Connect with us
Wabah Mematikan Di Dunia dari Masa ke Masa
The plague of Florence in 1348, as described in Boccaccio’s Decameron

Culture

Wabah Mematikan Di Dunia dari Masa ke Masa Part 2

Wabah telah ribuan tahun menghantui hidup umat manusia.

Artikel lanjutan dari Wabah Mematikan di Dunia: Influenza hingga Corona

Adanya pandemi Covid-19 membuat banyak orang panik. Seakan, umat manusia baru pertama kalinya mengalami wabah. Padahal kalau kita melihat sejarah, musibah serupa wabah telah berkali-kali mengancam peradaban manusia. Kita selalu bisa bertahan. Namun kita sangat perlu belajar dari sejarah untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama. Sebelumnya kita telah mempelajari wabah influenza dan pes yang mematikan. Di luar itu ada wabah-wabah lain yang telah merenggut banyak nyawa.

Wabah Antonine

Pada tahun 165 Masehi, Kekaisaran Roma yang berjaya setelah melawan Kekaisaran Parthia (cikal bakal Iran) membawa pulang oleh-oleh tak terduga. Itu adalah wabah Antonine. Saat itu ilmu kedokteran masih sangat kuno dan belum mampu melakukan diagnosis dengan baik. Namun Dokter Galen, dokter yang saat itu bekerja dalam merawat para pasien, membuat catatan. Isinya membuat ilmu kedokteran masa kini menduga bahwa Wabah Antonine merupakan wabah cacar.

Diduga wabah inilah salah satu penyebab mulai runtuhnya kejayaan Kekaisaran Romawi. Gelombang pertama wabah terjadi pada 165-180 Masehi. Wabah kembali muncul pada 251-266 Masehi. Dokter Galen mencatat bahwa gejala yang dirasakan pasien adalah demam, diare, rasa haus berlebih, tenggorokan bengkak, dan batuk.

Selain itu ada benjolan-benjolan yang pada masa kini kita temui di tubuh penderita cacar. Pasien juga mengalami diare yang mengandung darah. Rata-rata penderitanya terjangkit penyakit tersebut selama dua minggu. Tak semuanya meninggal. Pasien yang berhasil sembuh menunjukkan tanda-tanda kebal sehingga tidak terjangkit kembali saat wabah menyerang di gelombang kedua.

Nampaknya penyakit ini bermula di China. Penyakit ini akhirnya “bertemu” dengan tentara Kekaisaran Roma karena mereka datang ke dataran Asia. Para sejarawan menduga Wabah Antonine disebarluaskan melalui jalur sutra. Pedagang yang sakit bisa saja menularkannya dalam perjalanan mereka. Kemunculan wabah ini, dalam sejarah Roma, dikaitkan dengan mitos bahwa ini adalah kutukan para dewa pada umat manusia.

Sejarawan Dio Cassius menduga pada gelombang pertama wabah, diperkirakan 2 ribu orang Roma meninggal setiap harinya. Pada gelombang kedua estimasinya adalah 5 ribu jiwa perhari. Sepertiga populasi Kekaisaran Romawi lenyap yang artinya kehilangan nyawa 60-70 juta orang. Ini membuat Kekaisaran Romawi kehilangan banyak pemudanya. Mereka kehabisan tentara.

Wabah Antonine membuat orang Roma harus merekrut tentara dari suku-suku lain demi memperkuat kekaisaran bahkan artinya merekrut para kriminal. Perekonomian pun terguncang. Saking lemahnya saat itu Kekaisaran Romawi berhasil digempur oleh suku dari Jerman, untuk pertama kalinya dalam 200 tahun.

Lebih mengerikan lagi adalah kematian di kelompok petani. Kekurangan petani membuat warga Roma kesulitan untuk makan. Ada terlalu banyak lahan pertanian telantar dan bahan baku yang tak dapat diolah. Harga bahan makanan pun naik. Bisa dibilang segala sisi dari kehidupan masyarakat Roma terdampak.

