Connect with us
A Muse Never Drowns Review
Cr. Cubifilm

Film

A Muse Never Drowns: Usaha Mendapatkan Kembali Motivasi dan Inspirasi untuk Berkarya

Film drama coming of age Jepang bisa jadi inspirasi buat kita yang sedang mengalami mental block.

★ ★ ★ ★ ★
★ ★ ★ ★ ★

“A Muse Never Drowns” merupakan film debut dari sutradara Asao Nozomi rilisan 2022. Dibintangi oleh dua aktris muda, Uehara Miku dan Wakasugi Kogarashi.

Mengalami insiden ketika sedang melukis di dermaga bersama klub melukisnya, Sakuko justru menjadi sumber inspirasi siswi berbakat, Saibara. Saibara menang lomba sampai diwawancarai oleh media lokal berkat prestasi yang ia dapat dari luskisan bertajuk ‘Drowning Sakuko’ (Sakuko yang Tenggelam).

Sebaliknya, Sakuko sedang mengalami dilema untuk keluar dari klub melukis karena merasa kemampuannya menurun. Ia juga sedang beradaptasi dengan situasi baru di rumah semenjak ayahnya menikah lagi.

“A Muse Never Drowns” merupakan film drama Jepang bertema coming of age, mengangkat isu eksplorasi identitas dan potensi pribadi, khususnya dalam dunia seni kreatif. Film ini menjadi bagian dari line up JFF+ Independent Cinema 2023.

A Muse Never Drowns Review

Krisis Kreativitas dan Identitas yang Relevan Secara Universal

Meski bernaung dalam latar kehidupan sekolah dan tema coming of age, film ini memiliki pesan yang bisa relevan juga untuk jangkauan penonton dari berbagai segmentasi usia. Kisah Sakuko sebagai protagonis berputar pada isu burnout, mental block, kecemasan substil, hingga krisis identitas karena berubahan besar dalam hidup.

Selain kini ayahnya sudah menikah lagi, Sakuko bersiap untuk pindah rumah sembari menyambut kelahiran bayi dari istri baru ayahnya. Sepertinya keadaan tersebut membuat Sakuko merasa terisolasi, hingga akhirnya mempengaruhi performanya dalam menciptakan karya seni. Dimana melalui narasinya diindikasikan subjek tersebut berpotensi menjadi pilihan karirnya.

Dengan kesederhaan premis dalam kisah Sakuko, “A Muse Never Drowns” justru terasa semakin dekat dengan kehidupan kita. Ini bisa jadi sumber inspirasi bagi kita yang sedang mengalami kegelisahan, rasa bimbang, dan redupnya talenta kita yang dipengaruhi oleh masalah kehidupan.

Presentasi brainstorming Sakuko dalam kembali mendapatkan inspirasi dan kembali menciptakan karya menjadi momen yang relevan. Terutama bagaimana motivasi untuk keluar dari mental block adalah usaha mendaki yang penuh jatuh bangun secara mental.

Eksplorasi Jati Diri yang Substil

Semakin banyak film-film drama Jepang masa kini yang memasukan isu LGBT, salah satunya film Asao Nozomi ini. Namun cukup sama dengan tema LGBT pada film Indonesia, pendekatan yang ditampilkan dalam naskahnya lebih fokus pada penerimaan diri dan bagaimana orang disekitar menunjukan dukungan level permukaan. Tema LGBT bukan menjadi isu utama yang diangkat dalam film coming of age ini.

Baik Sakuko maupun Saibara ternyata memiliki kegelisahan masing-masing. Ketika Sakuko mengira Saibara memiliki kemampuan di atas rata-rata dan lebih baik darinya, Saibara tidak merasa berada di atas awan meski dengan semua pencaipannya. Menarik bagaimana pesan-pesan tersebut bisa tersampaikan dalam konsep visual, narasi, dan dialog yang sangat minimalis.

Drama Kehidupan Sekolah yang Tenang dan Minimalis

Buat yang sudah familiar dengan katalog JFF+ dan film drama kehidupan Jepang dalam skenanya, mungkin tidak akan kaget lagi dengan nuansa tenang yang mendominasi dalam film ini. “A Muse Never Drowns” memiliki produksi yang terlihat sangat minimalis, namun tidak murahan. Kalau soal sinematografi film Jepang, hampir semuanya memiliki estetika khas yang sama, selalu berhasil terlihat artistik dan nyaman di mata penontonnya.

Tidak banyak karakter juga, hanya beberapa karakter siswa pendukung. Karena lebih banyak adegan kegiatan klub atau saat jam sekolah telah usai. Secara keseluruhan film ini memiliki nuansa yang sangat tenang, begitu pula didukung dengan musik latar hanya pada adegan-adegan yang memohon perhatian lebih dari penontonnya. Untuk pilihan lagu latarnya, aransemennya juga menggambarkan situasi kreatif dari suara-suara natural, seperti ketika Sakuko mengutak-atik perabotan atau alat elektronik.

Secara keseluruhan, “A Muse Never Drowns” merupakan tipkal film drama kehidupan Jepang yang tenang, minimalis, namun to the point dengan pesan yang hendak disampaikan. Untuk film drama yang tenang, tidak banyak adegan draging seperti film Jepang serupa pada umumnya.

Buat yang sedang mengalami mental block atau kehilngan motivasi pribadi dalam berkarya, film ini bisa jadi sumber inspirasi. “A Muse Never Drowns” bisa di-streaming di JJF+ Independent Cinema 2023 sejak 1 Agustus kemarin hingga 31 Oktober mendatang.

Review Film JFF+ Independent Cinema 2023 lainnya:

Lonely Glory Review: Balada Saudara, Warisan, dan Kemenangan Hening 

A Girl in My Room Review: Laki-Laki Patah Hati & Hantu Perempuan Yang Naif 

The Iron Claw Review The Iron Claw Review

The Iron Claw Review: Biopik Tragedi Pegulat Von Erich Bersaudara

Film

Furiosa A Mad Max Saga Review Furiosa A Mad Max Saga Review

Furiosa: A Mad Max Saga Review – Masa Lalu dan Dendam Furiosa

Film

Monkey Man Review Monkey Man Review

Monkey Man Review: Bukan John Wick Versi India

Film

The First Omen The First Omen

The First Omen Review: Prekuel Horor Religi Lebih Sinematik

Film

Connect