Connect with us
Pinocchio
Disney+

Film

Pinocchio (Live Action) Review: Versi Remake yang Kehilangan Keajaiban Disney

Tribute untuk animasi klasik Disney dengan presentasi tanggung.

★ ★ ★ ★ ★
★ ★ ★ ★ ★

“Pinocchio” merupakan salah satu masterpiece dari Walt Disney yang rilis pada 1940. Siapa yang tak kenal dengan karakter boneka kayu buatan Geppetto ini? Pinocchio terkenal sebagai dongeng tentang bocah kayu yang hidungnya memanjang jika berbohong, film animasi klasik ini menyimpan lebih banyak lagi pesan moral yang baik untuk audience anak-anak.

Disney baru saja merilis “Pinocchio” versi remake live action yang dibintangi oleh Tom Hanks. Berbeda dengan film Disney klasik remake lainnya yang mendapat perilisan di bioskop, “Pinocchio” langsung rilis pada streaming platform Disney+.

Plot versi remake ini secara keseluruhan masih sama, namun dengan sedikit perubahan agar terkesan baru. Secara visual memadukan antara karakter dengan aktor dan karakter 3D, seperti Pinocchio yang masih memiliki desain lama yang dipoles dengan teknologi 3D. Merupakan masterpiece dengan berbagai elemen ikonik yang menjadi identitas Walt Disney Studios, apakah animasi ini mendapatkan treatment terbaik sebagai projek remake live action?

Petualangan Pinocchio yang Tak Lagi Ajaib

“Pinocchio” (2022) masih dibuka dengan premis yang sama dengan versi klasiknya. Dimana Geppetto menciptakan boneka kayu yang kemudian Ia beri nama Pinocchio, lalu memohon agar bonekanya tersebut menjadi bocah sungguhan.

Lengkap dengan kehadiran Peri Biru yang dibintangi oleh Cynthia Erivo, membawakan “When You Wish Upon a Star”. Tak ketinggalan Jimmy Cricket yang diisi suaranya oleh Joseph Gordon-Levitt. Selain menjadi ‘hati nurani’ Pinocchio, Jimmy Cricket juga memiliki peran baru sebagai narator dengan konsep breaking the fourth wall. Kemudian kita akan melihat Pinocchio mulai keluar rumah, dijual sebagai boneka pertunjukan, terjebak di Pleasure Island, hingga reuni kembali dengan ayahnya di perut monster laut.

Sayangnya, sekuen petualangan Pinocchio kali ini tidak lagi terasa ajaib. Plot terasa prematur dan dipercepat hannya untuk sampai pada setiap bagian ikonik, namun tidak ada jiwanya. Kita tak akan merasakan suka cita, keseruan, hingga ketegangan yang signifikan. Mengingat “Pinocchio” juga termasuk dalam salah satu animasi Disney dengan tema cerita yang suram.

Interaksi antara Pinocchio dan Geppetto juga tidak terlalu mengharukan seperti versi originalnya. Hati kita tak dibuat berdebar ketika mendengar “When You Wish Upon a Star”. Ada beberapa perubahan yang mungkin akan membuat penonton kecewa karena jadinya antiklimaks.

Tribute Disney Klasik dan Materi Musikal yang Tanggung Banget

Pada beberapa adegan, kita bisa melihat bahwa ada banyak easter egg dengan referensi Disney klasik lainnya. Awalnya kita mungkin akan terkesan karena terlihat usaha untuk menyisipkan referensi yang tampak seperti tribute untuk Disney klasik. Namun, porsinya ternyata sedikit dan akhirnya tidak begitu berkesan karena kelanjutan cerita yang tidak menarik lagi.

Eksekusi CGI-nya juga cuma terlihat bagus di awal film. Semakin lama kita menonton, kita akan semakin melihat beberapa kekurangan dalam kebosanan. Mungkin masih bagus jika dibandingkan dengan film animasi CGI dari studio lain atau karya Disney sebelumnya, namun melihat perkembangan live action Disney belakangan ini, “Pinocchio” jadi terlebih seperti projek yang di-anak-tirikan. Spekulasi ini saja sudah membuat kita sedih karena “Pinocchio” seharusnya di eksekusi dengan lebih layak.

Materi musikal dari “Pinocchio” remake ini juga sangat tanggung dan mengecewakan. Padahal Cynthia Erivo sudah membawakan “When You Wish Upon a Star” dengan kualitas vokal yang menawan. Namun durasinya dipotong dan tidak memiliki treatment yang monumental sebagai lagu paling ikonik untuk Disney secara keseluruhan. Apalagi lagu-lagu yang lain, setelah menonton mungkin sudah terlupakan. Setiap adegan menari dan menyanyi presentasinya kurang memikat bagi secara visual, koreografi, dan aransemen musik.

Remake Klasik Disney Ikonik yang Tidak Serius

Lebih banyak kekecewaan ketimbang suguhan terbaru yang berkesan dari “Pinocchio” terbaru ini. Fakta bahwa film ini hanya dirilis Disney+ saja sudah menimbulkan asumsi yang meragukan. “Pinocchio” tak sekedar ikonik, namun juga menjadi karya animasi berkualitas. Padahal banyak Disney klasik yang di-remake dengan perencanaan, produksi, dan promosinya yang maksimal. “Pinocchio” jadi terlihat seperti konten daur ulang yang tidak dianggap serius dan diagungkan lagi oleh studionya sendiri. Dimana studio animasi ini telah berubah menjadi salah satu perusahaan hiburan besar yang kapitalis.

Padahal “Pinocchio” rilisan 1940 masih memiliki rating 100% di Rotten Tomatoes hingga saat ini. Sementara versi remake live action ini hanya mendapat rating 30%. Kalau outcome-nya mengecewakan seperti ini, visi dari “Pinocchio” remake live action jadi sangat dipertanyakan.

Big Night! Big Night!

Big Night! Review: Tragicomedy yang Merekam Realitas Sosial Kaum Miskin Filipina

Film

Apakah James Bond Harus Selalu Kulit Putih?

Culture

avatar remastered 2022 avatar remastered 2022

Avatar Review: Masih Relevan untuk Penonton Masa Kini

Film

The Outsider Review The Outsider Review

10 Film Hollywood dengan Estetika Jepang

Cultura Lists

Connect