Connect with us
Mahaputra Vito
Credit: Mahaputra Vito

Culture

Mahaputra Vito: Visual Artist yang Tak Pernah Membatasi Medium Eksplorasi

Visual artist asal Yogyakarta yang telah mengeksplorasi cukup banyak medium seni rupa.

Medium eksplorasi seni visual modern ini semakin variatif penerapannya. Mulai dari mural yang memberikan percikan warna di sudut-sudut kota yang muram, hingga aplikasi karya visual seorang seniman yang diaplikasikan pada produk fashion.

Mahaputra Vito merupakan visual artist asal Yogyakarta yang telah mengeksplorasi cukup banyak medium seni rupa. Sudah berdomisili di Jakarta, Vito sempat mengemban ilmu di salah institut kesenian di Yogyakarta.

Namun, Vito mengakui bahwa dirinya semakin mendalami dunia seni rupa melalui berbagai pengalaman di luar pendidikan kuliah. Dimulai dari mengadakan berbagai pameran bersama teman-teman satu angkatan, hingga bolak-balik Jogja-Jakarta untuk berbagai kolaborasi.

Mahaputra Vito

Courtesy: Mahaputra Vito

Mahaputra Vito memiliki jiwa yang bebas dan senang mengobservasi lingkungan sekitar untuk menstimulasi kreativitasnya. Hal tersebut menjadi latar belakang mengapa Vito selalu bersemangat mengeksplorasi medium baru dalam berkarya.

“Saat pertama mengerjakan sebuah karya pada medium baru selalu menjadi momen berkesan buat saya”, ungkap Vito. Satu hal yang tak pernah berubah dari Vito adalah Ia sangat suka menggambar, setiap kesempatan menggambar di medium baru merupakan pengalaman yang tidak pernah Ia batasi.

Tak Menentukan Gaya Personal yang Pakem, Mahaputra Vito Selalu Ingin Berkembang

Setiap karya visual Mahaputra Vito memiliki ciri khas gaya lukisan yang kartunis dengan warna-warna vibrant. Kartun dan komik menjadi sumber inspirasi pertama dari masa kecil yang memengaruhi gaya personal Vito. Ketika ditanyakan bagaimana Ia mendefinisikan gaya personalnya, Vito merasa bahwa dirinya bukan pada posisi untuk memberikan komentar atau ‘label’ tertentu.

Hanya ada satu trademark yang selalu Ia aplikasikan dalam setiap karyanya, yaitu ciri khas gambar mata yang tak pernah berubah dari setiap karakter dalam gambarnya. Warna-warna terang dan mencolok Ia pilih untuk memberikan ‘keceriaan’ di tengah maraknya seni maupun kehidupan yang cenderung muram dengan warna-warna monochrome. Selain sentuhan-sentuhan tersebut, Vito tak ingin membatasi gayanya dalam menggambar.

Selain berkarya secara lepas, kini Mahaputra Vito juga bekerja di salah satu biro desain di Jakarta. Sebagai seniman di Ibukota, Vito merasa masih harus memiliki keseimbangan antara day job dan commission art yang Ia terima secara lepas sebagai wadah Ia berkreasi. “Pekerjaan yang saya miliki (di biro desain) semacam ‘pengaman’ bagi saya untuk tetap bisa berkarya sebagai visual artist dengan bebas”, jelas Vito.

Sebagai visual artist yang kerap menerima berbagai project, Vito ternyata juga tidak terlalu membatasi idealismenya. Permintaan dan input dari client merupakan kesempatan untuk mengembangkan kemampuan sebagai visual artist bagi Vito. Membatasi diri hanya pada “style” tertentu dianggap sebagai alasan seorang seniman yang tidak mau berkembang bagi Mahaputra Vito.

“Idealisme yang sombong bukan gaya saya, karena bisa jadi sulit berkembang nantinya”

Berbagai Karya Lintas Medium Eksplorasi dari Mahaputra Vito

Familiar Landscape by. Dennis Bato & Mahaputra Vito

Dennis Bato merupakan teman sesama seniman Vito dari Filipina. Pada 2019 lalu, mereka melakukan kolaborasi pameran bertajuk “Familiar Landscape” di Vinyl on Vinyl Gallery, Manila.

Dennis Bato memiliki ciri khas seni yang noir, dengan medium yang lebih variatif. Dalam project kolaborasi ini, Bato dan Vito menggunakan medium kain yang kemudian dibentuk menjadi karya seni instalasi padat menggunakan resin.

Vito menceritakan betapa seru sekaligus hectic-nya persiapan dari pameran tersebut. Karena persiapan dilakukan selama setahun secara jarak jauh. Namun pada akhirnya pameran bisa terselenggara dengan baik dan berkesan baginya.

