Connect with us
Day Shift
Netflix

Film

Day Shift Review: Petualangan Brutal Pemburu Vampir di Los Angeles

Akhirnya ada juga Netflix Original laga vampir yang menghibur. 

★ ★ ★ ★ ★
★ ★ ★ ★ ★

Netflix merilis banyak film laga setiap bulannya, namun berapa banyak yang benar-benar berkesan bagi kita? Bahkan project sebesar “The Gray Man” sudah terlupakan setelah trending di masa promosi.

Baru-baru ini ada lagi film laga baru Netflix yang cukup trending yaitu, “Day Shift”. Berlatar di Los Angeles dengan plot petualangan pemburu vampir di era modern. Dibintangi oleh Jamie Foxx, Dave Franco, Snoop Dogg, dan Karla Souza. Tema laga vampir seperti ini sebelumnya juga sudah diangkat oleh Netflix Original, “Night Teeth” (2021). Dimana deretan cast utamanya tidak terlalu populer (ada Megan Fox dan Alfie Allen dengan screentime minim) dan budget aksinya juga cukup seret. .

Namun, lineup aktor yang populer bukan jaminan film laga berhasil, terutama di skena Netflix. Seperti “The Man from Toronto” yang rilis Juni lalu, dibintangi oleh Kevin Hart dan Woody Harrelson. Netflix Original kerap memiliki kekurangan yang mempengaruhi separuh dari nilai film secara keseluruhan. Kebanyakan film-film laga ini hanya fokus pada ledakan dan sekuen aksi, namun kualitas ceritanya nol. Apakah Netflix mengulang kesalahan kembali dengan “Day Shift”?

Day Shift

Seorang Ayah Penyayang yang Mencari Nafkah sebagai Pemburu Vampir

Bud Jablonski (Jamie Foxx) adalah pemburu vampir di LA. Namun Ia menyembunyikan profesi aslinya dari mantan istri dan anak perempuannya yang Ia sayangi. Ketika memiliki masalah finansial mendesak dan terancam kehilangan keluarganya, Bud memutuskan kembali ke Union, memohon untuk menjadi pemburu vampir profesional lagi setelah dipecat karena record kerja yang buruk. Tak memiliki banyak pilihan, Bud harus pasrah mendapatkan shift pagi dan rekan baru untuk mengawasi setiap aksinya, Seth (Dave Franco).

“Day Shift” mungkin memiliki premis yang biasa, namun presentasinya cukup berkualitas sebagai tontonan yang tidak melelahkan dan membuat penonton bingung. Protagonis memiliki objektif jelas, ada urgensi, dan plot sebagai media brutal-brutalan.

Film ini juga memiliki adegan prolog yang to the point dan berhasil menimbulkan ekspektasi untuk penonton lanjut menonton. Terutama bagi penonton yang menyukai film laga dan sudah siap untuk menyaksikan pertarungan dengan vampir yang dinamis.

Day Shift

Sekuen Laga yang Bukan Main Brutal dan Sadis

Elemen laga dengan sekuen bertarung antara pemburu dan vampir menjadi adegan terbaik dalam “Day Shift”. Meski terasa cukup repetitif skenarionya, ada variasi situasi, lawan, hingga eksekusi koreografi bertarung. Ada pertarungan yang berskala kecil, ada juga pertarungan dengan skala besar yang double brutalnya.

Desain vampir dalam wujud monster di film ini tampak seperti perpaduan antara vampir dan zombie. Terlihat cukup mengeringkan dan berhasil memberikan ketegangan karena terlihat buas dan agresif. Bersiap menyaksikan kesadisan dengan baku tembak hingga eksekusi pedang yang tidak main-main brutalnya.

Dengan plot dan objektif yang terbilang sederhana, terlihat jelas bahwa penulis naskah dan sutradara sekalipun lebih semangat merangkai tiap adegan bertarung daripada menulis cerita yang kompleks. Namun tetap ada adegan-adegan penanda yang cukup ikonik dan monumental untuk menutup kisah dengan berkesan.

Cerita Standar dan Plot Hole yang Sayang Sekali Kurang Dieksplorasi

Selain plot yang standar, ada beberapa plot hole yang tidak jelas logika filmnya. “Day Shift” tidak terlalu jelas dalam menentukan aturan main sejak awal, memang lebih fokus pada adegan laga dan seru-seruan saja. Tidak terlalu dideskripsikan bagaimana membunuh vampir hingga tuntas. Mengapa satu vampir terlihat dari vampir lainnya. Ada vampir yang bisa bebas berkeliaran di pagi hari, namun ada juga vampir yang memilih untuk bersembunyi. Karakteristik vampir dalam “Day Shift” bisa dibilang kurang kuat untuk diingat, padahal presentasi dalam segi visualnya sudah bagus.

Tak hanya isu karakteristik vampir, lembaga pemburu vampir, Union juga kurang dieksplorasi. Padahal sudah terlihat cukup menarik dimana ada semacam institusi rahasia di LA yang memburu vampir dengan prosedur dan aturan. Tak hanya berburu secara babar, ada prosedur dan kode etik. Kemudian ada berbagai jenis pekerja, mulai dari manager, akuntan, dan pekerja lapangan. Jika kedua aspek ini diperkuat, harusnya “Day Shift” bisa menjadi franchise laga vampir terbaru yang ikonik di Netflix.

Ditengah-tengah kegagalan demi kegagalan film laga di Netflix, “Day Shift” setidaknya cukup berhasil menyuguhkan cerita dengan premis, plot, dan objektif jelas. Hanya kurang di pengembangan semesta fiksinya, namun tetap menghibur dengan sedikit humor dan sekuen pertarungan vampir yang brutal dan sadis.

Big Night! Big Night!

Big Night! Review: Tragicomedy yang Merekam Realitas Sosial Kaum Miskin Filipina

Film

Apakah James Bond Harus Selalu Kulit Putih?

Culture

avatar remastered 2022 avatar remastered 2022

Avatar Review: Masih Relevan untuk Penonton Masa Kini

Film

Cyberpunk: Edgerunners Cyberpunk: Edgerunners

Cyberpunk: Edgerunners Review – Kebrutalan Menawan Petualangan David Martinez di Night City

TV

Connect