Baca Juga: 10 Penyebab Kematian Terbanyak di Dunia

Wabah Sifilis

Alkisah Syphilus adalah gembala yang mengurus kawanan domba Raja Alcihtous. Sang gembala marah pada Apolo, Dewa Matahari, karena membuat pohon terbakar dan mata air mengering. Padahal mata air itu digunakan untuk minum kawanan domba. Syphillus bersumpah tidak akan lagi menyembah Apolo dan memilih menyembah rajanya. Apolo marah lalu menurunkan bencana ke bumi berupa penyakit sesuai dengan nama sang gembala.

Itulah asal nama penyakit sifilis. Kisah di atas dibuat oleh Girolamo Fracastoro, seorang dokter di masa itu. Sifilis adalah penyakit yang ditularkan melalui hubungan seksual dan disebabkan oleh bakteri Treponema Pallidum. Karena cara penularannya inilah penderitanya mendapatkan stigma. Tak hanya itu, banyak negara saling tuding mengenai asal dari penyakit ini. Bila wabah sifilis merebak di negaranya maka biasanya negara lain akan dituding sebagai penyebabnya.

Italia, Jerman, dan Inggris menyebutnya sebagai Penyakit Prancis. Prancis menyebutnya sebagai Penyakit Neapolitan. Rusia menyebutnya Penyakit Polandia. Daftar penamaan ini masih berlanjut panjang karena saling tuding antarnegara. Namun ada satu kesamaan yaitu negara-negara di luar Eropa menuding bahwa ini adalah penyakitnya orang Eropa. Tentunya orang Eropa punya pihak yang patut disalahkan yaitu Columbus.

Pada zaman modern seperti sekarang sifilis tak lagi mengerikan karena kita telah mengenal antibiotik. Epidemi sifilis pertama kali muncul pada 1495 di antara tentara Raja Prancis Charles VIII setelah melakukan invansi terhadap Kota Naples di Italia. Uniknya, para ahli menemukan bahwa penyakit ini menyebar luas ke berbagai belahan dunia jauh sebelum adanya globalisasi.

Catatan sejarah menunjukkan penjelasan yang cukup seksis bahwa penyakit tersebut didapatkan laki-laki dari alat kelamin perempuan. Ini karena pada masa itu seorang bangsawan mendapatkan sakitnya setelah meniduri seorang PSK. Saat awal terkena penyakit orang yang menderita sifilis tidak sadar sebab lukanya tidak terasa sakit. Dalam hitungan tahun penyakit ini dapat makin parah.

Sifilis dapat menyerang otak dan jantung. Awalnya mungkin hanya berupa ruam atau lubang pada tubuh. Di beberapa kasus, kerusakan menembus hingga ke tulang. Angka kematiannya memang tak semengerikan wabah lain. Hanya saja rasa sakit yang dihasilkan sulit ditahan sehingga membuat penderitanya benar-benar tersiksa. Orang Indonesia lebih mengenal sifilis sebagai raja singa.

Wabah Kusta

Kusta adalah penyakit yang dianggap mengerikan di Eropa pada abad pertengahan. Penderitanya harus mengenakan bel untuk memberi tahu orang-orang di sekitarnya bahwa ia berpenyakit. Ini adalah salah satu penyakit yang paling ulet dalam menyerang umat manusia. Usianya sudah 1000 tahun. Uniknya lagi, bakteri penyebabnya, Mycobacterium leprae, tak banyak berubah dan menginfeksi 200 ribu jiwa pertahunnya.

Kebanyakan penderitanya terinfeksi saat masih anak-anak. Namun masa inkubasinya begitu lama sehingga mereka tak menyadari telah terjangkit. Beberapa bahkan baru sadar telah sakit kusta di setelah menginjak usia 35 tahun. Masa inkubasi yang begitu lama membuat penderitanya tetap hidup dan kemudian mati akibat penyakit lain.

Penyakit ini menjadi mengerikan karena tampilannya pada kulit yang begitu buruk. Dibanding sifilis, kusta adalah penyakit yang penderitanya mendapatkan stigma paling buruk. Ditambah lagi, orang lebih mudah terserang penyakit ini pada kondisi yang tidak higienis. Ini membuat masyarakat dari kelompok menengah ke bawah mudah terserang. Karena itulah kusta menjadi salah satu penyakit yang menjadi perhatian serius bagi para ahli terutama di kota dengan jumlah gelandangan yang tinggi.

