Connect with us
Yes, God, Yes
Vertical Entertainment

Film

Yes, God, Yes: Pertentangan Batin Remaja Antara Hawa Nafsu dan Nilai Agama

Masa remaja, seksualitas, dan agama.

★ ★ ★ ★ ★
★ ★ ★ ★ ★

Indonesia merupakan salah satu negara yang masih kuat akan berbagai nilai agama. Membuat setiap remaja tumbuh dalam lingkungan religius dengan segala batasan dan panduannya. Sebagai seorang remaja yang masih lugu dan polos, kita mungkin pernah dihantui rasa berdosa ketika melewati batasan tertentu. Itulah yang dirasakan Alice dalam film ‘Yes, God, Yes’.

Another coming of age film, ‘Yes, God, Yes’ disutradarai dan ditulis oleh Karen Maine. Dibintangi oleh Natalia Dyer (Stranger Things) sebagai Alice, gadis remaja beragama Katolik yang sedang terpuruk dan dihadapi dilema ketika Ia mulai merasakan dorongan seksual di masa akil baliqh-nya.

Yes, God, Yes

Vertical Entertainment

Alice tumbuh di sebuah keluarga yang taat beragama, sekolah di sekolahan Katolik, dengan teman-teman yang juga religius. Melalui platform chatting online, Alice menemukan hal yang membuatnya mulai melanggar batasan yang selama ini diajarkan oleh agamanya. Ditambah dengan gosip yang beredar di sekolah akan dirinya, Alice semakin merasa “tersesat” dan berdosa. Berharap mengalami perubahan dalam dirinya, Ia pun mengikuti retret Katolik sekolahnya dan mendapatkan pencerahan yang sangat tidak terduga atas segala kegelisahannya.

Ketika Hawa Nafsu Biologis Bertentangan Dengan Nilai Agama

Semua agama selalu mengajarkan kita untuk menahan hawa nafsu, salah satunya nafsu seksual. Seks seakan sesuatu yang tabu untuk dibicarakan, meski kenyataannya, hal tersebut merupakan salah satu bagian pada tubuh dan hidup kita yang natural.

Film diawali dengan penjabaran singkat dari nilai-nilai tersebut, membawa kita pada situasi Alice yang beragama Katolik dengan ajarannya. Sangat tepat menaruh statement tersebut pada permulaan film. Hal ini untuk memberikan patokan awal atau standard salah dan benar di mata agama.

Hingga akhirnya kita memasuki babak dimana Alice menghadapi hawa nafsu seksualnya secara tidak sengaja. Mungkin beberapa dari kita juga pernah merasakan kegelisahan yang sama di kala remaja. Inilah salah satu keunggulan dari “Yes God Yes”; memiliki ide cerita yang relevan dengan penonton. Isu ini juga mungkin banyak dialami oleh remaja Indonesia dan belum ada film lokal dengan materi seperti ini.

Yes, God, Yes

Vertical Entertainment

“Yes God Yes” mengambil latar pada tahun 2000-an, diperlihatkan melalui handphone yang masih monophonic dan komputer dengan desain yang jadul. Pilihan latar waktu yang pas karena film ini berlatar di Amerika. Ketika remaja masih memiliki akses terbatas akan segala informasi dan kehidupan tidak sebebas jaman sekarang di sana.

Penampilan Natalia Dyer Sebagai Remaja Katolik yang Lugu

Sebagai Alice, Natalia Dyer memberikan penampilan akting dan penokohan yang sempurna. Ia berhasil mengeksekusi karakter Alice yang lugu dan kikuk. Sebetulnya tidak ada yang spesial dari Alice, Ia murid biasa-biasa saja, tidak terlalu populer, dan memiliki kehidupan yang biasa saja. Bukan karakter eksentrik dengan segala pemikiran yang kritis dan unik seperti tokoh utama pada sebagian besar film drama remaja.

Yes, God, Yes

Vertical Entertainment

Sudah lama semenjak film drama remaja dibawakan tanpa narasi dari pemeran utamanya. Meski tanpa narasi untuk menjelaskan perasaan pemeran utama, Natalia Dyer mampu membawakan akting yang “berbicara”. Bisa dibilang Natalia tidak memiliki porsi dialog yang banyak. Ia hanya diam, merasakan, dan mengobservasi situasi sepanjang kisah.

Tidak Merendahkan Ajaran Agama Tertentu, Hanya Memberikan Perspektif Baru

Agama merupakan materi yang cukup sensitif. Salah-salah naskah yang ditulis bisa merendahkan ajaran agama tertentu meski secara tidak sengaja. “Yes, God, Yes” sama sekali tidak memberikan statement jelas tentang ‘ini yang benar dan ini salah’, hanya memberikan sebuah pencerahan baru yang bisa memberikan dampak berbeda pada setiap penontonnya. Setiap penonton pasti memiliki keyakinan dan prinsip yang berbeda. Dibutuhkan pikiran terbuka untuk bisa menangkap pesan yang hendak disampaikan melalui film ini.

Oleh karena itu, sebuah pilihan yang tepat untuk tidak memberikan narasi seperti film drama remaja pada umumnya. Kita sebagai penonton hanya bisa mengobservasi dan menarik kesimpulan sendiri, bahkan tanpa intervensi pendapat dari karakter utama yang memposisikan diri sebagai pihak yang harus didukung dan dibenarkan pemikirannya.

Setiap agama mengajarkan hal yang baik dan manusia tak pernah lepas dari dosa. Namun, apakah merasakan hasrat seksual sebagai proses pendewasaan fisik dan psikis merupakan sebuah hal yang salah? “Yes, God, Yes” telah menyajikan isu yang selama ini mungkin bersembunyi dalam batin kita dan memberikan pencerahan baru dengan komposisi yang tepat.

Click to comment
Advertisement
Cultura Podcast
Connect