Connect with us
Schindler’s List (1993) Review Indonesia
Schindler’s List (1993)

Film

Schindler’s List Review: Menceritakan Sejarah Kelam Holocaust

Penuh dengan pesan kemanusiaan.

★ ★ ★ ★ ★
★ ★ ★ ★ ★

Jika membahas tentang genosida, pasti istilah Holocaust bukanlah hal yang asing. Holocaust adalah sebuah pembantaian besar-besaran yang dilakukan oleh negara Jerman Nazi terhadap hampir seluruh penganut Yahudi di Eropa. Dalam waktu empat tahun, jutaan penganut Yahudi disiksa dan dibunuh oleh para tentara Nazi di bawah pimpinan si tangan besi, Adolf Hitler.

Tanpa dipungkiri, Holocaust merupakan salah satu tragedi mengerikan yang tercatat dalam sejarah dunia. Namun, sama seperti kisah-kisah sejarah lainnya, tragedi Holocaust mulai dilupakan oleh banyak orang. Hal tersebutlah yang menjadi alasan Steven Spielberg membuat sebuah film bertemakan Holocaust berjudul Schindler’s List.

Schindler’s List 1993 Review Indonesia

Schindler’s List diadaptasi dari sebuah novel karya Thomas Keneally yang berjudul Schindler’s Ark. Steven Spielberg sebagai sutradara bekerjasama dengan Steven Zailllian sebagai penulis naskah mengangkat kisah Schindler ke dalam sebuah film. Schindler’s List dirilis pada tahun 1993 dan meraih kesuksesan yang dibuktikan oleh 7 penghargaan Piala Oscar yang disabet pada tahun 1994.

Sebuah Film Histori-Drama yang Memancarkan Rasa Takut dan Kesedihan

Karakter utama dalam film ini adalah seorang pebisnis bernama Oskar Schindler (Liam Neeson) yang berasal dari Czechoslovakia. Oskar Schindler digambarkan sebagai karakter yang jauh dari kata baik saat awal cerita berlangsung. Schindler merupakan pria yang tamak, mata keranjang, dan manipulatif. Misi utamanya datang ke Polandia adalah membangun sebuah pabrik besi untuk mengolah peralatan dapur dan perlengkapan perang.

Pada saat itu, Jerman telah menduduki Polandia dan banyak menggunakan warga Yahudi untuk melakukan kerja paksa. Schindler berharap dirinya dapat memanfaatkan tenaga para Yahudi untuk bekerja di pabriknya, sehingga ia bisa menekan pengeluaran dan mendapatkan lebih banyak penghasilan.

Pada awal cerita, diperlihatkan bagaimana kepanikan warga Yahudi di Polandia saat mengetahui bahwa Nazi telah berhasil menginvasi negaranya. Tidak ada yang bisa dilakukan oleh mereka selain berdoa untuk meminta keselamatan dan kabur dari para tentara Nazi. Namun, kamp-kamp konsentrasi telah dibangun di Polandia. Warga Yahudi ditangkap dan dibawa dengan paksa menuju kamp-kamp tersebut. Para Yahudi tidak pernah mengetahui hal-hal buruk yang akan terjadi pada mereka.

Schindler’s List 1993 Review

Universal Pictures

Banyak adegan mengerikan sekaligus menyedihkan dalam film ini. Salah satu adegan yang selalu teringat adalah saat para Yahudi dibawa paksa oleh tentara Nazi dan mereka dipisahkan dari sanak keluarga. Raut wajah ketakutan para korban mampu ditangkap dengan sangat baik dalam film ini dan memberikan dampak besar bagi emosi penonton.

Kontras dengan keadaan di sekitarnya, Schindler menikmati kehidupan nyaman dan tentram di Polandia. Schindler mulai membuat banyak relasi dengan para perwira Nazi dan mendapatkan dukungan militer untuk mulai membangun pabriknya.

Ia bertemu dengan seorang akuntan Yahudi bernama Itzhak Stern (Ben Kingsley) dan menawarkan kerjasama dengannya dan tentu saja diterima baik oleh Stern. Akhirnya Schindler bisa menjalankan bisnis dan Stern menggunakan posisinya untuk menyelamatkan teman-teman Yahudi.

Kebiadaban Perang yang Menyadarkan Schindler

Sesuai dengan misi awal, Schindler menjalankan bisnisnya dengan sangat baik di Polandia. Ia mendapatkan banyak kekayaan dan mulai terkenal di kalangan para pejabat Nazi. Schindler tidak pernah peduli dengan persoalan perang. Bahkan dirinya tidak pernah melihat pekerja Yahudi dalam pabriknya sebagai manusia. Mereka dipaksa bekerja keras dengan upah yang sangat sedikit.