Sebenarnya kusta dapat diobati dengan baik. Namun masyarakat yang terlalu miskin sangat mungkin tak mampu mengakses layanan kesehatan demi mengobati dirinya. Padahal kusta dapat menyebabkan kebutaan, mati rasa, hingga hilangnya jari-jari tangan. Indonesia adalah satu dari tiga negara di dunia dengan kasus kusta tertinggi selain India dan Brazil.

Wabah Tipus

Bisa dibilang tipus adalah penyakit yang cukup akrab bagi masyarakat. Kita sering mendengar seseorang dirawat di rumah sakit karena tipus dengan embel-embel bahwa ia kelelahan sehingga jatuh sakit. Ternyata tipus sempat menjadi wabah. Penyakit ini disebabkan oleh bakteri Rickettsia prowazekii yang disebarluaskan oleh kutu tubuh. Manusia yang digigit kutu yang mengandung bakteri ini menjadi terinfeksi.

Umumnya penyakit tipus dapat ditemui di area padat sehingga kutu dapat melompat dari satu manusia ke manusia lain dan menginfeksi. Wabah pertama kali pecah di abad 18 ketika terjadi perang. Penyakit ini dibawa oleh tentara Spanyol yang baru pulang dari Benua Amerika ke Eropa.

Bila kita melihat seseorang yang sakit tipus lagi beberapa tahun kemudian, itu karena sebenarnya ia masih terinfeksi. Namun tubuhnya tidak menunjukkan gejala. Tapi tak perlu khawatir karena biasanya ketika kambuh penderita tidak mengalami kondisi seberat tubuhnya pertama kali sakit tipus. Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, penyakit ini dapat menyerang seseorang yang jarang mandi atau mengganti pakaian.

Secara geografis, umumnya tipus lebih mudah menyerang di area beriklim dingin misalnya pegunungan. Selama beberapa tahun terakhir wabah tipus menyerang di Burundi, Ethiopia, dan Rwanda. Setelah manusia menemukan antiobiotik, penyakit tipus lebih dapat dikontrol. Namun di zaman dahulu tingkat kematian dapat mencapai 60%.

Wabah Polio

Polio adalah penyakit yang disebabkan oleh virus. Kalau menurut sejarah, maka polio telah ada sejak 1400 Sebelum Masehi. Polio tidak menjadi masalah besar hingga awal abad 19. Anehnya polio menjadi wabah ketika penyakit lain seperti difteri, tifoid, dan tubercolosis menurun jumlah kasusnya. Mirip dengan kusta, polio dapat menginfeksi seseorang dan tidak langsung bergejala. Ketika bayi ia masih mendapatkan nutrisi dari sang ibu dan aman-aman saja sampai akhirnya memasuki periode usia anak.

Polio dapat menjangkit seseorang akibat sanitasi yang buruk misalnya air yang tercemar. Ketika masuk ke dalam saluran pencernaan, virusnya dapat berlipat ganda. Memang 98% kasus polio hanya menimbulkan penyakit ringan. Namun 1-2%-nya menjadi parah, lumpuh, bahkan meninggal. Seseorang dapat meninggal karena tenggorokan dan dadanya lumpuh sehingga ia tak bisa bernapas.

Wabah ini dapat ditekan penyebarannya karena kita telah menemukan vaksinnya. Namun bukan berarti Indonesia telah benar-benar bebas dari polio mengingat masih ada kelompok yang menolak vaksin. Tercatat bahwa pada puncak wabah di tahun 1952, Amerika memiliki 57.628 kasus polio dengan korban jiwa sebanyak 3.145 orang. Sampai saat ini belum ada obat yang dapat menyembuhkan polio.

Baca Juga: 
Wabah Mematikan Di Dunia dari Masa ke Masa Part 1
Wabah Mematikan Di Dunia dari Masa ke Masa Part 3

Click to comment

Leave a Comment

Advertisement
Cultura Podcast
Connect