Connect with us
Pengaruh Budaya Jepang dalam Industri Perfilman Hollywood
The Last Samurai

Entertainment

Pengaruh Budaya Jepang dalam Industri Perfilman Hollywood

Mulai dari Star Wars, hingga film action dengan adaptasi estetika Jepang.

Hollywood hingga saat ini menjadi pusat industri perfilman yang mendunia. Film produksi Hollywood memiliki sistem distribusi yang mendominasi bioskop-bioskop di penjuru dunia.

Namun, ada kebudayaan dari negara lain yang tak kalah mendunianya di budaya pop global, yaitu kebudayaan Jepang. Tak hanya terkenal melalui budaya idol, anime, hingga manga, keseluruhan ide dari estetika Jepang ternyata menarik, bahkan menginspirasi banyak filmmaker di Hollywood. Seberapa jauh pengaruh kebudayaan Jepang dalam industri perfilman Hollywood?

Sederet Franchise Besar Hollywood yang “Meminjam” Cerita Film Jepang

“Star Wars” merupakan salah satu cult classic Hollywood terpopuler hingga saat ini. Tak hanya memiliki film bertema fiksi ilmiah yang seru, semesta “Star Wars” telah membentuk fandom yang besar dengan penggemar setia di seluruh penjuru dunia.

For your information, “Star Wars” memiliki kemiripan dengan film klasik Jepang berjudul “The Hidden Fortress” (1958) karya sutradara Akira Kurosawa. Meski film tersebut memiliki tema cerita yang tradisional yaitu pertarungan antara klan samurai, George Lucas “meminjam” objektif dan latar belakang protagonis dari film tersebut, yang kemudian disulap menjadi perang bintang luar angkasa futuristik.

Darth Vader sendiri memiliki desain kostum yang cukup serupa dengan baju perang dari Shogun. Begitu pula jubah berlayer Jedi Knights yang cukup serupa dengan jubah biksu Buddha.

Kemudian ada Godzilla, monster ikonik dari Jepang yang telah melahirkan banyak film adaptasi Hollywood. Mulai dari “Godzilla” (1998) yang disutradarai oleh Roland Emmerich, dan rilisan 2014 yang disutradarai oleh Gareth Edwards. Kemudian ada “Godzilla: King of Monsters” (2019) dan yang terbaru “Godzilla vs. Kong” (2021).

“The Magnificent Seven” (1960) karya sutradara John Sturges juga mengadaptasi ide cerita dari “Seven Samurai” (1954). Jika film Kurosawa menceritakan kisah klasik samurai, adaptasi Hollywood dari film ini disesuaikan dengan budaya Amerika dengan kisah tentang cowboy.

Memanfaatkan nama industri Hollywood yang mendunia, membuat film remake atau adaptasi versi barat ini lebih terkenal. Hal ini juga dipengaruhi oleh akses pada film Jepang yang lebih terbatas. Terutama untuk film-film klasiknya di atas tahun 2000-an.

Film Horror Jepang versi Remake Hollywood

Film horor Jepang sudah terkenal secara global sebagai komoditas film horor yang tak pernah gagal membuat penonton ketakutan. Hal tersebut dipengaruhi oleh kebudayaan Jepang yang memiliki banyak cerita legenda supranatural sebagai referensi naskah horor yang otentik dan magis.

Ada nuansa supranatural yang terasa lebih sakral dan nyata dari tanah Asia jika dibandingkan dengan kisah hantu dari dunia barat. Sudah banyak film horor Jepang populer yang mendapat versi remake Hollywood.

Salah satu judul yang paling populer adalah “Ringu” (1998) karya sutradara Hideo Nakata. Kisah horor tentang videotape terkutuk ini telah diadaptasi menjadi salah satu franchise horor Hollywood. Mulai dari “The Ring” (2002) pertama, hingga yang terbaru “Rings” (2017) dimana cerita sudah berkembang menjadi tipikal horor barat tentang mahasiswa yang berusaha membuktikan keberadaan dunia roh melalui videotape terkutuk.

Masih banyak lagi film horor Hollywood yang sebetulnya diadaptasi dari film Jepang. Mulai dari “One Missed Call” (2008), “The Grudge” (2004), “Dark Water” (2005), dan “Pulse” (2006).

Film Produksi Hollywood yang Memadukan Budaya Barat dengan Jepang

Tak melulu meminjam ide cerita atau membuat versi remake, banyak filmmaker Hollywood yang terinspirasi oleh budaya Jepang untuk membuat film dengan naskah original. Manifestasi dari pengaruh budaya Jepang pada sutradara barat ini merupakan sikap yang lebih kreatif. Tindakan ini lebih menunjukan rasa kagum dan terinspirasi yang tulus dari seorang seniman film. Ada banyak film Hollywood yang menghadirkan perpaduan antara budaya Jepang dengan barat.

Melalui film “The Last Samurai” (2003) karya Edward Zwick, kita diajak lebih mengenal kebudayaan samurai yang khas dari Jepang. Melalui protagonis yang diperankan oleh Tom Cruise, kita berada di posisi yang sama, sebagai ‘orang asing’ yang baru mengalami gaya hidup samurai.

Konsep serupa juga bisa kita temukan pada film “The Outsider” (2018) oleh Martin Pieter Zandvliet. Peran Jared Leto sebagai Gaijin dalam film tersebut memiliki posisi yang serupa dengan Tom Cruise, hanya saja dengan latar kehidupan berbeda yaitu Yakuza.

Estetika Jepang yang lebih modern juga sangat digemari oleh beberapa sutradara Hollywood. Tak hanya sumber inspirasi yang tradisional, banyak film action modern barat yang menghiasi dirinya dengan estetika Jepang. Menghasilkan dunia action fiction dengan karakter yang lebih eksentrik dan beragam.

Tak ketinggalan penampakan kota Jepang yang gemerlap untuk mendukung sinematografi film. Mulai dari “Kill Bill: Vol. 1” (2003), “The Fast and Furious: Tokyo Drift” (2006), hingga film action thriller terbaru di Netflix, “Kate”.

Kate Netflix

Kate (Netflix)

Pada akhirnya, kebudayaan Jepang selalu menarik untuk dieksplorasi dan telah menjadi bagian besar dalam budaya pop dunia. Peleburan dua budaya ini mampu menghasilkan subgenre baru yang semakin menambah keragaman estetika film.

A World Without Review A World Without Review

A World Without Review: Dystopia Futuristik Bertema Pemberdayaan Wanita

Film

Malignant Review Malignant Review

Malignant Review: Bukti Lelahnya Sang Sineas

Film

Rekomendasi Film Bertema Vampir Rekomendasi Film Bertema Vampir

10 Rekomendasi Film Bertema Vampir

Cultura Lists

Violet Evergarden: Eternity and the Auto Memory Doll Review

Film

Advertisement
https://www.cultura.id?_dnembed=true
Connect