Schindler’s List (1993)

Schindler’s List (1993) | Universal Pictures

Sampai akhirnya kebiadaban perang terjadi di depan mata kepalanya sendiri. Schindler menyaksikan sadisnya pembantaian yang dilakukan oleh para tentara Nazi terhadap para Yahudi. Mereka merampas barang berharga milik Yahudi, membinasakan rumah-rumah, dan menembaki para Yahudi tanpa terkecuali.

Adegan penyiksaan dan pembataian diperlihatkan secara eksplisit dalam film ini. Membuat penonton ikut merasakan kengerian perang pada masa itu. Perasaan emosional akan kita rasakan saat melihat Schindler mulai menyadari betapa kejamnya pihak Nazi. Tanpa banyak berpikir, Schindler akhirnya merelakan segala hal yang ia miliki untuk menyelamakan para Yahudi.

Schindler meminta Stern untuk membantu dirinya menjalankan misi penyelamatan. Stern ditugaskan untuk membuat daftar nama para Yahudi. Schindler membeli para Yahudi yang masuk ke dalam daftar nama tersebut dari tangan Nazi dan membawa mereka ke negara asalnya agar terhindar dari siksaan para tentara Nazi.

Secara keseluruhan, Schindler’s List merupakan sebuah film yang dibuat dengan sangat apik. Dalam film ini, Spielberg memilih untuk menggunakan warna hitam-putih pada seluruh adegan. Pemilihan warna tersebut menjadikan Schindler’s List terasa realistis dan terasa seperti sebuah dokumenter dibandingkan sebuah film.

Schindler’s List 1993

Universal Pictures

Pemilihan warna hitam-putih dipilih oleh Spielberg sebagai simbol kegelapan pada masa Holocaust. Satu-satunya warna yang mencolok dalam film ini adalah ketika sebuah adegan yang memperlihatkan seorang gadis kecil Yahudi yang mencoba menyelamatkan dirinya dari terror para tentara Nazi. Gadis kecil itu memakai baju berwarna merah dan terlihat mencolok jika dibandingkan dengan lanskap hitam-putih di sekitarnya. Banyak yang berasumsi bahwa gadis berbaju merah itu dianalogikan sebagai kehidupan yang penuh warna dan harapan.

Selain pemilihan warna hitam-putih, sinematografi yang terlihat sangat mencolok adalah parallel editing yang diaplikasikan dalam film ini. Contohnya adegan saat seorang perwira Nazi bernama Amon Goeth (Ralph Fiennes) yang menyiksa pembantu rumahnya yang merupakan keturunan Yahudi bernama Helen (Embeth Davidtz), pada detik selanjutnya, adegan berpindah pada sebuah pernikahan kecil-kecilan yang dilakukan oleh kedua pasangan Yahudi di sebuah kamp konsentrasi yang kumuh.

Schindler’s List Review

Ralph Fiennes & Liam Neeson | (Amblin Partners / Universal Pictures)

Lalu adegan berpindah lagi pada sebuah pesta meriah yang dihadiri oleh Schiendler dan para pejabat Nazi. Ketiga adegan tersebut diperlihatkan dengan cara paralel sehingga memperlihatkan kontras yang kuat antara penyiksaan yang dirasakan oleh para Yahudi dan kebahagiaan para Nazi yang telah merampas kebebasan mereka.

Dibalik kesuksesan Schindler’s List, ternyata film ini pernah dilarang untuk tayang di beberapa negara, salah satunya di Indonesia. Schindler’s List dirilis pada masa orde baru dan pemerintahan pada masa itu melarang keras penayangannya di bioskop. Film ini dianggap mengandung terlalu banyak konten sensitif, yaitu konten agama dan politik.

Namun, kembali pada tujuan utama Steven Spielberg dalam pembuatan film ini, yaitu murni untuk edukasi. Spielberg mengajak kita untuk selalu mengingat sejarah dan belajar dari kesalahan yang sudah dibuat pada masa lampau agar tidak terjadi lagi di masa kini. Schindler’s List sekarang sudah bisa kita saksikan di Netflix.

Terlepas dari segala kontroversinya, Schindler’s List merupakan sebuah film yang epik dan wajib ditonton oleh banyak orang. Sinematografinya yang unik dan pembawaan setiap karakter yang menjiwai merupakan nilai tambah dari film ini.

Bagian terpenting dalam Schindler’s List adalah pesan-pesan kemanusiaan yang sangat kita butuhkan bahkan pada era sekarang. Schindler’s List mengajarkan kita bahwa kebencian merupakan penyebab dari sejarah yang kelam.

Click to comment
Advertisement
Cultura Podcast
Connect