Connect with us
Rurouni Kenshin: The Beginning Review
Netflix

Film

Rurouni Kenshin: Final Chapter Part II – The Beginning Review

Sadis, tragis, dan melankolis.

★ ★ ★ ★ ★
★ ★ ★ ★ ★

Akhirnya, masa lalu Hitokiri Battosai (Batosai Si Pembantai) telah dihidupkan secara dramatis dalam “Rurouni Kenshin: The Beginning” yang telah rilis di Netflix pada 30 Juli 2021.

Sebagai film terakhir dalam franchise, kisah yang diangkat justru merupakan bab pertama Kenshin Himura dengan masa lalunya sebagai Hitokiri Battosai yang sadis. Kenshin merupakan battosai yang tunduk pada pimpinan Kiheitai untuk memperjuangkan Era Baru di bawah kekuasaan Kaisar Meiji. Hingga akhirnya Ia bertemu dengan Tomoe Yukishiro, perempuan yang mengubah tujuan hidup Kenshin selamanya.

Meski film ini merupakan sekuel kelima dari ‘Rurouni Kenshin’, cerita tetap bisa diikuti bagi kita yang kurang familiar dengan anime maupun manganya. Bahkan bagi penonton baru yang tidak mengikuti franchise ini dari awal. Masih dengan formula produksi yang maksimal, mulai dari dari koreografi, kualitas akting, dan sinematografi dramatis, “Rurouni Kenshin: The Beginning” memiliki daya tarik baru dibandingkan dengan empat film sebelumnya.

Rurouni Kenshin: The Beginning

Penokohan Battosai dengan Dilema yang Kompleks Ditulis dengan Sempurna

Masa lalu Kenshin Himura menjadi aspek terpenting dalam plot ‘The Beginning’. Berbeda dengan penokohan Kenshin yang diperankan oleh Takeru Satoh pada film-film sebelumnya, kali ini kita akan melihat sosok Hitokiri Battosai berdarah dingin yang menjalankan tugas dari Katsura Kogoro (Issey Takahashi), pimpinan Kiheitai, demi tercapainya Era Baru yang Ia yakini akan membawa kebahagian bagi banyak orang.

Perlu diketahui bahwa timeline satu ini mundur kurang lebih 10 tahun sebelum “Rurouni Kenshin”, bayangkan bagaimana seseorang bisa berubah setelah satu dekade telah berlalu. Kenshin dalam ‘The Beginning’ merupakan tokoh dengan karakter yang jauh berbeda dari yang sudah kita kenal terlebih dahulu.

Semenjak adegan pertama munculnya Kenshin, kita akan langsung merasakan perbedaannya dibandingkan dengan Kenshin yang sudah “tobat” di masa depan. Mulai dari gesture, sorot matanya, hingga gaya bertarungnya yang berparung sangat besar pada penokohannya.

Kenshin dalam film ini tampil dengan koreografi bertarung dengan gaya yang berbeda. Gerakannya sangat cepat, tak ada keraguan ketika Ia menyerang musuh, ayunan pedangnya terasa mantap dan lebih mematikan. Kita tak akan merasakan kehangatan dari Kenshin yang tenang, kengerian akan langsung terasa karena Ia menyerang seperti iblis tanpa rasa ampun.

Namun, dengan segala kesadisan yang protagonis kita tunjukan, ada kepolosan yang sedikit tampak, bersembunyi dalam batinnya. Meski dibantu dengan pernyataan dari karakter lain, hal ini tidak terasa dipaksakan. Hal ini berkat perkembangan cerita yang mengantarkan pada pernyataan tersebut dan kualitas akting dari Takeru Satoh.

Dipilihnya Kasumi Arimura sebagai Tomoe sebagai karakter baru dalam film ini sudah tepat. Pada titik ini, tim casting sudah tidak diragukan lagi dalam tugasnya memiliki aktris maupun aktor yang tepat.

Rurouni Kenshin The Beginning

Naskah Memikat Meski Akhir Cerita Telah Terungkap

Bagi yang sudah familiar dengan kisah Kenshin, atau setidaknya sudah menonton “Rurouni Kenshin: The Final” pada Juni kemarin, akhir dari ‘The Beginning’ sudah terungkap. Padahal, kisah yang telah ditulis dan pertama kali rilis pada 1994 tersebut mengandung plot twist yang tragis pada bab masa lalu Kenshin. Dimana Kenshin menikahi perempuan yang ternyata calon pengantin dari seorang laki-laki yang Ia bunuh dengan keji.

