Connect with us
The Outsider Review
Netflix

Film

The Outsider: Mengalami Kehidupan Yakuza melalui Perspektif Seorang Gaijin

Salah satu drama kriminal paling underrated di Netflix yang sayang untuk dilewatkan.

★ ★ ★ ★ ★
★ ★ ★ ★ ★

Setelah Perang Dunia II, Nick (Jared Leto) adalah seorang tahanan perang di Jepang yang mendapatkan kesempatan untuk bebas setelah bertemu dengan seorang anggota yakuza, Kiyoshi (Tadanobu Asano).

Layaknya seorang prajurit perang yang memulai pelatihan untuk berperang, Nick secara perlahan merelakan dirinya untuk masuk dalam klan yakuza untuk terlibat dalam perang yang baru.

Dengan banyaknya judul film dalam katalog Netflix yang hanya menumpuk dalam watchlist, “The Outsider” merupakan salah satu film yang sangat sayang jika kita lewatkan. Namun, hal tersebut sangat mungkin terjadi karena kritikus media Hollywood memberikan rating rendah pada film yang disutradarai oleh Martin Pieter Zandvliet. Jadi, apa alasan “The Outsider” merupakan film underrated yang patut mendapat apresiasi lebih?

The Outsider Netflix

Drama Kriminal dengan Latar Kehidupan Yakuza yang “Terhormat” dan Artistik

Berlatar di Osaka pada 1945, menjadi pilihan latar waktu yang tepat untuk memberikan naskah yang berbobot dan bermartabat. “The Outsider” hendak menunjukan citra konservatif dan “murni” dari sindikat kriminal Jepang yang ikonik ini. Tidak sekadar sadis dan brutal sesuai dengan cerita-cerita tentang Yakuza yang kita dengar, film ini hendak menganggap serius sindikat Yakuza sebagai materi utama dalam naskah.

Buat yang menyukai film mafia slow-pace seperti The Godfather (1972) dan The Irishman (2019), “The Outsider” juga menyajikan ritme plot yang kurang lebih sama.

Ada film aksi yang terinspirasi oleh gangster Amerika, ada yang terinspirasi oleh mafia Italia, “The Outsider” tak jauh berbeda dengan film-film tersebut, hanya saja menyajikan materi tentang Yakuza dari Jepang. Dimana setiap klan tidak sekedar adu kekerasan tanpa dasar, ada aturan main yang harus dipatuhi, serta adegan kekerasan yang hanya ditampilkan jika dibutuhkan.

Dengan total durasi 2 jam, “The Outsider” dengan sabar mengajak penontonnya untuk mengalami kehidupan dalam lingkaran Yakuza. Mulai dari usaha mendapatkan kepercayaan, menjalankan tugas, dan berbagai agenda yang pada akhirnya menimbulkan rasa memiliki dan integritas untuk sebuah kelompok. Alur cerita yang lambat juga memberikan waktu untuk Nick, sebagai protagonis membangun ikatan emosional pada setiap karakter lainnya.

Tak hanya menyuguhkan naskah yang berkualitas, produksi “The Outsider” sebagai sebuah film juga digarap dengan serius. Mulai dari pencahayaan dan palet warna untuk setiap frame yang konsisten. Menampilkan estetika panorama Jepang yang tradisional sekaligus modern dengan semburat lampu warna warni neon. Hingga pergerakan kamera pada beberapa frame yang sangat sinematik.

The Outsider

Penampilan Maksimal dari Jared Leto sebagai Gaijin yang Misterius

‘Gaijin’ merupakan sebutan orang Jepang untuk orang asing, lebih spesifiknya, untuk orang non-Asia. Nick merupakan jenis protagonis yang sekilas tampak tidak memiliki penokohan atau latar belakang yang kuat. Namun, seiring berjalannya cerita, kita akan mulai memahami betapa mendalam dan emosionalnya karakter ini.

Sebagai karakter dengan label Gaijin, secara tidak langsung Nick menjadi perantara sempurna bagi penonton dengan kisah Yakuza yang terkandung dalam film ini. Kita juga tidak ada bedanya dengan Nick; orang asing yang mendapatkan pengalaman baru untuk masuk dalam dunia Yakuza sesungguhnya. Konsep ini cukup serupa dengan film “The Last Samurai” (2003), dimana melalui karakter yang diperankan oleh Tom Cruise, penonton mendapatkan pengalaman untuk mengenal kehidupan samurai.

Jared Leto dikenal sebagai method actor yang mampu mengeksekusi peran apapun. Sebagai Nick, Jared Leto tampil dingin, minim berbicara, namun tetap menunjukan ekspresi mikro yang membentuk karakternya. Ia juga mampu membawakan beberapa dialog dalam bahasa Jepang yang berkesan.

Awalnya kita akan menganggapnya sebagai anjing liar yang diadopsi oleh Yakuza, hingga pada akhirnya berubah menjadi karakter berprinsip. Bahkan sejak awal Ia sebetulnya sudah memiliki prinsip, namun naskah memperdaya penonton untuk pengalaman memahami karakter yang lebih seru.

Mengapa “The Outsider” Mendapat Rating Rendah?

Rilis pada 2018, yakuza pastinya sudah tidak asing lagi di mata dunia barat. Namun, ada kemungkinan stereotip maupun ekspektasi tentang Yakuza tidak sesuai dengan citra sejatinya di mata Hollywood. Yakuza di dunia modern sekarang ini juga mulai kehilangan “martabat” sebagai kriminal yang berkelas.

Mungkin sebagian besar orang, dalam kasus ini penonton barat hanya tahu sedikit hal yang diidentifikasi sebagai yakuza. Di antaranya citra sekelompok pria berjas dengan tato menyelimuti punggung di baliknya, tradisi memotong jari pada anggotanya, dan pastinya berbagai tindakan kekerasan dalam perang antar klan.

Jika penonton memiliki ekspektasi akan film penuh adegan aksi, baku tembak, sayatan pedang, dan eksploitasi sadisme lainnya dari Yakuza, maka “The Outsider” mungkin bisa menjadi film yang membosankan.

Rating yang rendah pada “The Outsider” mungkin muncul pada kritikus yang memiliki referensi minim tentang dunia Yakuza. Sudah bukan rahasia lagi Hollywood kurang terbuka dengan film berbahasa asing.

Sekitar enam puluh persen lebih dialog dalam film ini dibawakan dalam bahasa Jepang. Hal tersebut mungkin tidak disangka muncul pada sebuah film karya sutradara dan aktor utama Hollywood, kemudian dirilis sebagai Netflix Original Movie.

A World Without Review A World Without Review

A World Without Review: Dystopia Futuristik Bertema Pemberdayaan Wanita

Film

Malignant Review Malignant Review

Malignant Review: Bukti Lelahnya Sang Sineas

Film

Rekomendasi Film Bertema Vampir Rekomendasi Film Bertema Vampir

10 Rekomendasi Film Bertema Vampir

Cultura Lists

Violet Evergarden: Eternity and the Auto Memory Doll Review

Film

Advertisement
https://www.cultura.id?_dnembed=true
Connect