Connect with us
Devil in Ohio
Cr. Ricardo Hubbs/Netflix

TV

Devil in Ohio Review: Isu Kekerasan Anak Dalam Sekte

Serial berlatar sekte namun didominasi topik psikologi remaja dan investigasi kriminal.

★ ★ ★ ★ ★
★ ★ ★ ★ ★

“Devil in Ohio” adalah Limited Series terbaru Netflix pada awal September ini. Serial dengan genre suspense thriller ini mengangkat latar cerita tentang gadis yang kabur dari sekte.

Tidak dieksekusi sebagai sajian horor, membuat “Devil in Ohio” kurang lebih cukup serupa dengan “Under the Banner of Heaven” yang dibintangi oleh Andrew Garfield di Disney+. Jika serial tersebut diangkat dari kasus kriminal nyata, serial karya Daria Polatin ini merupakan cerita fiktif yang diangkat dari novelnya yang Ia tulis juga.

Suzanne Mathis (Emily Deschanel) adalah psikiater yang bekerja di rumah sakit, kerap menangani pasien dengan kondisi mental khusus. Suatu hari, Ia mendapatkan pasien seorang gadis remaja bernama Mae (Madeleine Arthur) dengan dugaan korban kekerasan oleh keluarga. Setelah menemukan fakta bahwa Mae kabur dari sekte, kehidupan Suzanne bersama keluarganya menjadi semakin rumit dan terancam dalam bahaya.

Devil in Ohio

Serial Bertema Sekte yang Lebih Dominan Unsur Psikologi dan Investigasi Kriminal

“Devil in Ohio” memiliki sudut pandang utama dari Suzanne sebagai protagonis, dimana Ia adalah seorang psikiater dengan masa lalu yang bersinggungan dengan kasus Mae. Rumus penokohan seperti ini sebetulnya sudah cukup sering kita temukan. Dimana protagonis merasa terbebani untuk membantu karena trigger masa lalu. Melalui sudut pandang Mae, kita jadi menikmati banyak materi seputar psikologi remaja. Suzanne sendiri memiliki tiga anak perempuan sebelum menjadi wali sementara Mae dan mengajaknya tinggal bersama.

Sama seperti Suzanne, kita akan melihat Mae sebagai gadis misterius. Namun sudah menjadi tugasnya untuk membuka lapisan rahasia untuk memahami Mae agar Ia bisa memberikan bantuan yang tepat. Tak hanya Mae yang akan merasa nyaman, kita sebagai penonton juga bisa melihat Suzanne sebagai sosok yang bisa diandalkan sebagai psikiater.

Ketika Suzanne sibuk memberikan perhatian emosi dan mental pada Mae, Detektif Lopez (Gerardo Celasco) ditugaskan untuk menginvestigasi keluarga Mae yang diduga melakukan kekerasan pada anaknya. Hanya untuk menemukan sekte iblis di Amontown. Pada perspektif inilah kita akan melihat plot investigasi kriminal oleh Detektif Lopez dalam mengungkap keberadaan sekte misterius di Amontown.

Devil in Ohio

Perkembangan Karakter Mae yang Menarik Sekalipun Lambat

Karakter Mae semacam menjadi subjek pertama yang pengenalannya menggunakan narasi subtle. Pada episode pertama, mungkin akan sedikit bikin tidak sabaran karena Mae tidak mau bicara apa-apa, namun ditutup dengan adegan terakhir yang menjadi petunjuk pertama. Sudah cukup jarang Netflix merilis serial/film dengan plot slow burn seperti ini. Buat pengikut setia Netflix Original yan trending, “Devil in Ohio” akan mengajak kita kembali bersabar dan menikmati plot thriller yang berkembang secara bertahap.

Madeleine Arthur berhasil membawakan peran yang menyakinkan sebagai gadis polos yang masih terjebak dalam doktrin sekte. Motivasi dan perasaan Mae yang sesungguhnya akan selalu menjadi misteri bagi kita. Pada setiap akhir episode kita akan selalu menemukan hal baru dari Mae, membuat kita langsung lanjut ke episode berikutnya.

Objektif dalam kisah ini tak hanya sekadar mengungkap jati diri Mae, karakter-karakter lain juga memiliki konflik pribadi. Mulai dari Suzanne yang terlalu sibuk merawat Mae hingga melupakan anak-anaknya. Suami Suzanne yang sedang mengalami kesulitan dalam pekerjaan, hingga Jules, anak tengah yang berusaha menemukan posisi sosial di sekolahnya.

Latar Belakang Sekte yang Kurang Kuat untuk Menyakinkan Penonton

Salah satu kekurangan dari “Devil in Ohio” adalah latar belakang sekte yang presentasinya kurang menyakinkan. Belakangan ini sudah banyak film/serial yang menampilkan sekte dengan sangat kompleks dan mendalam. Hal tersebut dibutuhkan untuk menyakinkan penonton dan membuat kita percaya akan seberapa mengerikannya suatu sekte.

Sekte yang menjadi latar belakang Mae tidak terlalu banyak menunjukan ‘sekte macam apa mereka?’. Level tindakan kriminal mereka juga kurang memberikan urgensi untuk membuat kita yakin bahwa sekte ini salah satu yang berbahaya dan harus segera dihentikan.

Pada akhirnya kita akan mendapatkan jawaban akan sekte dalam cerita dan tradisi macam apa yang mereka jaga. Namun, sifatnya terlalu bersifat supranatural dan berdasarkan doktrin konservatif yang sulit relevan dengan penonton awam seperti kita. Karena kita sudah ‘didoktrin’ duluan dengan fakta psikologi dan investigasi kriminal yang lebih logis pada episode-episode pertama.

Pada akhirnya, “Devil in Ohio” merupakan serial Netflix terbaru yang cukup binge-worthy. Dibandingkan dengan limited series Netflix belakangan serupa (dengan creator hingga deretan aktor yang belum populer), serial ini tidak mengandung kelemahan yang biasanya identik dengan kegagalan.

Tidak ada karakter yang terlalu annoying, keputusan-keputusan yang dibuat juga tidak bodoh. Buat yang tak keberatan dengan plot slow burn dan tema sekte dalam genre thriller suspense, patut menonton “Devil in Ohio”.

House of the Dragon (Episode 6) House of the Dragon (Episode 6)

House of the Dragon (Episode 6) Review: The Princess and the Queen

TV

Cyberpunk: Edgerunners Cyberpunk: Edgerunners

Cyberpunk: Edgerunners Review – Kebrutalan Menawan Petualangan David Martinez di Night City

TV

House of the Dragon (Episode 5) Review House of the Dragon (Episode 5) Review

House of the Dragon (Episode 5) Review: We Light the Way

TV

Do Revenge Do Revenge

Do Revenge Review: Balas Dendam Remaja Ala Mean Girls Versi GenZ

Film

Connect