‘The Beginning’ memiliki naskah yang terasa lebih klasik ala literasi lawas Jepang bertema samurai. Dimana ada sejarah, politik, dan terutama gaya hidup Kenshin Himura sebagai seorang samurai, dengan tugas dan kehidupan percintaan yang tidak terlalu romantis, namun terasa bermakna bersama Tomoe.

Fakta bahwa Tomoe merupakan cinta pertama bagi Kenshin sendiri telah memberikan sentuhan romansa yang cukup hangat. Kemudian dipadukan dengan kekerasan dan perang yang membara. Ada dua emosi kontras yang hendak dipadukan dalam naskah ‘The Beginning’, pada akhirnya memenuhi ekspektasi kita akan drama Jepang berlatar kuno, dengan kisah yang garang sekaligus melankolis.

Meski jalan cerita sudah diketahui, sutradara dan kru produksi berhasil mengeksekusi produksi yang dramatis dan benar-benar hidup. Dialog yang disajikan juga terasa lebih filosofis, kemudian berpadu dengan sinematik yang lebih artistik dan menggugah.

Pada akhirnya, alasan kita menonton film live action dari anime favorit kita adalah melihat versi “nyata” dari sebuah karya 2D. “Rurouni Kenshin” telah berhasil memoles materi anime atau manga satu ini dengan sangat memukau hingga film terakhirnya.

Alasan Rurouni Kenshin Merupakan Anime Live Action Terbaik

Jika kita kilas balik dari “Rurouni Kenshin” yang pertama kali rilis pada 2004, hingga akhirnya menyudahi franchisenya pada 2021, timeline perilisan yang dipilih sudah sangat tepat.

‘The Beginning’ yang dirilis berdekatan dengan ‘The Final’ juga tak sekadar dijadwalkan berdekatan, namun benar-benar sangat pas. Penonton tidak dibuat frustasi menunggu film terakhir yang sebetulnya sudah diketahui alur ceritanya. Tidak terlalu dekat juga untuk memberikan waktu bagi penonton mencerna kisah sekaligus mengapresiasi ‘The Final’.

‘The Beginning’ juga menjadi penutup yang dramatis, dimana kita melihat kekuatan maksimal sekaligus kelemahan terbesar dari karakter Kenshin Himura. Dengan kisah yang sangat tragis untuk mengubah seorang pembantai untuk bersumpah tidak akan membunuh lagi. Sebuah statement yang kuat untuk membuat kita mengingat karakter Kenshin Himura.

“Rurouni Kenshin” merupakan anime live action terbaik yang pernah ada sejauh ini. Adapun beberapa alasan yang membuat proyek live action satu ini menghasilkan film yang patut diapresiasi.

“Samurai X” sendiri telah memiliki materi original yang potensial. Berbeda dengan anime atau manga shounen pada umumnya dengan kisah fantasi atau supranatural, dan karakter dengan fitur fisik yang terlalu eksentrik untuk diwujudkan menjadi nyata.

“Rurouni Kenshin” memiliki kisah dan karakter-karakter yang realistis, namun didukung dengan cerita drama yang sangat mendalam dan bermakna. Membuat film ini tidak berbeda dengan film samurai dengan latar Jepang kuno seperti “Seven Samurai” (1945) atau “The Last Samurai” (2003).

Click to comment

Memoir of A Murderer Review Memoir of A Murderer Review

Memoir of A Murderer Review

Film

Prey netflix review Prey netflix review

Prey Review: Pemburu Misterius yang Mengincar Para Pendaki

Film

Kate Netflix Kate Netflix

Kate Review: Film Action Gaya Hollywood dengan Estetika Jepang

Film

Masa Keemasan Hollywood: ‘Blessing in Disguise’ Pasca Depresi Ekonomi Masa Keemasan Hollywood: ‘Blessing in Disguise’ Pasca Depresi Ekonomi

Masa Keemasan Hollywood: ‘Blessing in Disguise’ Pasca Depresi Ekonomi

Culture

Advertisement
Connect