Connect with us
Film 1917 Review
1917 (Universal Pictures)

Cultura Lists

10 Film Terbaik yang Mengandalkan Narasi Visual

Film yang mengandalkan sinematografi untuk bercerita.

Film yang mengandalkan narasi visual adalah film yang mampu merangkai cerita melalui setiap frame adegan. Tanpa narasi dalam bentuk voice-over maupun deskripsi teks yang instan. Membuat penonton harus memperhatikan setiap adegan dalam film untuk memahami keseluruhan cerita. Terkadang bisa juga menghadirkan foreshadowing hingga easter eggs visual yang nantinya seru untuk dianalisa.

Membuat film dengan kriteria tersebut menjadi ajang pembuktian seorang sutradara dalam menciptakan visualisasi naskah menjadi film. Bagaimana Ia mengarahkan kamera, mewujudkan visi yang ada di kepala mereka.

Itu mengapa banyak sutradara papan atas lebih nyaman mengerjakan naskahnya sendiri, agar lebih leluasa menerjemahkan naskah deskriptif menjadi karya seni visual. Berikut beberapa contoh film dengan narasi visual terbaik.

Athirah

“Athirah” merupakan film Indonesia dari sutradara Riri Riza, diangkat dari buku biopik ibunda mantan wakil presiden, Jusuf Kalla. Film ini berpusat pada sudut pandang Athirah, istri pengusaha kaya di Makassar pada era 1950-an. “

Athirah” sangat mengandalkan narasi visual dan penampilan akting dari Cut Mini sebagai pemeran utama, untuk penonton bisa memahami apa yang sedang terjadi dalam rumah tangga Athirah.

Meski sedikit terasa hampa dan minimalis, Riri Riza telah berhasil menciptakan film drama Indonesia modern yang sangat sinematik dan artistik. Konsep yang masih jarang diterapkan dengan sempurna dalam film biopik lokal.

Schindler’s List

Steven Spielberg merupakan sutradara ikonik yang lihai dalam menciptakan film dengan narasi visual. Salah satu karya terbaiknya yang patut disebutkan dalam daftar ini adalah “Schindler’s List”.

Film perang yang dieksekusi dalam sinematografi hitam-putih ini memiliki narasi visual yang kuat, memotret tragedi dan kesulitan yang harus dialami orang Yahudi di bawah penindasan Nazi.

Schindler’s List (1993) Review Indonesia

Schindler’s List (1993)

Visual ikonik dalam kisah ini adalah gadis kecil berbaju merah yang dilihat oleh Schindler dalam sebuah frame. Tanpa narasi dan penjelasan langsung dari protagonis, kita bisa memahami bagaimana gadis baju merah tersebut memberikan dampak besar untuk tindakannya selanjutnya. Secara ajaib memberikan poin krusial dalam penokohan pada Schindler cukup dengan visual tersebut.

Moonlight

“Moonlight” tak hanya memiliki sinematografi artistik yang menawan, namun juga esensial untuk narasi kisah Chiron sebagai protagonis dalam kisah ini. Memiliki tema coming of age dengan isu ras dan orientasi seksual, tidak pernah disebutkan secara eksplisit bahwa Chiron menyukai sesama gender.

Melalui tiga babak beranjaknya usia Chiron, penonton harus memperhatikan setiap adegan untuk memahami apa yang mempengaruhi tumbuh kembang remaja berkulit hitam ini. Bahwa terkadang sebuah narasi visual yang tidak eksplisit juga tetap bisa membuat penonton tetap paham apa yang sedang terjadi.

Kurang lebih narasi “hampa” dari film ini cukup serupa dengan “Athirah”. Yang membuat “Moonlight” lebih menarik adalah usaha (dan budget lebih) pada sinematografi yang lebih dinamis dan teknikal.

Yes, God, Yes

Menggunakan narasi protagonis pada film remaja sudah menjadi salah satu teknik yang mainstream. “Yes, God, Yes” menjadi film remaja pada 2019 yang mampu memperkenalkan kita pada protagonis dan subyek yang ingin disajikan dalam naskah melalui narasi visual yang tepat.

Bercerita tentang pertentangan hasrat dan kepercayaan Alice sebagai remaja Katolik, “Yes, God, Yes” menunjukan realita melalui setiap frame dan bagaimana reaksi Alice pada apa yang Ia lihat. Hingga akhirnya mempengaruhi perkembangan perspektif Alice sebagai remaja yang masih berusaha memahami kehidupan.

Midsommar

Desain sinematografi menjadi elemen yang krusial dalam film horor, karena salah satu tujuannya adalah membuat penonton ketakutan melalui visual. Namun, beberapa film horor juga mengandalkan visual untuk membentuk sebuah plot yang kronologis.

