Connect with us
the lighthouse review

Film

The Lighthouse Review: Film Horror Tentang Penjaga Mercusuar di Masa Lampau

Robert Eggers kembali dengan materi dongeng rakyat yang berkualitas.

★ ★ ★ ★ ★
★ ★ ★ ★ ★

The Lighthouse merupakan film horror terbaru dari sutradara Robert Eggers yang rilis pada 18 Oktober 2019 lalu. Dibintangi oleh Robert Pattinson dan Willem Dafoe sebagai dua penjaga mercusuar yang sedang bertugas di sebuah pulau kecil pada abad ke-19. Film ini terinspirasi dari literasi terakhir dari Edgar Allan Poe yang bahkan belum sempat terselesaikan berjudul “The Light-House”, tentang seorang penjaga mercusuar dengan anjingnya, Neptune.

Film ini merupakan film kedua dari Robert Eggers setelah The Witch (2015). Sebagai sutradara yang masih terbilang baru, Robert telah berhasil mempertahankan trademark-nya dengan mengangkat cerita rakyat. Ia memanfaatkan teknologi perfilman modern dalam mendaur ulang cerita rakyat yang terkesan kuno dengan naskah yang lebih dramatis dan visual artistik sekaligus mengerikan.

Memiliki Vibe yang Serupa Dengan The Shining

The Lighthouse memiliki formula horror yang cukup sama dengan salah satu film horror legendaris, The Shining (1980). Membawa penonton melihat karakter utama menjadi gila secara bertahap karena terisolasi dari manusia dan ditempa dengan kondisi alam yang ekstrim. Jika Jack Torrance terisolasi dalam sebuah hotel dengan badai salju, Ephraim Winslow dan Thomas Wake terisolasi di sebuah pulau menjelang badai yang menciptakan ombak besar.

Film horror seperti ini juga minim dengan adegan jumpscare yang membuat penonton kaget. Kita akan disuguhi materi horror yang membuat kita terperangah dan ketakutan dalam kesunyian yang membuat otot tegang. Membuat kita bertanya-tanya; apa segala fenomena supranatural yang kita lihat dalam film tersebut merupakan efek dari akal yang sudah tak sehat lagi atau memang benar-benar mimpi buruk yang menjadi nyata.

Materi horror dalam film The Lighthouse diambil dari berbagai cerita rakyat yang bisa kita dengar dari para pelaut maupun penjaga mercusuar dari abad ke-19 bahkan hingga saat ini. Mulai dari takhayul tentang putri duyung, dewa Neptune penguasa lautan, hingga pantangan membunuh binatang tertentu (pamali) agar tidak membawa sial.

Film ini tidak menceritakan latar belakang makhluk-makhluk cerita rakyat seperti film The Witch. Melainkan pengalaman buruk seorang penjaga mercusuar dengan berbagai cerita rakyat horror sebagai ‘pemanis’ untuk menghidupkan suasana tidak nyaman dan mengerikan dalam The Lighthouse.

Adapun beberapa materi humor natural yang akan membuat kita tertawa, meski porsinya tidak terlalu banyak. This movie has fart-joke.

The Lighthouse Review

Sinematografi dan Efek Suara yang Membangun Ketegangan

Salah satu keunggulan dari film ini adalah konsep sinematografinya yang menggunakan 1.19 : 1 aspect ratio dan filter hitam-putih. Konsep ini dipilih untuk menghidupkan latar belakang kisah yang digambarkan pada tahun 1890-an. Visual film ini terlihat sangat raw dan mirip dengan film-film yang diproduksi di masa lalu. Meski ada beberapa pergerakan kamera dengan teknik panning yang lembut dan terlihat modern.

Sinematografi The Lighthouse oleh Jarin Blaschke, juga diapresiasi dengan masuknya film ini dalam nominasi Academy Awards 2020 dalam kategori Best Cinematography.

Teknik editing yang diterapkan dalam film ini menjadi salah satu unsur esensial yang didesain untuk menakuti penonton, karena seperti yang telah disebutkan, The Lighthouse bukan film yang mengandung jumpscare. Meski terbatas dengan aspect ratio dan filter yang terkesan membosankan, ada banyak gambar serta footage acak yang diambil oleh Robert Eggers, yang kemudian disatukan dalam proses editing yang terkonsep sempurna.

Eksekusi sinematografi dan editing yang matang kemudian didukung oleh sound design yang menghidupkan film ini dalam segi audio. Scoring yang dimasukan pada beberapa bagian krusial untuk memberikan elemen kengerian yang tidak cukup hanya dengan visual saja. Namun tanpa scoring sekalipun, keheningan dengan suara ombak dan mercusuar yang mendengung akan menghantui kita setelah menonton film ini.

Ada juga beberapa suara otentik yang diciptakan oleh sound designer dalam film ini. Mulai dari suara burung camar, teriakan tidak manusiawi yang membuat penonton merinding, dan suara original lainnya. Damian Volpe sebagai sound designer dalam film ini patut diberi apresiasi tersendiri.

Kualitas Akting Robert Pattinson dan Willem Dafoe yang Juara

Hanya ada dua karakter utama yang berinteraksi secara intensif dalam The Lighthouse. Robert Eggers membutuhkan dua aktor ikonik dengan akting berkualitas tinggi untuk peran tersebut. Bekerjasama dengan Robert Pattinson dan Willem Dafoe merupakan keputusan yang tepat. Kedua aktor muda dan senior ini menunjukan kerja keras dan totalitas dalam berakting.

Robert dan Willem berhasil tampil menjadi sebuah karakter baru yang ingin dihidupkan oleh sang sutradara. Tak hanya melalui penampilan fisik, namun gestur, sikap, hingga aksen British lawas yang kasar ala pelaut. Kita akan dibuat lupa bahwa Robert Pattinson adalah pria rupawan yang dulunya pernah berperan sebagai vampir mempesona yang mapan.

Chemistry akting antara keduanya juga terbangun sempurna sebagai penjaga mercusuar senior yang bossy serta keras kepala, bersama dengan penjaga baru yang terlihat penurut dan tenang, namun menyimpan rahasia kelam.

Penampilan mereka didukung dengan dialog yang otentik dengan grammar dan idiom Inggris lawas. Deretan dialog yang tidak akan terdengar familiar bagi kita yang berasal dari era modern.

Secara keseluruhan, The Lighthouse mungkin terlihat sebagai film horror yang minimalis; terdiri dari dua aktor dengan visual hitam-putih yang kuno. Namun, setiap aspek yang kita tonton dalam film ini dikerjakan secara maksimal dan totalitas. Mulai dari sinematografi, editing, scoring, penulisan naskah, hingga akting yang merupakan hasil kerja keras dari setiap aktor maupun crew dalam film ini.

Click to comment
Advertisement
Cultura Podcast
Connect