Connect with us
Image: DEA PICTURE LIBRARY/Getty

Culture

Wabah Mematikan Dari Masa Ke Masa Part 3

Bagaimana wabah-wabah di dunia memunculkan ide karantina wilayah di abad 14?

Ini adalah seri terakhir dari tiga tulisan mengenai sejarah wabah mematikan dari masa ke masa. Sebenarnya seri sejarah wabah ini belum cukup merangkum seluruh wabah yang ada dunia. Ini karena jumlahnya yang begitu banyak. Ditambah lagi sulit mencari bukti sejarah untuk sesuatu yang terjadi ratusan bahkan ribuan tahun lalu.

Wabah Mematikan Dari Masa Ke Masa Part 1 & Part 2

Hingga kini para peneliti masih banyak melakukan pencarian di berbagai penjuru dunia mengenai kaitan antara satu wabah dengan wabah lainnya. Ada wabah yang hilang dengan sendirinya dan mungkin dapat kembali suatu saat nanti. Beberapa wabah lain hilang karena adanya intervensi medis. Dengan mempelajari sejarah wabah, diharapkan kita dapat memberikan respon lebih baik mengenai pandemi lain yang akan terjadi di masa depan.

Wabah Demam Kuning

Demam kuning adalah penyakit yang berasal dari Benua Afrika dan disebabkan oleh gigitan nyamuk. Penyakit ini menyebar ke belahan dunia lain akibat perdagangan budak. Orang-orang kulit hitam dijual sebagai budak ke Benua Amerika. Epidemi pertama akibat demam kuning pecah di tahun 1648 di Yucatan, sebuah negara bagian di Negara Meksiko. Selama 200 tahun, wabah ini menyebar di Benua Amerika dan Eropa.

Pada masa itu dunia medis belum mampu membuktikan bahwa demam kuning bukan ditularkan dari satu orang ke orang lainnya. Sampai akhirnya ketika Amerika menginvansi Kuba di abad ke-19, sebanyak 13 orang tentaranya mati karena penyakit ini. Ada empat dokter militer yang diperintahkan untuk menyelidiki demam kuning yaitu Walter Reed, Aristides Agramonte, James Caroll, dan Jesse Lazear.

Mereka menemukan bahwa demam kuning ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti yang di Indonesia dikenal sebagai nyamuk demam berdarah. Cara mengetahuinya pun cukup unik. Caroll sengaja agar dirinya digigit oleh sang nyamuk pada 27 Agustus 1900 untuk menguji hipotesis yang pernah diungkapkan oleh seorang Kuba, Carlos Finlay di tahun 1881. Akhirnya terbukti bahwa penyakit ini ditularkan lewat nyamuk.

Diduga epidemi demam kuning yang dulu terjadi memakan korban 100 ribu hingga 150 ribu jiwa. Selain dapat menjangkiti manusia, demam kuning juga dapat menginfeksi primata misalnya monyet. Demam kuning sempat menjadi masalah global di zaman modern yaitu tahun 1988 ketika ada 5 juta kasus dengan jumlah orang yang sudah divaksin kurang dari 5%. Kini, 51% dari total populasi penduduk di negara-negara dengan risiko demam kuning tinggi telah divaksin.

Di Indonesia, kasusnya cenderung rendah. Penduduk Indonesia lebih mungkin terjangkit demam berdarah dibanding demam kuning. Untuk mendapatkan diagnosis terjangkit demam kuning, seseorang umumnya harus menjelaskan riwayat perjalanannya. Dokter akan menduga seseorang terkena demam kuning bila ia bepergian ke Afrika, Amerika Latin, atau Kepulauan Karibia.

Baca Juga: Rekomendasi Buku Tentang Wabah

Wabah Kolera

Peneliti melakukan estimasi bahwa tiap tahunnya ada 1,3 juta hingga 4 juta kasus kolera di seluruh dunia. Penyakit ini dapat menyebabkan 143 ribu kematian pertahun. Meski hanya berupa diare, penyakit ini dapat mematikan hanya dalam beberapa jam saja bila tidak ditangani dengan baik. Kolera disebabkan oleh bakteri Vibrio cholerae. Sebenarnya kolera dapat dicegah jika lingkungan terjaga kebersihannya dan ada akses air bersih untuk dikonsumsi.