“Midsommar” menjadi salah satu film dengan narasi visual terbaik dalam skena horor. Ada banyak easter eggs, foreshadowing, hingga simbol-simbol yang muncul di setiap frame-nya. Akan selalu ada hal baru yang bisa kita temui setelah menonton film ini berkali-kali. Meski tidak harus menangkap setiap simbol untuk memahami garis besar cerita, “Midsommar” menjadi film dengan narasi visual terbaik dari Ari Aster.

midsommar review

Midsommar (2019) | A24

The Neon Demon

Industri fashion adalah dunia yang sangat mengandalkan keindahan visual. “The Neon Demon” menjadi fashion film yang artistik sekaligus sinematik secara teknis maupun naskah.

Bercerita tentang Jesse, remaja yang ingin menjadi supermodel, film ini sangat mengandalkan narasi visual untuk menciptakan suasana, didukung dengan musik tema yang tepat. Membuat keseluruhan film tampak seperti catwalk atau sebuah sesi pemotretan model bertema thriller, menegangkan sekaligus fashionable.

1917

“1917” merupakan film perang dengan visual terbaik saat ini. Film karya sutradara Sam Mendes ini memiliki cerita yang sangat sederhana, dengan satu objektif yang fokus, berbeda dengan film-film perang kolosal pada umumnya. Mendes hendak mengakselerasi cerita sang kakek sebagai veteran Perang Dunia I, menjadi kisah dua tentara yang ditugaskan untuk mengantarkan pesan gencatan senjata sebelum matahari terbit.

“1917” mengeksekusi konsep sinematografi one-long-shoot yang sangat teknikal dengan sempurna. Tak hanya menghasilkan visual yang menggugah, namun mampu memberikan sebuah pengalaman bagi penonton melalui sudut pandang penuh seorang tentara dalam perang berskala besar.

Roma

Menjadi film Original Netflix pertama yang memenangkan Oscar, “Roma” merupakan film hitam-putih modern dengan sinematografi menawan dan realistis. Layaknya sebuah dokumenter kehidupan dari kamera pengintai kualitas tinggi, mengikuti kehidupan Cleo, seorang pembantu rumah tangga di Mexico City.

Bagi beberapa segmentasi penonton, “Roma” bisa menjadi film yang sangat membosankan, namun bisa sangat memukau bagi penonton yang sangat menyukai sinematografi dan narasi visual dari materi cerita yang sangat dekat dengan kehidupan nyata.

Jojo Rabbit

“Jojo Rabbit” lebih dari sekadar film dark comedy dengan latar Perang Dunia II dari Taika Waititi, film ini juga memiliki konsep sinematografi yang mendukung narasi cerita.

Keseluruhan film merupakan sudut pandang protagonis, Jojo Betzler, seorang bocah pengikut Nazi yang telah didoktrin untuk memuja Hitler dan membenci orang Yahudi.

Visual “Jojo Rabbit” secara realistis terlalu berwarna dan vibrant untuk sebuah situasi perang, bukan? Begitu juga komentar beberapa kritikus tentang Scarlett Johansson yang terlalu cantik untuk menjadi ibu Jojo. Namun itulah poinnya, “Jojo Rabbit” merupakan hasil proyeksi dari visi Jojo. Ada juga beberapa frame yang dihadirkan untuk menjadi foreshadowing pada babak akhir cerita.

Jojo Rabbit Review

Jojo Rabbit | 20th Century Fox

The Power of The Dog

“The Power of The Dog” merupakan film terbaik 2021 dengan tema western drama. Berbeda dengan film western pada umumnya yang memuat materi laga, film yang dibintangi oleh Benedict Cumberbatch ini merupakan kisah drama dengan kejutan thriller.

Namun, untuk memahami kronologi dan keseluruhan cerita, kita harus menyimak setiap dialog dan adegan dari awal hingga akhir. Karena tidak ada narasi voice-over maupun adegan flashback. Setiap penonton harus mengingat dan memahami sendiri apa yang menjadi objektif dan perasaan setiap karakter, serta kronologi dari sebuah kejadian.

Click to comment

Teka-teki Tika Review Teka-teki Tika Review

Teka-teki Tika Review: Wadah Eksperimen Tanggung Rasa

Film

Lineup Musisi Internasional di Java Jazz Festival 2022

Cultura Lists

oslo ibrahim java jazz 2020 oslo ibrahim java jazz 2020

Lineup Musisi Indonesia di Java Jazz Festival 2022

Cultura Lists

Django Unchained Django Unchained

Django Unchained Review: Kisah Balas Dendam Seorang Budak

Film

Advertisement
Connect