Connect with us
The Holdovers
Cr. Focus Features

Film

The Holdovers Review: Tidak Semua Liburan Adalah Liburan Terindah

Surat cinta hangat untuk yang kesepian, tertolak, dan berduka di saat liburan Natal.

★ ★ ★ ★ ★
★ ★ ★ ★ ★

“The Holdovers” adalah film karya sutradara Alexander Payne, dibintangi oleh Paul Giamatti, Dominic Sessa, dan Da’Vine Joy Randolph. Film ini menjadi salah satu dari nominasi Best Picture pada Oscar 2024. Giamatti juga masuk dalam nominasi Best Actor, begitu pula Randolph untuk Best Supporting Actress. Film drama komedi ini juga masuk nominasi Best Film Editing dan Best Original Screenplay.

“The Holdovers” menceritakan Paul Hunham sebagai guru sejarah yang dibenci oleh banyak murid karena terlalu disiplin dan kaku. Pada liburan musim dingin, ia ditugasi menunggu murid-murid yang tidak bisa pulang, ditemani juru masak kantin sekolah yang baru saja kehilangan anaknya. Ini adalah kisah sekelompok orang yang kesepian, tertolak, dan berkabung di liburan paling meriah di penghujung tahun.

The Holdovers

Tiga Karakter Kesepian Kala Liburan Natal

“The Holdovers” pada tiga karakter utama, Paul Hunham, Angus Tully, dan Mary Lamb. Paul Hunham adalah guru sejarah yang tak hanya dibenci oleh murid-murid, namun juga kerap mengalami pertentangan dengan guru-guru lain karena pandangannya yang tradisional dan idealis. Ia menjadi representasi karakter yang kesepian dalam kisah ini. Dimana seiring berjalannya plot, kita akan mengumpulkan berbagai alasan mengapa Paul “nyaman” dalam kesendiriannya.

Sementara Angus adalah salah satu murid yang tidak bisa pulang karena ibunya lebih memilih bulan madu dengan suami barunya. Ia juga kerap menggahadapi konflik dengan teman-temannya yang terlalu pandai. Kemudian adalah Mary Lamb, juru masak yang berkabung karena ini menjadi Natal pertamanya tanpa putra tercinta yang meninggal di medan perang. Ketiga karakter menjadi representasi sempurna untuk mewakili setiap skenario terburuk yang bisa dialami saat liburan.

Awalnya, “The Holdovers” akan mengingatkan kita pada film klasik seperti “Dead Poets Society” (1989) dan “The Breakfast Club” (1985). Namun pada akhirnya film yang ditulis oleh David Hemingson ini memiliki skenario dan tema cerita yang cukup berbeda.

Selain membahas isu anak remaja pemberontak dan sosok guru displin yang salah dimengerti, film ini memiliki latar dan jangkauan yang lebih luas tentang berbagai perasaan malang yang bisa dirasakan siapapun di musim liburan yang lebih identik dengan perayaan dan suka cita.

The Holdovers

Film Modern yang Terlihat Seperti Film Asli dari Era 70an

Sutradara Alexander Payne terinspirasi menjadi filmmaker karena film-film produksi era 70an yang ia tonton. Kecintaannya yang besar pada film dari era tersebut menimbulkan ambisi dan ide unik dalam mengeksekusi “The Holdovers”. Tak hanya sebagai film yang berlatar pada tahun 1970, film ini terlihat seperti film dari era 70an. Mungkin film yang diproduksi dari era tersebut namun baru tayang di layar lebar di masa sekarang.

Mulai dari trailer-nya saja, “The Holdovers” juga mengadaptasi model trailer dari film-film era 70an. Lengkap dengan opening credit, sinopsis yang diselipkan dengan voice over narator, hingga frame yang nge-freeze dengan judul pada akhir trailer. Masuk ke filmnya pun, sejak opening credit ada banyak atribut yang ditampilkan seakan-akan film ini produksi tahun 1970.

Film ini juga mengaplikasikan beberapa trik editing yang sudah jarang kita temukan dalam film-film modern, seperti transisi adegan dengan teknik fade-in dan fade-out. Begitu pula sounds mixing hingga pemilihan ratio dan kamera yang digunakan. Jadi semakin terasa hangat dan otentik dengan tema produksi dengan berbagai teknik dari era 70an.

Akting Memikat Paul Giamatti dan Da’Vine Joy Randolph

Paul Giamatti bisa jadi salah satu kandidat kuat dalam Best Actor Oscar 2024 melalui penampilannya dalam “The Holdovers”. Ini waktunya menyadari juga bahwa memainkan peran orisinal membutuhkan usaha lebih dibandingkan dengan memainkan karakter biopik. Bukan guru dengan reputasi killer yang satu dimensi, Paul Hunham adalah pria old soul, pengapresiasi tradisi dan sejarah.

Tidak sekadar guru displin yang pahit dan tidak peka dengan murid-murid. Dalam beberapa momen, kita juga akan diperlihatkan bagaimana Paul tidak pantas dicap sebagai guru killer. Giamatti mampu hadirkan karakter orisinal dengan presentasi akting yang konsisten. Kompleksitas lapisan karakternya dikupas satu per satu seiring berjalannya cerita. Begitu pula Da’Vine Joy Randolph yang menjadi kandidat terkuat untuk Best Supporting Actress. Sang aktris sudah mengantongi penghargaan BAFTA dan Golden Globe.

“The Holdovers” menjadi film debut bagi Dominic Sessa. Berperan sebagai Angus Tully, sebagai aktor muda ia berhasil mengimbangi penampilan dengan dua aktor seniornya. Terutama dengan Giamatti, chemistry keduanya dapat banget sebagai guru dan murid yang secara tidak terduga menjalin hubungan baik selama liburan tersebut.

Secara keseluruhan, “The Holdovers” adalah film drama bertema Natal yang berbeda dalam skenanya. Tak hanya untuk yang merayakan Natal, skenario ini juga relevan untuk berbagai hari raya besar. Bagi kita yang kehilangan orang tercinta atau tidak bisa pulang kampung, dimana pastinya terasa menyebalkan. Film ini ingin hadir sebagai surat cinta dengan pelukan hangat bagi siapa saja yang kesepian di kala liburan.

The Iron Claw Review The Iron Claw Review

The Iron Claw Review: Biopik Tragedi Pegulat Von Erich Bersaudara

Film

Furiosa A Mad Max Saga Review Furiosa A Mad Max Saga Review

Furiosa: A Mad Max Saga Review – Masa Lalu dan Dendam Furiosa

Film

Monkey Man Review Monkey Man Review

Monkey Man Review: Bukan John Wick Versi India

Film

The First Omen The First Omen

The First Omen Review: Prekuel Horor Religi Lebih Sinematik

Film

Connect