Connect with us
Fleabag
Amazon Studios

TV

Fleabag Review: Drama Sempurna Tentang Kehidupan yang Tidak Sempurna

Masterpiece Phoebe Waller-Bridge sebagai penulis dan aktris dalam drama komedi kehidupan yang kaya emosi.

★ ★ ★ ★ ★
★ ★ ★ ★ ★

“Fleabag” merupakan drama komedi Inggris yang ditulis dan dibintangi oleh Phoebe Waller-Bridge. Serial yang sudah tamat dalam dua season ini diangkat dari naskah one-woman show-nya pada 2013 lalu yang pertama kali ditampilkan di Edinburgh Fringe Festival. Bercerita tentang seorang wanita yang disebut sebagai Fleabag (meski tidak disebut secara langsung dalam naskahnya).

Ia tinggal di London dan menjalankan bisnis cafe bersama sahabatnya yang akhirnya meninggal karena kecelakaan. Dalam setiap episodenya, Fleabag akan mengajak kita, para penonton, mengikuti rutinitas sehari-harinya. Mulai dari bertemu dengan kakaknya yang sukses, Claire (Sian Clifford), berusaha mempertahankan bisnisnya, berkencan dengan banyak pria yang ia temui, mengunjungi ayah dan istri barunya, hingga kisah cinta terlarang yang ia alami.

“Fleabag” merilis season pertamanya pada 2016, kemudian season kedua pada 2019 menjadi season finale yang membuat serial ini makin trending dengan kehadiran Andrew Scott sebagai pendeta yang banyak dijuluki sebagai ‘Hot Priest’.

Serial ini juga memenangkan banyak penghargaan, mulai dari Emmy Awards hingga Golden Globe untuk season keduanya. Lebih dari sekadar kisah cinta terlarang antara wanita dengan trauma dan pendeta yang masih bimbang dengan kepercayaannya, “Fleabag” sarat akan pelajaran kehidupan, terutama dalam menerima ketidaksempurnaan dan trauma setelah berkabung.

Fleabag

Komedi Tragedi Tentang Krisis Kehidupan, Kesepian dan Trauma

Mungkin butuh waktu untuk beberapa dari kita mengenal dan mau memahami kisah Fleabag; wanita berusia 30 tahun yang melampiaskan rasa hampa dan depresinya dengan tidur bersama semua pria yang ia temui. Tipikal protagonis dengan kehidupan yang berantakan dan sedang mengalami krisis kehidupan yang sulit untuk disukai. “

Fleabag” Season 1 menjadi lebih meng-highlight titik terendah dalam kehidupan protagonis setelah mengalami tragedi. Kemudian mengajak kita untuk terbiasa dengan konsep dari serial ini secara keseluruhan. Mulai dari pengenalan protagonis, konsep ‘breaking the fourth wall’, hingga situasi protagonis dan karakter-karakter pendukung dalam skenario dengan Fleabag sebagai karakter utama.

Sebagai drama komedi tragedi, serial ini diisi dengan sekuen keputusan yang impulsif, kesialan dan materi dark comedy. Setiap karakter dalam serial ini memiliki celah dalam kepribadian mereka. Bahkan menjadi poin yang lebih ditonjolkan dalam setiap episode. Seiring berjalannya episode per episode, kita akan menemukan bahwa Fleabag adalah wanita yang terjebak dalam kesepian dan trauma setelah sahabatnya meninggal.

Ending season pertama juga memiliki plot twist yang cukup menghantam, terutama dengan narasi yang memposisikan kita sebagai ‘teman’ Fleabag. Ketika kita berpikir bahwa protagonis telah membagikan semua perasaan dan kisahnya, ia ternyata masih menyimpan rahasia paling besar dari kita.

Fleabag

Angkat Kisah Cinta Terlarang, Fleabag Season 2 Menjadi Season Terbaik

‘This is a love story’, sambut Fleabag pada penonton pada awal season kedua. Masih mempertahankan serialnya sebagai sajian komedi tragedi, kali ini “Fleabag” akan bermain hati dengan penontonnya. Andrew Scott lebih dari sekadar sosok pendeta tampan yang viral dan dipuja oleh banyak penonton, karakter dan interaksinya dengan protagonis memang telah memberikan elemen baru yang membuat serial ini lebih menarik.

Skenario bahwa protagonis bahwa tertarik dengan pendeta saja sudah menjadi komedi yang surreal. Kita tahu bahwa Fleabag mudah jatuh hati dan nafsu dengan setiap pria yang ia temui. Namun, pendeta? Fleabag memang tidak pernah kehabisan akal membuat kita kehabisan kata.

Sayangnya, justru kisah cinta terlarang Fleabag dengan pendeta menjadi interaksi terbaik yang terjadi dalam serial ini. Ceritanya juga masih mempertahan poin akan ‘kekurangan manusia’, dalam skenario ini, bahkan seorang pendeta juga memiliki kekurangan yang manusiawi. Andrew Scott menjadi karakter pendeta dengan penokohan yang menarik juga. Jelas ia bukan pendeta dengan kharisma pada umumnya, namun justru hal tersebut yang membuatnya tampak lebih tulus dan manusiawi.

