Connect with us
Bones and All
Metro Goldwyn Mayer Pictures

Film

Bones and All Review: Jika Sid and Nancy adalah Pasangan Kanibal

Romance thriller tidak pernah seindah dan sebrutal ini.

★ ★ ★ ★ ★
★ ★ ★ ★ ★

“Bones and All” merupakan film romance horror yang disutradarai oleh Luca Guadagnino. Film ini lagi-lagi merupakan adaptasi novel setelah sebelumnya Guadagnino menyutradarai film drama romantis, “Call Me By Your Name” (2017).

“Bones and All” diadaptasi dari novel berjudul sama karya Camille DeAngelis yang juga bergenre romansa namun dengan elemen horor yang akan memberikan pengalaman berbeda dan tak terlupakan bagi kita. Film ini dibintangi oleh Taylor Russell dan Timothee Chalamet sebagai pasangn kanibal muda, Maren dan Lee. Adapula aktor yang meramaikan film ini dengan penampilan mereka yang memikat, Michael Stuhlbarg, Andre Holland, Chloe Sevigny, dan Mark Rylance.

Film ini sedikit mengingatkan kita pada film Prancis, “Raw” (2016) oleh Julia Ducourna, dimana mengikuti perjalanan seorang remaja perempuan yang mengeksplorasi sifat kanibalisme dalam diri mereka, menjadi bagian dalam kisah coming of age mereka. Bedanya, “Bones and All” memiliki elemen romansa yang lebih banyak dan perjalanan yang lebih brutal dan barbar. “Bones and All” sedang tersedia di-streaming di Prime Video.

Bones and All Review

Perjalanan Kanibal Muda dalam Menemukan Tempatnya di Dunia

Maren menjadi karakter fokus alias protagonis dalam “Bones and All”, remaja 18 tahun yang ditinggalkn oleh ayahnya untuk menemukan jalan hidupnya sendiri sebagai seorang kanibal. Berbeda dengan film bertema kanibal pada umumnya, film ini seakan memiliki semesta horornya sendiri, konsep dimana ada banyak kanibal yang mungkin saja tak jauh sama lain. Hal tersebut menjadi pelajaran pertama bagi Maren; bahwa ia tidak sendirian di dunia ini sebagai manusia dengan nafsu tidak biasa.

Berlatar pada era 80an, kita akan mengikuti perjalanan Maren layaknya binatang buas muda yang dilepas di alam liar untuk belajar bertahan hidup sendiri. Plot utamanya adalah Maren memutuskan untuk pergi ke Minnesota untuk menemukan ibu kandungnya yang tidak pernah ia temui sejak lahir. Dalam perjalanan, ia bertemu dengan Lee, pemuda yang akhirnya menjadi teman hingga partner in crime sebagai sesama kanibal.

Dalam perjalanannya, Maren mengalami momen menyenangkan bersama Lee, hingga tragedi dan horor dengan phasing yang tepat. “Bones and All” merupakan sajian film unik dimana banyak genre yang saling bertolak belakang tergabung menjadi satu. Namun memiliki presentasi yang sempurna sebagai film dengan plot yang memikat. Phasing antara adegan tenang yang romantis dengan sekuen-sekuen thriller horror-nya sudah sangat tepat.

Bones and All Review

Lembut Namun Brutal, Indah Namun Tak Wajar

“Bones and All” seakan menunjukan bahwa film drama remaja dengan elemen horror fantasy juga bisa menjadi sajian artistik jika digodok kemampuan filmmaker yang berkelas.

Film seperti ini bisa menjadi trendsetter untuk mematahkan stigma film drama remaja seperti franchise “Twilight”, “Warms Bodies”, dan sejenisnya untuk memiliki konsep naskah dan desain produksi yang artistik. Sama seperti bagaimana “It Follows” (2014) merupakan film teen slasher yang terlihat berkualitas secara sinematik dalam skenanya.

“Bones and All” adalah film romansa horor yang lembut namun brutal, indah namun tak wajar. Kita dibawa untuk menyelami kisah coming of age Maren, kemudian perkembangan interaksi romansanya dengan Lee yang lembut, serta beberapa momen horor yang brutal, gore, dan sadis. Dimana semuanya melebur menjadi satu dalam final act yang akan meninggalkan kesan mendalam bagi penontonnya. Baik sebagai sesuatu yang traumatis atau pemahaman cinta yang mendalam dalam metafora “Bones and All”. Lagi-lagi Luca Guadagnino berhasil membuat penonton bengong selagi ending credit diputar. Ada banyak hal yang harus dicerna oleh penonton dari film ini.

Keahlian Luca Guadagnino Mengadaptasi Novel Jadi Sajian Sinematik yang Indah

Sebetulnya konsep cerita “Bones and All” bukan sesuatu yang baru lagi dalam skenanya, namun presentasinya yang membuat film ini terlihat original dan otentik. Luca Guadagnino telah memiliki signature sebagai filmmaker dengan vibes drama emosional yang melankolis dan erotis. Sutradara ini memang memiliki spesialisasi dalam mempresentasikan sesuatu yang brutal menjadi sesuatu yang indah dengan pesonanya sendiri. Dalam dunia film, keindahan juga bisa ditemukan dalam film horor bahkan film bertema kanibal seperti “Bones and All”, Guadagnino berhasil membuktikan hal tersebut melalui film ini.

Ada sedikit perbedaan esensi dalam ending film ini dari materi sumbernya. Jika novel memperlihatkan sudut pandang Maren sebagai kanibal hingga bagaimana ia akhirnya menemukan jati dirinya, dalam film Luca Guadagnino ini, adegan penutup lebih ambigu dan multitafsir. Setidaknya yang terlihat lebih pada bagaimana akhir dan makna cinta di antara Maren dan Lee yang mendalam sesuai dengan jati diri mereka sebagai kanibal. Dinamika romansa dan perjalanan Maren dan Lee ibarat Syd dan Nancy jika mereka adalah pasangan kanibal.

Secara keseluruhan, “Bones and All” mungkin bukan film drama romantis horor untuk pencinta genre romansa mainstream. Tema cerita seperti memang sangat niche dan bukan sesuatu yang menggema dengan perspektif pribadi orang pada umumnya. Namun tak diragukan “Bones and All” harusnya bisa menjadi contoh bagi filmmaker ke depannya jika hendak mengangkat film coming of age dengan romantisme makhluk non-human yang juga bisa berkualitas dan artstik secara sinematik.

Emma Stone Emma Stone

10 Film Emma Stone Terbaik dan Terikonik

Cultura Lists

Oppenheimer & Maestro Oppenheimer & Maestro

Oppenheimer & Maestro: Film Biopik yang Miliki Banyak Kesamaan

Entertainment

Tiger Stripes Tiger Stripes

Tiger Stripes Review: Body Horror Pubertas Akibat Minim Edukasi

Film

What to Stream on Valentine’s Day

Cultura Lists

Connect