Connect with us
Passing Review
Netflix

Film

Passing Review: Isu Ras dengan Latar Belakang

Sisi lain dari isu ras di Amerika Serikat yang menarik untuk dieksplorasi.

★ ★ ★ ★ ★
★ ★ ★ ★ ★

Pada tahun 1920-an, Irene Redfield (Tessa Thompson) bertemu dengan sahabat lamanya, Claire (Ruth Negga) di hotel saat musim panas. Pertemuan antara keduanya akan membawa kita pada sisi lain isu ras yang “menarik”, dengan materi yang berbeda dari film serupa produksi Hollywood.

Diangkat dari novel karya Nella Larsen dengan judul serupa, Rebecca Hall menyulap kisah Irene dan Claire menjadi film bernuansa arthouse hitam-putih yang jazzy dan dramatis.

Jika film tentang isu rasisme yang biasa kita tonton lebih menonjolkan kisah ‘orang hitam vs orang putih’, hingga eksploitasi materi kekerasan dan ketidakadilan yang menguras hati, “Passing” menghadirkan materi drama yang lebih slow pace dan tidak memperlihatkan kebrutalan.

Passing Netflix

Penampilan Tessa Thompson dan Ruth Negga yang Berhasil Mendominasi Layar

Kebanyakan dari kita selama ini melihat Tessa Thompson sebagai karakter dalam film laga yang tomboy. Mulai dari “Men in Black: International” hingga berperan sebagai Valkyrie dalam Marvel Universe. Dalam “Passing” Ia menyuguhkan penampilan akting yang baru sebagai seorang istri dan ibu dari dua anak, yang anggun dan berkelas.

Mulai dari ekspresi wajah, gesture, hingga aksen berbicaranya sebagai wanita kalangan atas di Harlem, New York. Film ini bisa menjadi batu loncatan bagi Tessa Thompson untuk terlibat dalam lebih banyak proyek film yang artistik dan sinematik.

Sementara Ruth Negga semakin menambah catatan penampilan terbaiknya setelah “Loving” pada 2016 silam. Dimana film tersebut merupakan film romansa dengan isu rasisme. Jika Ruth sempat berperan sebagai wanita kulit hitam dari kalangan bawah, kali ini Ia menunjukan pesona baru dalam wujud wanita yang berhasil menaiki tangga sosial, Claire, ‘tuan putri’ di setiap pesta yang Ia datangi bersama Irene.

Menggunakan rasio layar 4:3 dan warna hitam putih, menciptakan situasi visual yang fokus untuk menangkap interaksi antara dua tokoh utama dalam film ini; Irene dan Claire. Rumus serupa bisa kita temukan dalam film “The Lighthouse” (2019). Meski secara teknis Irene memiliki screen time yang lebih banyak dari Claire, dari awal hingga akhir, keduanya tetap berhasil menjadi fokus cerita yang selalu ingin kita simak.

Passing Review

Aplikasi Isu Rasisme dalam Materi Drama Kehidupan “Biasa” yang Tepat

Sebagai film bernuansa arthouse, sebagai penonton kita harus mau lebih jeli memperhatikan setiap elemen dalam film “Passing”. Mulai dari visual, ekspresi yang tidak dijelaskan dengan kata-kata, dan pastinya menyimak dialog dengan seksama. Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, “Passing” merupakan film isu rasisme dengan materi yang baru.

Daripada melihat isu ras dalam gambaran besar, film ini mengajak kita mengalami sisi lain yang lebih personal dan tidak terduga, bagi kita orang Indonesia yang bisa jadi masih belum mengetahui apa saja kisah dalam topik ini. Yang dimaksud ‘passing’ pada judul adalah ‘lolos’, lebih spesifik lagi tentang bagaimana ada orang kulit hitam yang bisa “lolos” di masyarakat sebagai orang kulit putih.

Dalam kisah ini, Claire menjadi wanita berdarah campuran yang mampu membaur dalam masyarakat sebagai “wanita kulit putih”, menikahi pria kulit putih, dan mendapatkan hidup yang lebih sejahtera. Meski Ia harus membohongi dirinya sendiri.

Tanpa mencoba terlalu keras, materi tersebut bisa membawa kita ke berbagai subjek lain yang menarik untuk dieksplorasi. Mulai dari kecemburuan Irene pada Claire, pesona Claire sebagai wanita campuran, dan sebaliknya, bagaimana Claire menginginkan apa yang dimiliki oleh Irene. Pada akhirnya menciptakan sebuah film drama 1920-an melankolis dan tragis tanpa harus menunjukan kebrutalan.

Nuansa Harlem Renaissance 1920-an yang Kurang, Banyak Asumsi yang Tidak Terjawab

“Passing” sudah lolos dalam mempresentasikan visual New York pada 1920-an. Mulai dari makeup, wardrobe, desain interior maupun eksterior pada setiap frame filmnya. Kita sudah terlalu banyak melihat gambaran kalangan kulit hitam di Amerika sebagai masyarakat kelas bawah, “Passing” membawa kita masuk dalam lingkarang sosial yang lebih berkelas, bahwa orang kulit hitam juga punya tempat dimana mereka bisa menaiki tangga sosial, yaitu di Harlem.

Perlu diketahui bahwa Harlem semacam area yang “menjamin” keamanan orang kulit hitam di Amerika karena gaya hidupnya yang lebih open-minded dan penuh keberagaman. Tak hanya bagi orang kulit hitam, di Harlem orang kulit putih juga bisa membaur dalam pesta dansa atau club jazz.

Sayangnya, deskripsi tersebut kurang dimaksimalkan dalam menciptakan ambience film “Passing”. Terutama dalam lagu tema maupun musik latar film. Bagi kita yang tidak familiar dengan sejarah Harlem, tidak akan menangkap definisi tersebut dalam film ini. Harlem tak lebih dari alamat Irene bagi kita. Lagu latar yang digunakan juga terlalu repetitif dan datar. Padahal berbicara tentang Harlem 1920-an, harusnya ada lebih banyak musik jazz yang berkesan dihadirkan dalam film ini.

Ada juga berbagai asumsi yang tidak berhasil disampaikan dalam screenplay-nya secara maksimal untuk menjawab pertanyaan penonton. Film ini memang menuntut kita untuk lebih lagi memperhatikan perasaan setiap karakter melalui akting mereka. Namun, ada drama kompleks yang tetap harus dinarasikan, baik secara visual maupun penjelas dialog, yang sayangnya tidak diberikan dalam film “Passing”.

Pada akhirnya, “Passing” bisa dikategorikan sebagai salah satu film artistik di Netflix saat ini. Namun, jelas bukan untuk kita yang tidak suka film seperti “Roma” (2018) atau “Malcolm & Marie” (2021), karena film ini bisa jadi membosankan bagi beberapa segmentasi penonton di Netflix.

Jika kita sedang punya waktu untuk menambah referensi film arthouse dengan dialog yang menjadi daya tarik utamanya, maka “Passing” bisa menjadi tontonan yang menarik.

Interview With the Vampire Interview With the Vampire

Interview With the Vampire Review: Kisah Vampir Berjiwa Manusia

Film

Film Tentang Pencurian Data PribadiFilm Tentang Pencurian Data Pribadi Film Tentang Pencurian Data PribadiFilm Tentang Pencurian Data Pribadi

Film Tentang Pencurian Data Pribadi

Cultura Lists

Angele Review: Saat Pop Star Belgia Kembali Menemukan Jati Dirinya

Film

The Power of the Dog The Power of the Dog

The Power of the Dog Review: Toxic Masculinity dan Balas Dendam Tersembunyi

Film

Advertisement
Connect