Connect with us
.feast peradaban
Photo Courtesy .Feast

Music

.Feast: Peradaban Single Review

Membuat geram sampai kebas, benarkah ‘Peradaban’ lebih keras dari semua jenis musik metal lain?

★ ★ ★ ★ ★
★ ★ ★ ★ ★

Dirilis 13 Juli 2018, nyaris 2 tahun silam, single ‘Peradaban’ dari .Feast menjadi viral dalam beberapa pekan belakangan. Penyebabnya rupanya sederhana: video wawancara .Feast serta jawaban sang vokalis, Baskara Putra, dikatakan menyinggung genre musik lain.

Dalam wawancara di bulan November 2018 tersebut, Baskara rupanya menyebut ‘Peradaban’ lebih keras daripada semua jenis metal yang pernah mereka dengar.

Lalu, benarkah ‘Peradaban’ lebih keras dari semua jenis metal?

.Feast, band rock dengan 5 personil ini mulai menarik perhatian dengan rilisan single pertama mereka, ‘Camkan’ yang diluncurkan melalui SoundCloud. Album pertama, “Multiverse” semakin membawa nama band tersebut terdengar secara luas. ‘Peradaban’ merupakan single pertama yang dirilis untuk album kedua, “Beberapa Orang Memaafkan”.

Berbeda dengan “Multiverse”, “Beberapa Orang Memaafkan” mengangkat tema dengan isu-isu sosial politik. Lebih tepatnya merujuk kepada peristiwa tragis pengeboman gereja di Surabaya. Sedangkan genre rock masih dipertahankan untuk mini album kedua ini. Meski terdapat sentuhan dari beberapa elemen serta instrumen lain dalam beberapa track.

‘Peradaban’ meluncur sebagai single pertama bersama dengan ‘Berita Kehilangan’ dan langsung mencuri perhatian pendengar musik. Terutama para pendengar musik indie. Nama .Feast berkibar luas setelah dirilisnya kedua single serta mini album ini.

Musik rock yang menjadi acuan di single ‘Peradaban’ berbaur manis dengan sentuhan musik oriental. Sekali lagi ini untuk menyentuh isu sosial politik di Indonesia yang kerap kali bersinggungan dengan ras. Repetisi dari instrumen di latar belakang sepertinya menjadi sebuah ciri khas tersendiri dari .Feast, bila menilik dari track-track lain di mini album “Beberapa Orang Memaafkan”.

Pengulangan dari irama serta instrumen di latar belakang mulai menghilang saat lagu memasuki outro. Bagian ini menjadi sangat menarik karena .Feast menyertakan 4 lapisan berbeda sekaligus: instrumen dasar yang sedikit memudar dengan adanya irama dan tambahan instrumen pendukung, vokal utama dari Baskara Putra yang khas, serta backing vokal.

Tak bersahutan, 4 layer tersebut justru dibaurkan menjadi satu pada outro. Sebuah klimaks yang memuaskan. Lengkingan bass dari Fadli Fikriawan memberikan sentakan, yang mengingatkan bahwa ‘Peradaban’ merupakan lagu rock.

Repetisi dari awal hingga 3/4 paruh akhir ini memberikan sebuah rasa berbeda untuk ‘Peradaban’. Di satu sisi, repetisi yang diberikan membuat pendengar dengan cepat merasa akrab dan familiar dengan irama lagu. Di sisi lain, repetisi ini membuat ‘Peradaban’ terlalu membosankan didengarkan berkali-kali. Meski kompleksitas pada outro membawa ‘Peradaban’ sedikit terlepas dari jebakan repetisi membosankan ini.

Kembali kepada jawaban dari Baskara Putra mengenai ‘Peradaban’ lebih keras daripada semua jenis metal yang pernah mereka dengar. Jawaban tersebut memang bukan merujuk kepada instrumen yang diusung dalam lagu, genre, atau irama yang digunakan. Sebaliknya, ungkapan tersebut menggambarkan kedalaman lirik dari single ini sendiri.

Sang vokalis mengakui bahwa proses pembuatan ‘Peradaban’ diwarnai dengan amarah. Rasa geram sampai kebas, seperti yang secara langsung diungkap oleh sang vokalis.

“Lagu ‘Peradaban’ itu jauh lebih keras dari semua lagu metal mana pun yang kami pernah dengar. Karena pada saat kami menulis lagu itu, geramnya sampai kebas. Kami sudah nggak bisa merasakan apa-apa lagi, dan itu yang keluar”.

Rasa amarah, geram sampai kebas ini memang nampak dari penggambaran lirik yang disampaikan. “Bawa pesan ini ke persekutuanmu / Tempat ibadah terbakar lagi / Bawa pesan ini lari ke keluargamu / Nama kita diinjak lagi / Bagai keset selamat datang,” jelas menggambarkan rasa geram sampai kebas seperti yang disampaikan.

Meski sayangnya amarah tersebut tak nampak dari vokalisasi Baskara. Sang vokalis mempertahankan gaya bernyanyi yang berkesan datar dan kurang menekankan emosi ‘geram sampai kebas’. Bukan satu hal yang buruk. Mengingat ini merupakan gaya bernyanyi Baskara dan memberikan signature berbeda untuk .Feast dibandingkan dengan band rock lain.

Tema yang diangkat ‘Peradaban’ memang pantas membuat geram sampai kebas. Peristiwa tragis yang menjadi latar belakang lirik memunculkan amarah yang menjadikan lagu ini “keras.” ‘Peradaban’ juga sukses membawa musik rock kepada pendengar dengan skala lebih luas di Indonesia. Selain menjadi pembuka bagi sederet lagu hits selanjutnya dari .Feast.

Click to comment
Advertisement
Cultura Podcast
Connect