Connect with us
Night Has Come
Viu

TV

Night Has Come Review: Drama Survival Death Game Baru Bertema Permainan Mafia

Buat yang tidak pernah bosan dengan formula survival death game pada umumnya.

★ ★ ★ ★ ★
★ ★ ★ ★ ★

“Night Has Come” merupakan K-drama terbaru bergenre survival death game. Serial drama ini dibintangi oleh sederet bintang muda mulai dari Lee Jae-in, Kim Woo-seok, Choi Ye-bin, Jeong So-ri, dan Ahn Ji-ho.

Yun-seo adalah salah satu murid dari sekelompok murid SMA yang datang ke lokasi terpencil untuk retreat sekolah. Setibanya di lokasi tersebut, banyak kejanggalan yang terjadi hingga akhirnya murid-murid satu kelas tersebut benar-benar sendirian dan dipaksa untuk bermain permainan mafia menggunakan ponsel mereka. Berkat kegemarannya membaca novel misteri, bersama sahabatnya pandai programming, dan kedekatannya dengan ketua kelas, Yun-seo ingin mengakhiri permainan sebelum korban lebih banyak berjatuhan.

Ketika “Night has Come” sempat ramai di media sosial lokal, banyak yang bilang teringat akan “Alice in Borderland”. Tidak salah melihat keduanya jelas masuk dalam genre survival death game, namun skalanya k-drama ini jauh lebih kecil dan misterinya tidak serumit serial Jepang tersebut. Namun drama yang bisa di-streaming di Vidio dan Viu ini memang seru buat kita yang tidak pernah bosan dengan genre ini. Drama school life Asia yang dipadukan dengan genre survival kerap memiliki pesona tersendiri dalam skenanya.

Night Has Come

Perpaduan Survival Death Game dengan Whodunit

Sepertinya banyak yang mengatakan “Night has Come” serupa dengan “Alice in Borderland” karena keduanya sama-sama menggunakan ponsel dan berlatar di dimensi lain. Dalam “Night has Come”, instrumen penting yang mendukung permainan adalah aplikasi misterius pada ponsel setiap murid dan gedung pusat retreat, yang tidak bisa mereka tinggalkan.

Sama seperti permainan mafia pada umumnya, ada murid yang menjadi mafia, polisi, dokter, dan warga dengan identitas yang dirahasiakan. Namun yang membuat permainan menjadi lebih “seru” dan menegangkan adalah mafia harus membunuh sungguhan dan proses eksekusi juga akan membunuh peserta yang terpilih dalam voting bersama.

Selagi menebak-nebak dan menginvestigasi siapa saja mafia dalam permainan, setiap peserta juga harus memikirkan cara untuk bertahan hidup ketika malam tiba. Ada keseruan, rasa frustrasi, ketegangan, serta pergolakan emosi dalam skenario seperti ini. Cukup menantang mental, namun inilah yang dicari oleh para penggemar genrenya. “Night has Come” memiliki keseruan dengan perpaduan genre whodunit dan death game-nya. Dua genre yang sangat populer dan memiliki fandom-nya sendiri.

Night Has Come

Episode Cepat dan Sekuen Kematian yang Sadis

K-drama kerap dikenal dengan episode-episodenya yang berdurasi panjang. Bahkan lebih dari 50 menit, menjadi alasan utama mengapa beberapa dari kita menghindari terlalu menikmati k-drama yang memakan waktu. Namun tidak dengan “Night has Come” yang durasinya kurang lebih hanya 30 menit per episodenya.

Dengan premis dan aturan permainan yang sebetulnya sederhana, serial ini juga tidak berusaha terlalu keras untuk memperumit plot untuk alasan yang tepat. Hampir tidak ada adegan yang terasa diulur-ulur atau membosankan. Kita akan mengalami ketegangan penuh dan selalu merasa dikejar oleh waktu.

Buat penggemar tontonan thriller brutal dan sadis, “Night has Come” tampilan visual yang cukup sadis untuk serial dengan karakter-karakter pelajar. Adegan eksekusi pertama sudah berhasil membuat penonton terkejut. Berlanjut ke adegan-adegan eksekusi berikutnya yang selalu bikin penonton merasakan kengerian. Ada terlalu banyak adegan menyakiti diri, bunuh diri, dan pembantian yang brutal di setiap episodenya. Mungkin bukan serial terbaik yang bisa ditonton sambil makan.

Penuh Ketegangan dan Memacu Adrenalin, Meskipun Ending-nya Biasa Saja

Genre whodunit dan survival death game selalu menimbulkan pertanyaan yang sama pada penontonnya; ‘Siapa yang pelakunya? Siapa dalang lebih besar dari situasi tersebut?’. Pertanyaan-pertanyaan inilah yang selalu membuat kita penasaran dan tidak bisa berhenti melanjutkan ke epsiode berikutnya.

“Night has Come” memiliki episode pertama yang berhasil menimbulkan rasa penasaran, ending setiap episode berhasil membuat kita untuk lanjut ke episode berikutnya. Namun apakah jawaban yang diberikan diakhir akan memenuhi ekspektasi kita? Meskipun berhasil menyajikan keseruan yang nagih sepanjang episode, “Night has Come” memiliki ending yang terbilang biasa saja. Tanpa mengurangi keseruan yang sudah kita rasakan sebelum mengetahui jawabannya.

Seperti yang dikatakan, drama ini menghibur untuk ‘orang yang tidak pernah bosan dengan genre survival death game’. Jika mencari sesuatu yang baru dan sudah bosan dengan trik-trik lama, serial ini mungkin tidak akan terlalu menyenangkan. Jajaran karakternya juga termasuk generik. Mulai dari protagonis yang inisitaif dan terlalu baik, karakter tukang bully yang egois dan provokatif, hingga karakter wildcard. Namun semua aktor Korea memang tidak pernah gagal memberikan akting yang berkualitas dan memikat. Pada akhirnya, “Night has Come” adaah serial survival death game yang seru namun tidak baru.

A Murder at the End of the World A Murder at the End of the World

A Murder at the End of the World (Finale) Review

TV

Avatar: The Last Airbender Avatar: The Last Airbender

10 Serial Animasi Anak-anak Populer yang Juga Menghibur Penonton Dewasa

Cultura Lists

A Shop for Killers A Shop for Killers

A Shop for Killers Review: Aksi Lee Dong-wook dan Kim Hye-jun dalam K-Drama Laga

TV

Chernobyl HBO Chernobyl HBO

7 Rekomendasi Miniseri Bermuatan Sejarah

TV

Connect