Connect with us
French Exit Review
Cr. Sony Pictures Classics

Film

French Exit Review: Drama Black Comedy Amerika yang Eropa Banget

Penampilan memukau Michelle Pfeiffer sebagai janda kaya yang depresi. 

★ ★ ★ ★ ★
★ ★ ★ ★ ★

“French Exit” (2020) merupakan film Hollywood yang diadaptasi dari karya novelis asal Kanada, Patrick deWitt. Bercerita tentang seorang janda sosialita kelas atas di New York, Frances (Michelle Pfeiffer). Ia melanjutkan kehidupan setelah suaminya meninggal bersama anaknya, Malcolm (Lucas Hedges).

Rencananya, Ia ingin meninggal sebelum uang warisan suaminya habis. Namun, Ia tak kunjung meninggal sementara keuangan semakin menipis. Frances pun mengajak Malcolm dan kucingnya untuk pindah ke Paris, meninggali apartemen teman baiknya yang terbengkalai.

Film drama black comedy ini memiliki konten yang cukup sensitif yaitu depresi dan kecenderungan bunuh diri. ‘French exit’ merupakan istilah yang diambil dari kebudayaan bersikap di Prancis. Ketika seseorang meninggalkan makan malam atau pesta tanpa pamit, itulah yang disebut dengan ‘french exit’. Termasuk sikap yang tidak diindahkan dan terkesan tidak sopan. Lalu, apa hubungannya makna dari istilah tersebut yang menjadi judul dari seorang janda depresi yang pindah ke Paris?

Michelle Pfeiffer

 

Film Tentang Depresi dengan Konsep yang Sureal dan Quirky

“French Exit” merupakan film diarahkan oleh sutradara Amerika, Azazel Jacobs, diadaptasi dari novel Kanada, namun vibe-nya Eropa banget. Bukan hanya karena latar filmnya di Paris, Prancis, namun gaya penulisan naskah, penokohan, dan komedinya terasa seperti film-film Eropa ketimbang Hollywood.

Drama kehidupan yang Amerika banget biasanya tidak memiliki penokohan seperti ini. Mulai dari protagonisnya, Frances adalah sosok wanita yang awalnya terlihat depresi dan menyebalkan. Kemudian Malcolm, anak Frances yang tidak jelas prinsipnya apa sebagai pria. Adapula perempuan gipsy, private investigator, dan beberapa karakter pendukung lainnya yang unik.

Film ini akan menuntut kesabaran penontonnya sebelum melemparkan judgement pada setiap karakter. Terutama Frances Price sebagai protagonis yang menjadi fokus cerita “French Exit”. Kemudian memahami hubungannya dengan Malcolm, yang juga terlihat menyebalkan pada babak pertama. Bukan karena tindakannya, justru karena Ia tidak jelas maunya apa.

Film ini cocok buat penggemar film drama kehidupan dengan nuansa suram, namun juga ada sentuhan komedi tabu. “French Exit” juga mengandung beberapa adegan yang surreal. Namun justru mempermudah kita untuk memahami suatu konflik. Film ini juga bukan film yang memiliki plot jelas, namun lebih berkesan karena esensi yang terkandung dalam ceritanya.

French Exit

Penampilan Michelle Pfeiffer yang Memukau sebagai Bintang Utama

Michelle Pfeiffer merupakan pilihan aktris yang sempurna untuk memerankan Frances. Sosialita yang terlihat elegan bermartabat, padahal hidup dalam depresi di setiap hembusan nafasnya. Model penokohan depresifnya cukup serupa dengan Tony yang diperankan oleh Ricky Gervais dalam “After Life”. Depresif dan memiliki keinginan bunuh diri, namun tidak tampil sebagai karakter yang melankolis dan murung. Justru terlihat ‘masa bodoh’ dan blak-blakan dalam mengutarakan pendapatnya yang sinis.

Meski dalam keterpurukan, Frances tetap menawan sebagai sosialita yang sejahtera secara finansial. Padahal Ia semakin bangkrut dari hari lepas hari. Hal tersebut karena pembawaan dan motivasi Frances yang membuatnya bersikap demikian. Frances Price menjadi karakter yang memiliki banyak lapisan untuk kita ungkap. Penampilan Pfeiffer yang sempurna akan membuat kita terpikat dan bertahan sampai kita memahami apa yang menjadi tujuan akhir dari protagonis dalam kisah ini.

Makna dari Film French Exit

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, “French Exit” bukan film dengan plot generik. Dengan kronologi peristiwa atau adegan yang monumental untuk menandai sesuatu. Sebagai film yang diangkat dari novel, kisah Frances lebih berat dalam segi esensi pesan yang ingin disampaikan. Bukan kisah yang inspiratif, justru sangat sensitif dan seakan mendukung tujuan negatif yang dimiliki Frances. Namun dalam skenario ini, kita memahami faktor hingga pada akhirnya pencerahan seperti apa yang dialami oleh Frances.

Film ini juga memiliki jenis adegan akhir yang membuat penonton kesal karena tidak diungkap secara gamblang. Namun buat kita yang sudah bisa menonton film serupa, pasti bisa memahami mengapa adegan penutupnya dieksekusi sedemikian rupa. Sekali lagi, film ini bukan tentang awal dan akhir, namun apa pemahaman seperti apa yang kita dapatkan sepanjang menyimak kisah Frances. “French Exit” bisa di-streaming di Netflix.

Triangle of Sadness Triangle of Sadness

Triangle of Sadness Review: Satir Tentang Kesetaraan Duniawi

Film

first blood 1982 first blood 1982

First Blood Review: Awal Perjuangan Rambo Menghadapi Trauma Perang 

Film

Slumberland Review Slumberland Review

Slumberland Review: Petualangan Nemo & Flip Lari dari Kenyataan

Film

The Holiday The Holiday

The Holiday Review: Tontonan Musim Liburan yang Ringan & Romantis

Film

Connect