Connect with us
the last of us episode 2
HBO

TV

The Last of Us (Episode 2) Review: Infected

Mimpi buruk di museum dengan teror perdana dari Clicker.

★ ★ ★ ★ ★
★ ★ ★ ★ ★

“The Last of Us” kembali lagi dengan episode terbarunya yang kedua pekan ini. Pada episode pilot minggu kemarin, kisah lebih fokus pada ‘the day one’ dan latar belakang Joel sebagai protagonis dalam kisah ini. Akhir episode menjadi awal dari petualangan Joel bersama Tess untuk mengantar Ellie demi imbalan.

“The Last of Us” menjadi awal dari petualangan sesungguhnya bagi ketiga karakter tersebut di luar zona karantina. Menjadi momen pertama bagi Ellie melihat dunia luar.

Kembali trending, “The Last of Us” episode 2 mencapai 5,7 juta penonton pada penayangan perdananya di HBO dan HBO Max. Mengalahkan episode pilot dengan 4,7 juta penonton pada malam perdananya.

Jika pada ulasan episode pilot kita antusias untuk membandingkan serial ini dengan game-nya, ulasan Cultura kali ini hingga seterusnya akan lebih fokus pada presentasi serialnya. Karena episode pilot telah memberikan cukup statement bahwa serial ini menunjukan kesetiaannya dengan materi sumber yang sudah bagus.

The Last of Us episode 2

Penampilan Christine Hakim & Yayu Unru pada Intro Episode

(Spoiler Alert!) Sama seperti episode sebelumnya, “The Last of Us” episode 2 dibuka dengan flashback. Episode pilot dan episode 2 memiliki intro yang sama-sama tidak mudah dilupakan serta krusial sebagai sumber informasi penonton. Sebelumnya kita menyaksikan talk show pada 1968, yang membahas bahaya jamur seperti Cordyceps yang mampu menjadi akhir umat manusia.

Pada episode 2, kita akan dibawa ke Jakarta pada tahun 2003. Dimana Professor Universitas Indonesia, Ibu Ratna (Christine Hakim) menjadi ilmuwan pertama yang menemukan awal dari akhir umat manusia. Buat yang masih ingat, momen ini akhirnya memiliki kesinambungan dengan episode pertama ketika Jakarta disebut dalam berita radio yang didengarkan oleh Joel bersama saudaranya.

Kembali sajikan intro yang menghadirkan kengerian dalam ketenangan, Christine Hakim dan Yayu Unru eksekusi dialog yang berkesan. Terkandung banyak emosi hanya dalam satu momen tersebut. Dimulai dari kengerian, kemudian outcome secara logika dari Bu Ratna sebagai ilmuwan, hingga berakhir pada kepasrahan yang melankolis ketika ia meminta untuk diantar pulang ke keluarganya.

Ketika seorang ilmuwan saja menunjukan kepasrahan dan saran penanganan yang ekstrim, di situlah kita bisa merasakan horor dari situasi tersebut. Intro kali ini juga memiliki penulisan dan arahan yang sangat detail untuk menjadi opening yang berkualitas.

Mimpi Buruk Joel, Ellie, dan Tess di Museum

Berbeda dengan episode pilot yang riuh dengan banyak aktor dan ekstra, “The Last of Us” episode 2 lebih fokus pada awal petualangan Joel, Ellie, dan Tess yang berlokasi di kota, di luar zona karantina. Kita mulai melihat interaksi Joel dan Ellie yang masih belum akrab, serta merasakan antusiasme Ellie yang masih tampak santai, untuk pertama kalinya melihat kota.

Sama seperti Ellie, kita akan terpesona dengan penampilan kota yang terlantar dengan desain produksi maksimal. Gedung-gedung roboh dengan tanaman merambat, genangan air dalam gedung yang menciptakan ekosistem baru, menjadi estetika semesta apocalypse yang khas dari “The Last of Us”. It’s eerie and beautiful at the same time. 

Bella Ramsay mulai menunjukan aksinya sebagai Ellie, karakter krusial dalam kisah ini setelah Joel. Jika Joel adalah karakter yang serius dan fokus, serta telah melalui banyak hal. Sementara Ellie masih memiliki sisi remaja yang cuek dan masa bodoh dengan keadaan sekitar, namun episode ini telah menjadi pelajaran baru baginya. Dimana akhirnya ia berhadapan dengan Clicker yang selama ini hanya sebatas dongeng ketika ia masih tinggal di panti asuhan.

Petualangan ketiga karakter di museum kota menjadi penanda utama dari episode 2. Dimana menjadi satu momen petak umpet dan melawan Clicker, salah satu jenis monster dalam “The Last of Us”. Mulai dari koreografi, blocking kamera, hingga aksi dari setiap karakter dieksekusi dengan arahan yang sempurna dalam menciptakan ketegangan. Kemudian diakhiri dengan tragedi emosional yang mematahkan hati penonton, ketika Tess mengorbankan dirinya.

Anna Torv berhasil memberikan emosi pada karakter Tess yang memiliki harapan dalam keputusasaan dengan mengorbankan dirinya, kemudian mempersuasi Joel untuk melanjutkan misi yang mampu mengubah dunia.

the last of us episode 2

Teror Perdana Clicker yang Menegangkan

Kita tidak boleh melewatkan apresiasi pada karakter desain Clicker yang dihidupkan dalam serial HBO ini. Selain arahan adegan petak umpet yang berkualitas dalam adegan museum, presentasi semakin komplit ketika Clicker benar-benar tampil sebagai makhluk yang mengerikan. Mulai dari makeup hingga arahan gesture pada Clicker, terutama suaranya yang otentik dan memberikan semakin mendukung kengeringan dari kehadiran mereka.

Akan menarik untuk melihat penampilan monster-monster dalam “The Last of US” di episode-episode mendatang. Lebih dari penampilan monster dengan kualitas makeup profesional, namun elemen horor berusaha ditampilkan melalui momen yang berkesan. Tidak asal menampilan Clicker atau manusia terinfeksi lainnya pada situasi yang random. Akhirnya, presentasi Clicker merupakan satu paket dari desain karakter, penulisan, serta arahan ketika mengeksekusi suatu adegan.

“The Last of Us” episode 2 kembali menampilkan kualitas yang masih membuat penonton antusias. Memiliki agenda yang fokus; mimpi buruk di museum, episode kali ini terasa cukup cepat. Pacing-nya sudah sangat tetap, karena setiap adegan terasa esensial untuk disimak, terasa 55 menit telah berlalu.

Namun, ada banyak hal kejadian dan emosi yang bisa kita rasakan. Mulai dari Ellie yang pertama kali berhadapan dengan bahaya, Joel yang (lagi-lagi) kehilangan orang yang ia peduli, hingga akhirnya pengorbanan dan harapan dari Tess. Semoga pacing dan kualitas presentasi “The Last of Us” yang seperti ini bisa dipertahankan ke episode-episode berikutnya.

The Last of Us (Episode Pilot) Review: When You’re Lost in the Darkness

Elvis Elvis

Elvis Review: Kisah Jatuh Bangun King of Rock and Roll 

Film

Junji Ito Maniac: Japanese Tales of the Macabre – Adaptasi Manga Horor yang Kehilangan Jiwanya

TV

alice in borderland season 2 review alice in borderland season 2 review

What to Stream This Weekend: Issue #5

Cultura Lists

The Makanai The Makanai

The Makanai: Cooking for the Maiko House Review – Mengenal Kebudayaan Maiko di Kyoto

TV

Connect