Connect with us
Fajar Biru
Photo via Press

Music

Fajar Biru: Kidung Harapan Single Review

Proyek musik terbaru Fajar Merah sebagai Fajar Biru.

★ ★ ★ ★ ★
★ ★ ★ ★ ★

Kidung Harapan merupakan single terbaru dari Fajar Biru yang rilis pada 25 Februari 2020 lalu. Fajar Merah merupakan personil dari grup musik Merah Bercerita yang sempat merilis single bertajuk “Nyanyian Sukma Lara”. Di mana menjadi pertanda bagi dirinya sebagai manusia merdeka yang telah melampaui keterbatasan biologis dan lingkungan fisiknya, lalu bergerak menjadi sesuatu yang otentik.

Proyek musik dengan nama Fajar Biru dihadirkan oleh Fajar untuk mempertebal entitasnya sebagai manusia merdeka. Sebagai Fajar Merah, ia telah menyadari bagaimana tubuhnya dialiri darah yang sama dengan penyair yang hilang ditelan sejarah.

Sementara fajar Biru memiliki konsep tentang individu yang tidak terikat dengan apa ada di luar tubuh secara laku dan pemikiran. “Aku melepas diri dari masa lalu, di mana yang di situ tidak ada Aku. Di sini aku akan berlaku sebagai aku, bukan lagi orang lain”, ungkap Fajar tentang konsep Fajar Biru.

Fajar Biru

Fajar Biru

“Kidung Harapan” sendiri ditulis dengan lirik ala tulisan sastra yang telah menjadi cir khas dari Fajar. Lagu ini ditulis dengan syair yang mengandung pesan pengingat bagi kita semua untuk selalu menanam doa-doa dalam menjalani usaha atau kehidupan, berharap untuk hari esok yang lebih baik.

Syair yang dinyanyikan dengan suara khas Fajar diiringi dengan instrumen gitar akustik saja. Kesederhanaan aransemen musik pada “Kidung Harapan” menimbulkan nuansa yang teduh dengan makna lagu yang semakin menonjol.

Tidak terdengar seperti lagu yang fresh, “Kidung Harapan” terdengar seperti lagu Classic Rock dengan instrumen akustik dari zaman yang berbeda. Kualitas vokal Fajar Biru juga terdengar sangat otentik dan membawa kita kembali pada masa lampau. Poin ini bisa menjadi kelebihan maupun kelemahan dari single perdana Fajar Biru.

“Kidung Harapan” bisa menjadi karya yang mengobati para penikmat musik yang lebih mengutamakan esensi dengan lirik yang puitis. Namun, lagu ini tidak cukup “catchy” untuk menjangkau mayoritas generasi muda masa kini. Single ini memiliki konsep yang sangat personal dan idealis, tidak semua orang bisa merasa relevan dengan penulisan liriknya yang konvensional.

Click to comment
Advertisement
Cultura Podcast
Connect