Pandemi kolera yang tercatat sejarah dengan baik pertama kali pecah di tahun 1817. Pandemi kolera terjadi sebanyak enam kali dan merenggut korban jiwa lebih dari 1 juta orang. Pandemi ketujuh kolera pecah di Asia Selatan pada 1961. Lalu penyakit ini menyebar ke Afrika pada 1971 dan sampai di Amerika pada 1991. Hingga kini kolera masih menjadi masalah di berbagai negara terutama di daerah padat penduduk dengan sanitasi buruk dan akses air bersih yang sulit.

Berdasarkan manuskrip yang ditemukan di India, diduga kolera telah ada sejak abad 5 Sebelum Masehi. Sebuah manuskrip di Yunani mencatat kolera di abad 4 Sebelum Masehi. Namun tentu saja sulit untuk mengetahui jumlah kematian di masa itu dan memastikan apakah semua korban jiwa benar-benar disebabkan oleh kolera. Seorang sejarawan Portugis, Gaspar Correa, mencatat wabah kolera di Sungai Gangga, India, pada 1543.

Amerika mencatat wabah kolera terjadi dalam tiga gelombang di tahun 1832 hingga 1866. Diperkirakan dua hingga enam orang meninggal dunia setiap harinya. Tidak diketahui apa yang benar-benar menghentikan pandemi kolera meski penyakit ini masih mewabah di beberapa negara. Dengan kemajuan ilmu medis kini risiko kematian akibat kolera dapat diminimalisir.

wabah mematikan dunia

RS darurat di Camp Funston, Kansas, 1918. | (New Contributed Photographs Collection / otis historical Archives / National Museum of Health and Medicine)

Flu

Indonesia merasakan dua kali wabah flu yaitu flu burung dan flu babi. Pandemi flu pertama yang tercatat dalam sejarah modern adalah Rusian Flu yang terjadi tahun 1889. Ini dianggap sebagai asal mula virus flu burung. Indonesia tercatat mengalami virus flu burung tipe H5N1 sementara Russian Flu adalah tipe H2N2. Diduga angka kematian yang terjadi sekitar 1 juta jiwa.

Saat itu berita mengenai Rusian Flu menyebar cepat di Eropa. Orang-orang di Amerika merasa santai-santai saja karena mengira virus flu burung tersebut tidak akan sampai ke sana. Namun ketika akhirnya korban mulai berjatuhan, pemerintah menolak bahwa itu adalah virus flu burung. Pemerintah menyatakan bahwa itu hanya batuk pilek biasa atau sakit flu karena musim pancaroba.

Tindakan meremehkan juga dilakukan oleh media massa setempat dengan menganggap penyakit itu sebagai flu biasa. Hal ini tak berlangsung lama ketika di Januari 1890 Amerika mencatat 1202 kematian. Uniknya, media ketika itu menggarisbawahi bahwa orang-orang yang mengalami kematian adalah kelompok rentan seperti memiliki paru-paru lemah atau sakit ginjal. Persis seperti kondisi yang dialami saat ini ketika kita mengalami pandemi Covid-19.

Spanish Flu alias virus flu babi tipe H1N1 mewabah tahun 1918. Sebenarnya virus ini pertama kali menjangkiti Amerika. Namun media kompak untuk menutupi hal tersebut. Berita-berita yang kita baca di koran saat itu hanya soal perang. Begitu pula dengan berita di koran-koran Eropa. Spanyol sebagai negara yang netral adalah negara pertama yang memberitakan wabah tersebut. Angka kematian diduga 20 hingga 40 juta jiwa. Beberapa sumber lain menyatakan korban jiwa mencapai 50 juta.

Indonesia sendiri juga mengalami pandemi flu tersebut. Sanitasi yang buruk ditambah penduduk yang tidak memiliki uang untuk berobat memperparah kondisi. Orang-orang tidak dapat diselamatkan dan angka kematian terus naik. Sebagai salah satu contoh, di Malang dalam seminggu tercatat ada 66 kematian akibat flu. Kurangnya pemahaman masyarakat membuat mereka mengira penyakit tersebut disebabkan rawa-rawa yang kotor.

