Connect with us
The Smile: Wall of Eyes
Cr. Frank Lebon

Music

The Smile: Wall of Eyes Album Review

Terus bereksplorasi, Wall of Eyes jadi medium yang lebih luas dengan tema kuat yang menjaga eksperimen tetap terkendali.

★ ★ ★ ★ ★
★ ★ ★ ★ ★

The Smile patut diakui sebagai salah satu band rock terbaik dan paling kreatif saat ini. Opini ini tidak mengejutkan karena Thom Yorke dan Johnny Greenwood sebagai membernya sudah punya pamor tak terbantahkan sebagai Radiohead. Kemudian Tom Skinner yang tak kalah sukses sebagai drummer dari grup jazz, Sons Of Kemet. Sebagai band side-project, termasuk cepat kini kita sudah mendapatkan album kedua dari unit ini, “Wall of Eyes”.

Pada album debut “A Light For Attracting Attention” di tahun 2022, mereka telah menampilkan identitas suara mereka, dengan menggabungkan musik elektronik yang unik dengan ledakan rock sesekali. Kini “Wall of Eyes” menjadi eksperimen baru dengan visi luas namun lebih terkendali. Dengan pemilihan momen-momen untuk meningkatkan intensitas secara hati-hati.

The Gist:

Kini sudah bertahun-tahun dikenal sebagai penulis lagu yang menciptakan identitas sejati Radiohead, Thom Yorke memang kerap meluapkan emosi kelam dalam latar yang diisi dengan ketakutan, kemarahan, rasa putus asa, dan kebosanan. Ini juga akan kembali kita dengarkan dalam “Wall of Eyes”. Meski terdengar gelap, tak bisa dipungkiri bahwa materi-materi seperti ini yang selalu kita rindukan dari Yorke. Baik ketika berkarya di Radiohead, proyek musik lain, dan kini The Smile.

Album ini memperlihatkan perspektif baru pada dunia pasca apocalypse. Hendak menjadi pedoman bagi pendengarnya dalam menemukan diri di tengah kehidupan berkabut. Seperti biasa, Yorke kembali menuangkan prediksi dan ramalannya, meski dengan keterbatasan pengetahuan.

Ada lagu yang mengekspresikan kegundahan dengan sumber ketakutan yang tidak diketahui, menjadi pertanda bahwa sesuatu yang buruk tak lama akan terjadi, seperti pada track ‘Don’t Let Them Take Me’ dan ‘Stop Looking Over Our Shoulder’, serta track bertajuk ‘I Quit’. Kebanyakan topik disajikan secara tidak langsung, namun mood yang terdengar secara keseluruhan konsisten. Ada beberapa karakter menarik untuk dieksplorasi kisahnya dalam track-track seperti ‘You Know Me!’ dan title track, ‘Wall of Eyes’.

Sounds Vibe:

Album ini memiliki pacing yang unik. Meskipun hanya memiliki delapan track, tidak satu pun mengalun kurang dari 5 menit. Medium terasa lebih terbuka dan kaya dalam setiap komposisi, bersatu untuk menjalin perjalanan yang penuh pemikiran dan nge-jamming.

Johnny Greenwood bersama London Contemporary Orchestra mengaplikasikan aransemen instrumen string daripada gitar yang lebih familiar dalam lagu-lagu band rock. Menciptakan keseluruhan album dengan tracklist yang megah, penuh dengan simponi menawan.

“Wall of Eyes” menjadi album dengan pondasi tema dan ide yang kuat, namun tak lantas terbatas dalam visi yang fokus. Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, album ini masih menjadi proyek yang penuh eksperimen, minim pengulangan maupun materi yang terlalu jauh dari alurnya. Kreatif dan luas, namun terkendali. Setiap track memiliki keunikan masing-masing, kompleks, dan memperdengarkan perubahan, namun jelas tetap bersatu dalam pondasi tema yang sama. Terutama dominan terasa dalam arahan mood-nya.

Best Tracks:

‘Friend of a Friend’ diawali dengan dentingan piano dan Thom Yorke yang bersedih. Namun kemudian mengalami akselerasi mood ketika instrumen string bersambut. Yorke kerap berbicara tentang akhir dunia, ia memperhatikan dan mengajak kita untuk waspada akan benturan besar yang terjadi pada bumi. Tidak peduli jika ia memiliki cinta atau benci.

‘Read The Room’ memperdengarkan ritme gitar yang intense di atas komposisi drum yang terdengar lebih lambat. Layaknya para miliyader dunia yang tidak memiliki ketertarikan dalam membantu mengatasi perubahaan iklim. Kurang lebih juga disebabkan oleh gaya hidup dan eksploitasi mereka sendiri. Dengan semangat kritik sosial, dimasukan pula irama post-punk yang stabil. Sembari Yorke menyanyikan lirik yang catchy, ‘Come on out, come on out, we know you’re there’.

Highlight dari “Wall of Eyes” tampaknya jatuh pada track ‘Bending Hectic’ yang mengalun sepanjang 8 menit. Dengan Yorke yang dinarasikan perjalanan di pinggiran desa Italia, bersiap untuk tabrakan, dialuni gitar akustik sedih bersama instrumen string yang dreamy.

‘I Quit’ menjadi lagu dengan sugesti untuk pasrah pada takdir yang terhindarkan. Yorke memainkan gitarnya yang bergetar dan glitchy, ditemani suara synth di belakang layer. Seiring Yorke menuju ‘new path out of the madness to wherever it goes’, instrumen string masuk dengan dramatis sebagai pendamping. Dalam konteks ini, album ini terdengar seperti mengeksplorasi ide-ide baru sembari berusaha menemukan batas mereka dan reputasi yang tidak terhindarkan oleh Radiohead.

Barasuara Merilis Album Ketiga Bertajuk “Jalaran Sadrah”

Music

meghan trainor timeless meghan trainor timeless

Meghan Trainor Rilis Album Keenam “Timeless”

Music

Steve Aoki dan Bassjackers Luncurkan Kolaborasi Double Single

Music

IMP Rilis Album Perdana “Departure”

Music

Connect