Fleabag cukup annoying pada season pertama, namun season kedua ini kita akan mulai menyukainya. Mulai bisa kompromi dengan segala kekurangannya. Karena kehadiran pendeta sebagai temannya telah menonjolkan sisi baik dalam diri Fleabag. Keduanya menjadi karakter dengan chemistry yang memikat karena niat tulus yang terpancar. Karena selama ini kita hanya melihat Fleabag melakukan interaksi dengan karakter lain karena terpaksa atau niat yang tidak tulus. Sayangnya, “Fleabag” adalah drama komedi tragedi, jadi siapkan mental saja untuk menyaksikan akhir dari season kedua yang telah mematahkan banyak hati penontonnya.

Penjelasan Fleabag: Aplikasi Narasi Breaking the Fourth Wall Terbaik

(Spoiler Alert!) Sudah banyak tontonan yang mengaplikasikan narasi ‘breaking the fourth wall’. Contohnya saja “She-Hulk: Attorney at Law”, “The Office”, “Enola Holmes”, “Deadpool”, dan lainnya. Tipe narasi yang interaktif dengan penonton, namun kebanyakan penerapan narasi ini terasa semu pada tontonan-tontonan tersebut. “Fleabag” merupakan serial dengan narasi ‘breaking the fourth wall’ terbaik yang pernah ada sejauh ini.

Kehebatan aplikasi ini memang tidak akan langsung penonton sadari, banyak dari kita mungkin berpikir narasi seperti ini diterapkan tanpa alasan mendalam. Hingga akhirnya kita tiba pada “Fleabag” Season 2 Episode 3 yang mengubah segalanya. Di tengah-tengah perbincangan protagonis dan pendeta, sang pendeta mampu melihat Fleabag ketika sedang ‘berbicara dengan penonton’.

Tak hanya pada episode 3 saja, fourth wall antara penonton dengan Fleabag akhirnya semakin melebur ketika pendeta semakin sering mengintervensi. Hingga akhirnya menjelang episode-episode terakhir, protagonis mulai jarang melakukan interaksi dengan penonton, kemudian menyuruh kita berhenti mengikutinya pada akhir season finale.

‘Breaking the fourth wall’ dalam “Fleabag” bukan narasi yang semu dan sekedar gimmick, namun memiliki esensi. Hal ini melambangkan bahwa selama ini protagonis tidak benar-benar hadir dalam setiap interaksi sosial. Ia tenggelam dalam pikiran dan lamunannya sendiri. Sebetulnya bukan hal yang sulit untuk dipahami karena kita semua pasti sering melamun pada saat-saat tertentu. Dan selama ini tidak ada karakter lain yang juga menyadari atau memilih untuk tidak peduli ketika protagonis sedang ‘menghilang’, hingga akhirnya hadir pendeta yang cukup peduli untuk menyinggungnya secara langsung.

Ini juga menjadi bukti ketulusan dari kepedulian dan rasa cinta pendeta pada Fleabag yang menyakinkan. Hingga akhirnya protagonis berhenti berbicara dengan penonton ketika sedang bersama pendeta, karena ia tak lagi ingin ‘menghilang’, ia ingin benar-benar hadir karena interaksinya dengan sang pendeta sangat berarti.

Kemudian kembali pada ending season pertama, dimana Fleabag sama sekali tidak memberi tahu kita bahwa ia menjadi alasan dari kematian sahabatnya jadi semakin menghantam dengan pengertian ini. Bahwa bahkan dalam pikiran dan lamunannya sendiri, ia berusaha mengelak kebenaran. Bahwa Fleabag merasakan lebih dari sekadar rasa berkabung, ada pula rasa bersalah yang menghantuinya.

“Fleabag” merupakan komedi tragedi sempurna dengan segala ketidaksempurnaan karakternya. Bahwa membuat kesalahan besar sekali pun adalah hal yang manusiawi. Merasa hampa, depresi, ragu, dan tersesat adalah hal yang dirasakan semua orang dan semua itu tidak apa-apa. “Fleabag” merupakan serial drama kehidupan yang memiliki pesan mendalam dengan eksekusi komedi yang cerdas dan penulisan yang kreatif.

Hazbin Hotel Hazbin Hotel

Hazbin Hotel Review: Balada Hotel di Neraka

TV

Monkey Man Monkey Man

Film & Serial Terbaru April 2024

Cultura Lists

House of Ninjas House of Ninjas

House of Ninjas Review: Laga Ninja Berlatar Thriller Spionase Modern

TV

Echo Echo

Echo Review: Alaqua Cox Semakin Memikat dan Ikonik sebagai Maya Lopez

TV

Connect