Virus flu burung kembali menyerang (dan disebut Asian Flu) pada tahun 1957. Diduga ada 1,1 juta kematian akibat penyakit tersebut. Virus flu dengan tipe H3N2 (disebut Hong Kong Flu) mewabah di tahun 1968 dan kembali memakan korban hingga 1 juta jiwa. Lalu flu babi kembali mengejutkan dunia di tahun 2009 dan menyebabkan kurang lebih 200 ribu kematian. Kita juga menghadapi SARS, Ebola, dan MERS dalam beberapa tahun ini.

Virus corona atau penyakit Covid-19 yang kini kita kenal berasal dari Wuhan, China. Namun kesadaran publik sudah muncul untuk tidak menamainya China virus atau Asian virus. Hal ini untuk meminimalisir dampak rasisme yang muncul akibat penamaan suatu penyakit. Walau demikian, di berbagai negara di luar Asia dilaporkan bahwa orang-orang Asia diserang karena dianggap menyebarkan virus. Selain itu rasisme juga menyebabkan angka kematian lebih tinggi pada kelompok masyarakat kulit hitam di Amerika dan terutama untuk masyarakat ekonomi menengah ke bawah.

wabah mematikan dunia

Pada tahun 1890-an, para pelancong dari Swiss dikarantina di Italia untuk memastikan mereka tidak menderita kolera. | HIP / Art Resource, NY

Wabah yang Terus Kembali dan Sejarah Karantina

Sebenarnya flu dan pes adalah dua penyakit utama yang wabahnya terus kembali. Misalnya penyakit pes saja, walau dalam sejarah dinamakan dengan nama yang berbeda-beda, sebenarnya sama saja. Justinian Plague, The Black Death, The Great Plague of London, Italian Plague, dan Third Plague merujuk pada wabah yang sama yaitu pes. Third plague sendiri terjadi di China dan India. Antonine Plague, Japanese Smallpox, dan New World Smallpox sama-sama merujuk pada wabah cacar.

Praktik karantina wilayah menjadi salah satu cara untuk menangani wabah. Hal ini pertama kali dilakukan di abad 14. Karantina berasal dari Bahasa Italia, quaranta giorni, yang artinya 40 hari. Ini karena kebijakan yang dibuat saat itu yaitu kapal-kapal yang ingin berlabuh harus melakukan karantina selama 40 hari di laut sebelum memasuki pelabuhan. Kebijakan tersebut diambil demi meminimalisir penyebaran wabah.

Amerika sendiri akhirnya menyadari pentingnya karantina setelah wabah demam kuning terjadi. Kongres mengeluarkan aturan mengenai karantina di tahun 1878. Tentu saja peraturan itu terus dikembangkan sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan wabah yang terjadi di kemudian hari. Kini, kita tak hanya melihat bagaimana berbagai negara menerapkan karantina alias lockdown tapi juga dapat mengetahui data real time perkembangan wabah di tiap negara.

Hal ini pertama kali dilakukan tahun 1854 oleh Dokter John Snow di London. Ia menyadari bahwa wabah kolera yang terjadi saat itu disebabkan oleh air yang tercemar. Ia lalu membuat peta berisi data kematian di tiap wilayah. Dari sini kita mengenal kaitan antara wabah dengan kondisi geografis dan bagaimana analisis statistik terhadap perkembangan suatu kasus dilakukan.

Karantina telah dilakukan sejak wabah pes di Italia (1370), tipus di Amerika (1892), sifilis di Amerika (1917), SARS di Kanada (2003), hingga Ebola di Liberia (2014). Karantina kembali populer dilakukan untuk menekan penyebaran virus corona tahun ini. Tentu saja sulit untuk melakukannya mengingat perekonomian harus tetap berjalan. Namun mengandalkan ide bahwa masyarakat akan kebal dengan sendirinya menjadi kurang etis ketika dunia medis telah meningkat pesat dan kematian yang terjadi seharusnya bisa dicegah.

Click to comment

Leave a Comment

Advertisement
Cultura Podcast
Connect