Film

The Gray Man Review: Aksi Ryan Gosling sebagai Pembunuh Bayaran CIA

Visual laga yang megah, namun format cerita sudah tidak asing lagi.

“The Gray Man” (2022) merupakan Netflix Original Movie terbaru yang sudah trending sejak Juni awal lalu. Film laga ini disutradarai oleh Anthony dan Joe Russo, dua bersaudara dibalik film-film Marvel Cinematic Universe (MCU).

Bertabur bintang Hollywood, film ini dibintangi oleh Ryan Gosling, Chris Evans, Ana de Armas, Billy Bob Thornton, Rege-Jean Page. “The Gray Man” terus menuai perhatian selama masa promosinya. Dengan budget filmnya yang mencapai 200 juta USD (Rp 3 triliun) dan latar syuting di berbagai negara. Film ini memiliki banyak aspek yang menimbulkan ekspektasi besar bagi penonton Netflix.

Sierra Six adalah mantan narapidana yang direkrut oleh CIA sebagai pembunuh bayaran. Hingga suatu hari, mengetahui rahasia gelap CIA yang memanfaatkan orang sepertinya. Dibantu oleh Miranda, Six melarikan diri melintasi berbagai negara setelah menjadi buronan CIA dan Lloyd Hansen, kriminal sociopath yang sadis.

The Gray Man

Film Laga yang Megah dan Mahal secara Visual

Setiap frame dalam “The Gray Man” memang memperlihatkan betapa mahalnya film laga Netflix kali ini. Melihat banyaknya film laga di streaming platform ini yang lebih sering flop. Adegan pembuka di club pesta yang warna-warni dan riuh menjadi pembuka yang semarak.

Ada banyak adegan aksi dalam skala besar yang disajikan dalam film ini. Selalu ada aksi kucing-kucingan antara Six dan pasukan yang dikirim oleh Lloyd Hansen. Mulai dari duel ekstrem di udara, ledakan di pemukiman penduduk, hingga aksi tembak-tembakan di bangunan bersejarah yang megah.

Sinematografi dan camera work yang diterapkan juga sangat dinamis. Akan lebih seru jika ditonton di layar lebar, minimal dengan televisi. Namun, dalam film berdurasi dua jam dengan lokasi sekitar tujuh negara, transisi terasa cukup cepat. Dimana plotnya sebetulnya seputar Six yang pindah dai satu negara ke negara lain. Terus berhasil meloloskan diri dari kejaran Lloyd Hansen.

The Gray Man

Format Cerita Pembunuh Bayaran yang Sudah Tidak Asing Lagi

“The Gray Man” merupakan film laga yang diadaptasi dari novel karya Mark Greaney. Russo bersaudara sempat mengungkapkan dalam press, bahwa “The Gray Man” memiliki latar dan konsep cerita yang lebih kekinian. Berbeda dengan James Bond (yang juga diangkat dari novel) dengan konsep cerita yang lebih serius dan old school.

Meskipun dikemas dengan semesta yang lebih modern, nyatanya “The Gray Man” memiliki format cerita yang diadaptasi dari banyak karya bertema pembunuh bayaran atau agen rahasia yang sudah pernah ada.

Mulai dari konflik utama, dimana agensi yang menyimpan rahasia gelap dari agennya sendiri. Konflik tersebut sudah sering kita temukan dalam film-film serupa, bukan? Kemudian karakter antagonis yang tampil sebagai psikopat sadis. Sayangnya, penokohan Lloyd Hansen tidak mengintimidasi penonton. Setiap karakter hanya menyebutkan bahwa dia sociopath, impulsif, dan sebagainya. Lalu penonton hanya disuruh percaya pada klaim tersebut.

Penulis naskah lupa mempresentasikan kekejaman karakter antagonis ini dalam adegan aksi yang memikat sekaligus mengerikan. Ada beberapa adegan yang menunjukan bahwa Hansen kejam dan suka menyiksa korbannya, namun terasa dangkal.

The Gray Man

Kemudian ada karakter gadis bernama Claire Fitzroy sebagai objek sandera. Kelemahan dan karakter yang dihadirkan untuk menunjukan sisi manusia protagonis. Elemen ini juga sudah sering kita temukan dalam film laga serupa. Dengan banyaknya elemen lama yang ditemukan dalam film ini, plot jadi mudah ditebak dan kehilangan sentuhan suspense yang seharusnya dirasakan oleh penonton.

Tidak Memiliki Potensi untuk Menjadi Franchise Laga Besar

Sudah bukan rahasia lagi bahwa Netflix sedang mengalami krisis penurunan jumlah subscriber. Tak diam saja, netflix juga tampak terus berusaha memproduksi konten orisinal terbaru untuk mempertahankan dan menggaet subscriber baru.

“The Gray Man” merupakan salah satu proyek dengan budget besar yang seharusnya bisa dimaksimalkan. Namun sekali lagi, Netflix belum mematahkan pandangan kita akan proyek laga yang dieksekusi oleh platform ini.

“The Gray Man” memiliki potensi untuk menjadi franchise seperti ‘John Wick’, ‘Mission Impossible’, atau James Bond-nya Netflix. Sayangnya kesempatan ini tidak dimaksimalkan dengan penulisan cerita yang memikat dan memiliki ciri khasnya sendiri.

Netflix harus sadar bahwa terkadang semuanya tidak melulu soal budget besar, nama-nama besar, atau kuantitas konten. Semuanya selalu bergantung pada kualitas dari konten yang disajikan.

Konsep visual dan produksi film ini boleh unggul. Sangat terlihat kemana saja budget dialokasikan (termasuk untuk aktor papan atas). Namun, cerita bukan kekuatan utama “The Gray Man”. Bagi penggemar film laga dengan visual yang menggelegar, “The Gray Man” mungkin bisa jadi tontonan yang cukup menghibur.

Bernadetta Yucki

Writer, hardcore movie enthusiast who believes in pop culture.

Share
Published by
Bernadetta Yucki