 

View this post on Instagram

 

A post shared by Mahaputra Vito (@mahaputravito)

Astha District 8 x Mahaputra Vito

Tak hanya menampilkan karyanya dalam pameran atau galeri khusus seni, Vito juga memiliki pengalaman memamerkan karyanya di ruang publik, yaitu di Astha Mall pada 2020 kemarin.

Bersama dengan beberapa seniman lainnya, Ia menggambar pada medium sticker dalam ukuran besar sebagai dekorasi mural dalam gedung mall. Ilustrasinya yang berjudul ‘Urip Iku Urup’ diambil dari filosofi Jawa yang mengajak manusia untuk melihat sisi positif dari segala hal dan membuang pikiran buruk.

 

View this post on Instagram

 

A post shared by Mahaputra Vito (@mahaputravito)

Last (pop) Supper by. Mahaputra Vito

Baru-baru ini, Vito mengerjakan sebuah lukisan medium kanvas untuk koleksi pribadi klien-nya. “Last (pop) Supper” merupakan lukisan parodi dari karya populer pelukis legendaris, Leonardo da Vinci. Mengikuti permintaan klien, Vito memasukan berbagai karakter dan ikon pop culture kesukaan klien-nya dalam lukisan tersebut.

Meski mengambil referensi dari lukisan yang sudah berkali-kali di-remake dengan berbagai aspek personal permintaan client, gaya pribadi Vito tetap terlihat dalam lukisan ini, terutama karena pemilihan warna dan bentuk mata setiap karakter yang sudah menjadi ciri khasnya.

“Saya sudah sangat senang ketika orang tahu bahwa itu gambar saya, apapun mediumnya”

‘SORRY HERMES I RIDE A BIT FASTER THAN YOU’ (with MCC)

Pada 2017 silam, Vito berkolaborasi dengan temannya sendiri yang memiliki brand topi, Mujiono Cycling Cap (MCC). Dimana Ia melukis sebuah ilustrasi yang diberi nama ‘SORRY HERMES I RIDE A BIT FASTER THAN YOU’.

Terinspirasi dari sosok Hermes dari mitologi Yunani, dimana Hermes memiliki kekuatan mobilitas yang cepat. Dari satu ilustrasi tersebut, dihasilkan 24 cycling cap limited edition yang berbeda-berbeda. Project kolaborasi satu ini diakui sebagai kolaborasi favorit Vito bersama MCC karena proses brainstorming yang penuh kompromi, konsep yang unik, dan Vito merasa bebas mengekspresikan dirinya.

‘Landscape’ Cycling Jersey

“Ketika bersepeda, semuanya terasa berjalan lebih lambat”, ungkap Vito tentang alasannya menyukai kegiatan bersepeda. Dengan bersepeda, Ia bisa mengobservasi sekelilingnya yang secara tidak sadar bisa menstimulasi kreativitasnya. Mengawali hobi bersepeda dengan sepeda lipat, baru-baru ini Vito akhirnya beralih ke road bike agar lebih terasa workout-nya.

Sebagai seorang seniman, Ia lebih memprioritaskan penampilan visual ketika sedang bersepeda. Salah satunya dengan memiliki jersey sepeda yang keren. Ia pun menghubungi sebuah layanan kostum jersey, Velojava, untuk mewujudkan jersey sepeda dengan desain yang Ia buat sendiri dan diberi nama ‘Landscape’.

 

View this post on Instagram

 

A post shared by Mahaputra Vito (@mahaputravito)

Masih banyak medium eksplorasi yang belum dicoba oleh Mahaputra Vito. T-shirt, jersey sepeda, hingga topi sudah pernah Ia coba. Menggambar pada sneakers menjadi medium yang ingin Ia coba selanjutnya.

Vito juga tertarik pada medium sepeda yang merupakan salah satu aspek penting dalam hidupnya sekarang. Perjalanan Vito dalam mengeksplorasi berbagai medium tampaknya masih panjang dan tak akan pernah berhenti. Mencoba berbagai medium baru untuk berkarya merupakan sekuen merangkai berbagai pengalaman berkesan dalam Mahaputra Vito sebagai seorang visual artist.

Ada beberapa peristiwa yang menempatkan karya-karya street art sebagai sesuatu yang patut dianggap serius. Ada beberapa peristiwa yang menempatkan karya-karya street art sebagai sesuatu yang patut dianggap serius.

Sejarah Street Art Melalui Beberapa Momen Penting

Culture

Masa Keemasan Hollywood: ‘Blessing in Disguise’ Pasca Depresi Ekonomi Masa Keemasan Hollywood: ‘Blessing in Disguise’ Pasca Depresi Ekonomi

Masa Keemasan Hollywood: ‘Blessing in Disguise’ Pasca Depresi Ekonomi

Culture

apa saja kelebihan film sebagai sumber inspirasi? apa saja kelebihan film sebagai sumber inspirasi?

Mengambil Inspirasi dengan Banyak Menonton Film

Entertainment

Rumus Kolaborasi Sukses Menurut Widi Puradiredja

Music

Advertisement
Connect