Connect with us
Peter Pan & Wendy
Disney+

Film

Peter Pan & Wendy Review: Neverland Versi Gelap yang Kehilangan Semaraknya

Disney+ kembali merilis film adaptasi live action dengan kualitas setengah hati.

★ ★ ★ ★ ★
★ ★ ★ ★ ★

Disney kembali merilis film adaptasi live action dari koleksi animasi klasiknya. Kali ini giliran “Peter Pan” (1953) diadaptasi menjadi “Peter Pan & Wendy”, disutradarai oleh David Lowery, dibintangi oleh Jude Law, Alexander Molony, Ever Gabo Anderson, dan Yara Shahidi.

Sebelum animasi klasik ini juga telah diadaptasi versi live action-nya oleh Universal Pictures pada 2003. Dimana menerima ulasan yang cukup positif dengan presentasinya yang magical dan sparkling. Film yang disutradarai P.J. Hogan itu juga dirilis sebagai film bioskop, sebelum era streaming platform seperti sekarang. Membuat produksinya sangat maksimal dan terlihat megah.

Lantas, apa yang bisa kita harapkan dari “Peter pan & Wendy” versi Disney+ ini? Melalui sinopsisnya, plot secara keseluruhan tidak mengindikasikan sesutu yang baru. Hanya petualangan seorang bocah yang tidak ingin tumbuh dewasa, Peter Pan. Ia bertemu dengan gadis muda, Wendy, yang lebih melihat romantisme sebagai orang dewasa. Kemudian hadir pula Captain Hook yang sudah familiar untuk kita semua sebagai musuh utama Peter Pan dan kawan-kawan.

Peter Pan & Wendy

Kualitas Sinematografi dan CGI yang Gelap dan Tidak Spesial

Kalau bukan karena naskah yang dikembangkan, alasan utama kita penonton film adaptasi live action adalah presentasi produksinya. Penonton penasaran dengan bagaimana karakter animasi dipresentasikan oleh aktor, rupa Neverland dalam wujud yang lebih immersive, hingga dramatisir adegan-adegan ajaib seperti terbang dan bertarung dalam produksi live action.

Jika memiliki ekspektasi akan film live action dengan visual yang menakjubkan, jangan berharap banyak dari “Peter Pan & Wendy”.

“Peter Pan & Wendy” mengaplikasikan tema visual yang gelap, semuanya tampak lusuh dan suram. Mulai dari pemilihan colour tone, desain properti dan latar, hingga pencahayaan. Terutama pencahayaan, film ini memiliki tata cahaya yang sangat buruk. Membuat dongeng klasik yang dulunya kita kenal sebagai semesta yang semarak dengan segala kilaunya terlihat redup. Benar-benar bukan film yang mengundang secara visual. Kualitas efek visual dan CGI-nya juga berkualitas rendah. Ada beberapa aplikasi efek dalam adegan yang terlihat murahan.

Peter Pan & Wendy

Naskah Adaptasi yang Tidak Menyuguhkan Cerita Baru

Setidaknya dengan judul “Peter & Wendy” kita memiliki ekspektasi akan naskah yang lebih berorientasi pada karakter. Mungkin presentasi penokohan mereka yang lebih mendalam, atau mengeksplorasi latar belakang karakter. Namun plot film ini sama sekali tidak menyuguhkan materi baru.

Plot secara garis besar tetap sama saja; Peter Pan tidak ingin dewasa, Wendy menerima nasibnya sebagai anak yang harus tumbuh dewasa, dan Captain Hook membenci Peter Pan kemudian mengacau petualangan Peter Pan dengan teman-teman barunya.

Padahal “Peter Pan” sebagai karya dongeng klasik memiliki nilai filosofi yang masih bisa dieksplorasi jika hendak di-remake atau diadaptasi ulang. Sayangnya film adaptasi live-action kelas B ini jelas tidak memberikan usaha lebih dalam naskah adaptasinya. “Peter & Wendy” hanya adaptasi “Peter Pan” yang sudah kita ketahui ceritanya dalam level permukaan. Bedanya film adaptasi hanya lebih gelap secara visual dan memiliki cast yang lebih beragam, namun tidak lebih dari itu.

Disney Semakin Berorientasi pada Konten Daripada Karya

Sudah bukan hal baru lagi bahwa Disney terus melakukan adaptasi live action selama lebih dari satu dekade kebelakangan. Beberapa berhasil dieksekusi dengan baik, namun tak sedikit pula yang hasilnya biasa saja. Ketika Disney+ mulai menjadi alternatif baru merilis film adaptasi live action mereka, di sini semuanya mulai mengalami penurunan kualitas.

Pada 2022 lalu, Disney juga merilis film adaptasi live action, “Pinocchio”. Yang membuat kita sedih melihat aktor-aktor besar seperti Tom Hanks, Luke Evans dan Joseph Gordon-Levitt harus terlibat dengan film yang dikerjakan dengan setengah hati produksinya. “Peter Pan” bahkan lebih turun lagi kualitasnya dibandingkan dengan film tersebut, dan kini kita harus melihat Jude Law yang terasosiasi dengan film berkualitas menyedihkan ini.

Pertanyaan yang sama muncul setelah melihat film adaptasi live action seperti “Pinocchio” dan “Peter Pan & Wendy”; Apa sebetulnya visi dari Disney ketika membuat film-film ini? Tidak ada perubahan naskah yang signifikan dan lebih eksploratif, kemudian dikemas oleh kualitas produksi live action yang berkualitas rendah. Kehadiran film-film hanya membuat Disney+ terlihat seperti Netflix, mulai berorientasi pada kuantitas konten agar terlihat menggiurkan bagi subscriber streaming platform mereka.

Hanya melalui dua film live action yang mengecewakan ini saja, sudah mencederai ekspektasi penonton ketika kedepannya bakal ada film adaptasi live action di Disney+.

Sebelum mulai merilis film live action baru, Disney+ harus kembali mengevaluasi visi mereka dalam menghadirkan katalog platform streaming mereka yang tidak hanya berorientasi pada konten saja. Menyedihkan melihat studio sebesar Disney dengan kredibelitas kualitas karyanya di masa lalu, kini mengikuti arus utama untuk lebih berorientasi pada materi daur ulang dan penurunan kualitas karyanya.

The Iron Claw Review The Iron Claw Review

The Iron Claw Review: Biopik Tragedi Pegulat Von Erich Bersaudara

Film

Furiosa A Mad Max Saga Review Furiosa A Mad Max Saga Review

Furiosa: A Mad Max Saga Review – Masa Lalu dan Dendam Furiosa

Film

Monkey Man Review Monkey Man Review

Monkey Man Review: Bukan John Wick Versi India

Film

The First Omen The First Omen

The First Omen Review: Prekuel Horor Religi Lebih Sinematik

Film

Connect