yang lebih besar lagi dalam kisah ini. Dalam episode pertama ini, setidaknya kita sudah cukup melihat Ramsey sebagai Ellie yang sesuai dengan ekspektasi penggemar.

Petualangan Survival yang Tidak Melulu Tentang Serangan Manusia Terinfeksi

Serial “The Last of Us” menyajikan kisah yang ramah dengan penonton baru. Tidak perlu relevan dengan game-nya untuk menikmati serial ini. Bagi penggemar hiburan bergenre survival, serangan zombie atau sejenisnya, serial ini bisa banget jadi tontonan baru untuk menemani pekan kita beberapa minggu ke depan.

Dengan format serial, kisah adaptasi ini jadi memiliki medium lebih luas untuk menjabarkan ceritanya. Mengenalkan kita pada tiap karakter baru, macam-macam kelompok dalam semesta post-apocalypse ini, hingga masalah utama dan objektif untuk mengakhiri bencana.

“The Last of Us” lebih didominasi dengan latar peradaban manusia setelah infeksi virus berlangsung selama 12 tahun. Membuat kisah lebih fokus pada petualangan bertahan hidup pasca pecahnya bencana. Kita bisa melihat terbentuknya dystopia baru, serta pola hidup yang telah terbangun semenjak dunia berubah drastis.

Kita tidak melulu melihat karakter-karakter berlari dari kejaran manusia terinfeksi. Manusia maupun pihak-pihak dengan kepentingan tertentu juga ternyata bisa jadi ancaman dalam kisah ini. Ada banyak cerita yang bisa disimak dari latar post-apocalypse ini.

Secara keseluruhan, “The Last of Us” memiliki episode pertama yang berhasil memuaskan penggemar lama, sekaligus mengundang penonton baru, khususnya penggemar genre survival. Semoga kualitas ini terus bertahan seiring berjalannya episode, karena serial “The Last of Us” ini sudah memiliki presentasi yang berpotensi sebagai adaptasi game yang berhasil.

Elvis Elvis

Elvis Review: Kisah Jatuh Bangun King of Rock and Roll 

Film

the last of us episode 2 the last of us episode 2

The Last of Us (Episode 2) Review: Infected

TV

Junji Ito Maniac: Japanese Tales of the Macabre – Adaptasi Manga Horor yang Kehilangan Jiwanya

TV

alice in borderland season 2 review alice in borderland season 2 review

What to Stream This Weekend: Issue #5

Cultura Lists

Connect